TERNYATA IBUKU TAK JADI UMROH,JADI KE MANA U4NG YANG SELAMA INI AKU KIRIMKAN?(2)
“Bu! Ibu!”
Aku mencari keberadaan Ibu. Namun, senyap. Tak ada yang menjawab. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar jelas.
“Mbak! Mbak Nita!”
“Cepetnya kamu nganter kue, Yun?”
“Iya, Mbak. Udah beres.”
“Emang gak dikasih minum dulu sama Bude.”
“Enggak, Mbak. Aku tadi buru-buru pulang.”
“Ooo gitu.”
“Eh, Ibu habis ngapain dari ka mar Mbak Nita?”
“Ini, tadi Mbak minta Ibu kerikin, masuk angin.”
Ibu tak menjawab, tetapi Mbak Yunitalah yang menjawab. Jawabannya terlalu cepat, seolah menutupi sebuah kebohongan.
“Tukang-tukang yang tadi ramai, kok pada gak ada, Mbak?”
“Oh itu, mereka setengah hari aja, ngelarin sisaan.”
“Oh kirain dipulangin karena mau ada pengajian. Memangnya jam berapa acaranya?”
“Oh itu, sini dulu duduk.”
Mbak Yunita menarikku dengan senyum yang terukir di wajahnya. Senyumnya tampak dipaksakan, ada getar gugup di ujung bibirnya. Dia mengajakku duduk pada sofa yang ada. Aku menurut saja dan menjatuhkan tub uh pada sofa berbentuk L berwarna abu-abu ini. Lembut dan empuk, terasa seperti sofa mahal.
“Sebenarnya, umroh Ibu diundur.”
Deg!
Seperti ada benturan keras di dalam d*da.
“Diundur?”
“Iya, dari travelnya jadwalnya berubah.”
“Loh, kok bisa?”
“Ya, mana Mbak tahu. Kemarin itu ngedadak banget, travelnya nelpon.”
“Travelnya apa sih, Mbak? Biar aku samperin. Gak bisa gini, dong.”
“Hush, gak enak, jangan kamu labr ak. Travelnya kenalannya Mas kamu.”
“Mbak, aku dikasih cu ti gak banyak. Kemarin Mbak bilang tanggalnya sekarang.”
“Ya sudah, Mbak. Aku rehat dulu. Ka mar Ibu yang mana?”
“Itu di belakang!”
Dia menunjuk ke arah ka mar paling ujung, mepet dengan dapur. Aku lekas ke sana dan menarik lengan Ibu.
“Bu, biar aja Yunda rehat. Kasihan dia. Ibu bisa bantuin lipetin baju Mina dulu, gak?”
Mbak Yunita tampak masih berusaha memisahkanku dari Ibu. Suaranya dibuat tenang, tapi aku bisa merasakan tekanan di balik kalimatnya.
Ibu tak menjawab, tetapi aku yang menyela.
“Mbak, Mina sudah besar. Tadi kata tukang malah sudah mau tunangan. Harusnya Mbak ajarin lah ngelipet baju sendiri, masa harus Ibu?”
Wajah Mbak Yunita terlihat terkejut. Bibirnya bergetar, matanya berkedip cepat, jelas ia tidak siap dengan kalimat itu.
“Emangnya Mina mau tunangan sama siapa, Mbak? Orang sini juga?”
Sekalian saja aku kepo. Namun, Mbak Yunita malah salah tingkah.
“Eng---Enggak, kok. Itu gossip aja. Baru juga lulus SMA, Mina mau kerja dulu di kota.”
Aku mencebik, setengah tak percaya. Namun, aku masih ada urusan yang lebih penting sekarang, mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada rencana umroh Ibu. Lekas aku menggandeng lengan Ibu menuju ka mar.
