Mukena sutra putih itu Zhafiqa lipat. Gerakannya sengaja dibuat lambat, sangat lambat, seolah ia sedang membeli waktu dari malaikat m a u t.
Di belakangnya, Haris masih duduk tegak di atas sajadah. Jemarinya yang k e k ar memutar tasbih kayu kokka, b i bi r nya komat-kamit melafalkan dzikir penutup Isya. Suara gumaman Haris yang rendah dan berirama itu seharusnya menjadi simfoni penenang bagi jiwa Zhafiqa. Tapi malam ini, setiap getaran suara itu terdengar seperti detak jam b o m waktu yang siap m e l e d a k kan hidupnya.
“Fiq...”
Panggilan itu lembut, selembut b u l u, namun seketika membuat seluruh saraf di punggung Zhafiqa menegang. Ia berbalik, me ma k sa kan seulas senyum tipis, menyembunyikan kedua tangannya yang sedari tadi ter k e p a l dan sedingin bongkahan es di balik lipatan mukena.
"Iya, Mas?"
Haris meletakkan tasbihnya. Matanya yang gelap menatap Zhafiqa, memancarkan ke h a n g a ta n yang meredup, ta ta p an seorang suami yang merindukan, sebuah t a ta pan yang menuntut h a k. Zhafiqa tahu persis arti t a t a pan itu. Itu adalah h a k wajib yang seharusnya ia sambut dengan suka cita dan p a ha l a besar.
Tapi malam ini, bayangan hasil lab dengan huruf kapital H I V itu menjelma menjadi tembok baja setinggi langit di antara mereka.
Zhafiqa mendekat dengan langkah yang terasa memanggul b e b a n seribu kilo. Begitu ia duduk, Haris tanpa basa-basi meraih tangannya, m e n c i u m jemarinya satu per satu, penuh pemujaan.
“Kamu wangi banget malam ini. Pakai parfum yang aku belikan dari Dubai itu ya?” bisik Haris. Suaranya serak, b e ra t, menjanjikan ke n i k ma tan yang men d e b ar kan. Ia menggeser duduknya, merapatkan t u b u h, hingga lengan k e k ar nya yang be r o t o t men y e n t u h bahu Zhafiqa. Jemari Haris mulai bergerak l i a r, ber m a i n di ujung jilbab instan Zhafiqa, siap menyibaknya.
Jantung Zhafiqa ber p a cu, me m u k u l rusuknya seperti genderang p e r a n g. Jangan sekarang. Ya Allah, jangan sekarang! Aku bisa m e n u l ari suamiku. Atau... jika dia memang sumber dari n e r a k a hidupku, aku ber s u mp a h tidak su di di se n tu h oleh pe ng k hi a na t.
“Mas...” Zhafiqa menahan tangan Aris. N a p a s nya tercekat, seperti ada tangan tak kasat mata yang m e n c e k i k kerongkongannya.
Haris berhenti. Wajahnya mendekat, hidungnya nyaris ber s e n t u h an dengan p i p i Zhafiqa. "Kenapa, S a y ang? A n ak-a na k lagi nggak di rumah. Kita bebas kan?” Suaranya kini penuh harap, bahkan sedikit memohon.
Zhafiqa m e m e jam kan mata kuat-kuat. Ia m e r e m a s pelipisnya, m e n d e s a h pelan, mengerahkan seluruh sisa t e n a ga untuk berakting demi menyelamatkan sisa ke w a rasannya.
“A d u h...” rintih Zhafiqa, suaranya dibuat s e m e la s mungkin.
Haris seketika m e na rik wajahnya. G a i r a h di matanya lenyap tanpa bekas dalam sekejap,berganti dengan sorot kecemasan murni yang men g h a n t a m ulu hati Zhafiqa. "Kenapa? S a k it?”
"Kepalaku, Mas... Tiba-tiba nyut-nyutan banget. Kayak dit u s u k -t u s u k dari dalam," dusta Zhafiqa, membenamkan wajahnya di antara kedua tangan. "Maaf ya, Mas. Rasanya nggak k u a t banget."
Zhafiqa menunggu. Ia menunggu helaan n a p as kecewa. Ia menunggu s i n di ran halus. Ia menunggu punggung yang membalik membelakanginya, seperti suami-suami lain yang g a i r a h nya di p a t a h kan tiba-tiba. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
"Astaghfirullah..." Haris bergegas bangkit, wajahnya memucat. "Tunggu sebentar, jangan gerak."
Pria itu berlari kecil keluar kamar. Tak sampai dua menit, ia sudah kembali membawa segelas air h a n ga t dan satu strip paracetamol. Wajahnya panik,seolah Zhafiqa bukan sekadar s a k it kepala, tapi baru saja terkena s e r a ng an yang ber b a h a ya.
"Minum dulu, S a ya ng. Pelan-pelan," Haris membantu Zhafiqa meminum o b a t itu, memegangi gelasnya dengan telaten. Setelaten ia memimpin rapat dewan direksi.
Ending di KBM
Judul H I V Dari Suamiku yang Alim
Penulis Rodiahu Anha






