Aku terpegun ketika masuk. Rupanya Ibu hanya tidur di sehelai kasur kapuk yang dulu dibawa dari rum ah peninggalan Bapak sebelum dijual, sudah usang, lepek dan tampak tak nyaman. Padahal aku sudah minta Mbak Yunita membelikan Ibu spring bed yang empuk, lemari yang kokoh. Namun apa ini? Lemari plastik juga bekas Mina sepertinya, karena banyak stiker hello kitty di sana-sini. Mbak Yunita bener-bener keterlaluan.
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. Pemandangan itu seperti tam paran keras. Ru mah mewah dengan sofa mahal di ruang depan, tapi Ibu diperlakukan seperti tamu tak diinginkan di sudut dapur.
Aku menarik napas ka sar, lalu memilih duduk di lantai sambil menarik koperku, perlahan direbahkan. Ada banyak oleh-oleh yang kubawa. Suara resleting koper yang terbuka terdengar nyaring di ruang sempit itu.
“Ibu … aku mau tanya. Sebenarnya Mbak Nita itu ada daftarin Ibu umroh gak, sih?”
“Kurang tahu, Nduk. Tanya Mbak mu saja. Ibu takut salah jawab.”
“Ck, gini, deh. Ibu apa sudah dibuatin passport? Coba sini lihat.”
Judul : TERNYATA IBUKU TAK JADI UMROH
Author : Evie Yuzuma
Selengkapnya baca ini di kbmapp
Pengalaman saya pribadi berkaitan dengan penundaan umroh dan pengelolaan uang kiriman keluarga memang bukan hal yang mudah dihadapi. Kadang, kita sebagai anak merasa telah berusaha sebaik mungkin untuk membantu orang tua dengan cara mengirimkan uang sebagai tabungan atau persiapan perjalanan suci tersebut. Namun, tidak sedikit juga yang kemudian menghadapi situasi di mana rencana tersebut gagal berlangsung, entah karena masalah biro travel, kondisi kesehatan, atau kendala lain. Saya pernah mengalami hal serupa, di mana ibuku berencana umroh namun akhirnya harus menunda keberangkatannya karena travel resmi perubahan jadwal yang mendadak. Kecewa sudah pasti, terutama mengingat persiapan matang dan pengorbanan biaya yang telah dilakukan. Yang membuat hati semakin berat adalah kebingungan akan penggunaan uang yang telah saya kirim selama ini. Apakah benar-benar digunakan untuk biaya umroh atau malah beralih kebutuhan lain yang mungkin tidak disampaikan kepada saya. Dari pengalaman itu, saya belajar pentingnya komunikasi yang terbuka dan transparan antara anggota keluarga, terutama anak-anak yang berkewajiban membantu dan orang tua sebagai penerima bantuan. Memastikan semua informasi terkait proses pendaftaran, pembiayaan, dan persiapan keberangkatan umroh harus jelas agar memberikan kepastian dan menghindari prasangka buruk. Selain itu, juga perlu edukasi tentang bagaimana memilih travel umroh yang terpercaya dan mematuhi prosedur resmi untuk meminimalisir risiko seperti penundaan atau penipuan. Mengenai kondisi rumah yang semacam paradoks, yaitu rumah dengan fasilitas mewah sementara perlakuan terhadap orang tua kurang layak, ini juga menjadi perhatian saya. Hal ini sering terjadi di banyak keluarga, bukan karena niat buruk, tapi mungkin kurangnya perhatian atau kesibukan anggota keluarga lain. Saya yakin, untuk bisa menjaga keharmonisan dan kesejahteraan bersama, perhatian terhadap orang tua harus diutamakan, baik dari sisi fisik maupun emosional. Bagi teman-teman yang mengalami situasi serupa, saya sarankan agar jangan ragu untuk bertanya dan mencari tahu secara langsung mengenai setiap proses yang berkaitan dengan orang tua. Kadang, keterbukaan dan komunikasi membantu menghindari kesalahpahaman besar yang malah berdampak pada hubungan keluarga. Semoga cerita ini dapat menjadi pelajaran dan tambahan inspirasi bagaimana kita bisa lebih bijaksana mengelola harapan, bantuan, dan kasih sayang untuk keluarga terutama bagi orang tua yang kita cintai.

