"Di meja makan, Laras hanya bisa menatap suami dan mantan yang tampak begitu akrab."
BAB 2
bertahan hidup di tengah orang-orang yang menganggapnya tidak pernah ada.
Meja makan kayu jati yang panjang itu kini menjadi saksi bisu betapa kontrasnya kehidupan di ru mah tersebut. Di satu sisi, ada tawa renyah Sarah yang sedang menceritakan hobi baru Rendy di klub mene mbak, ditimpali dengan antusiasme Ibu Widya. Mereka terlihat seperti keluarga harmonis yang sempurna.
Rendy duduk di kepala meja. Ia tampak begitu menikmati smoothie buatan Sarah. Sesekali ia merespons ucapan Sarah dengan anggukan atau senyum tipis—sesuatu yang sama sekali tidak ia berikan pada Laras sejak kemarin.
Namun, di sisi lain, Laras duduk membeku. Ia hanya menunduk, menatap piringnya yang berisi nasi goreng sehat ala Sarah. Ia merasa seperti pengamat asing yang masuk tanpa izin ke dalam adegan film orang lain.
Rendy sesekali melirik ke arah Laras. Ia melihat istrinya itu hanya mengaduk-aduk nasi tanpa menyuapnya. Ada secercah rasa tidak nyaman di benak Rendy melihat wajah pucat Laras, namun gengsi dan rasa kecewanya atas perjodohan ini segera menutupinya. Ia kembali memalingkan wajah, lebih memilih menanggapi candaan Sarah.
"Oh iya, Tante," Sarah memulai, suaranya terdengar sengaja dikeraskan. "Rendy minggu depan ada acara gala dinner di Polda, kan? Aku sudah siapkan jas yang senada dengan gaun yang baru kubeli kemarin."
Ibu Widya bertepuk tangan kecil. "Nah, itu dia! Rendy memang butuh pendamping yang mengerti protokol dan kelas seperti kamu, Sar."
Laras meremas sendoknya. Ia adalah istri sah Rendy, namun di meja ini, keberadaannya benar-benar dianggap transparan.
Tiba-tiba, Ibu Widya menoleh pada Laras dengan tatapan yang langsung berubah ta jam. "Laras, kamu dengar itu?"
Laras tersentak, hampir menjatuhkan sendoknya. "I-iya, Ma?"
"Mulai besok, kamu jangan cuma diam seperti patung. Kamu harus mulai belajar dari Sarah. Belajar cara bicara, cara dandan, sampai cara menyiapkan kebutuhan Rendy," ucap Ibu Widya tanpa beban.
Laras tertegun. "Belajar... dari Mbak Sarah, Ma?"
"Iya! Memangnya siapa lagi?" ketus Ibu Widya. "Sarah ini lulusan luar negeri, seleranya tinggi. Rendy itu pejabat kepolisian, dia butuh istri yang bisa mengangkat martabatnya, bukan ga dis yang cuma tahu cara masak sayur lodeh. Tidak masuk akal kalau kamu terus-terusan polos begini. Kamu harus bisa jadi seperti Sarah kalau mau dianggap di keluarga ini."
Laras menelan ludah. Permintaan itu terasa begitu g ila. Ia diminta belajar menjadi wanita lain belajar dari wanita yang merupakan mantan kekasih suaminya sendiri. Logikanya berontak, namun lidahnya kelu.
Laras memberanikan diri melirik Rendy, berharap pria itu akan membela atau setidaknya mengatakan sesuatu untuk menengahi. Namun, Rendy justru hanya sibuk mengelap bibirnya dengan tisu, lalu bangkit berdiri seolah tidak mendengar h inaan ibunya pada istrinya.
"Saya berangkat sekarang," ucap Rendy singkat.
"Rendy, tunggu! Aku bareng ya, mobilku mau masuk bengkel hari ini," sahut Sarah dengan nada manja yang dibuat-buat.
"Ayo," jawab Rendy datar, tanpa menoleh sedikit pun pada Laras yang masih terduduk lemas.
Mereka berdua berjalan keluar, diikuti Ibu Widya yang mengantar sampai depan pintu dengan penuh kasih sayang. Laras diting gal sendirian di meja makan yang penuh sisa-sisa kebahagiaan orang lain.
Nasi goreng di depannya sudah mendingin. Laras menyuap satu sendok kecil, namun rasanya sangat pahit—bukan karena bumbunya, tapi karena air mata yang diam-diam jatuh dan bercampur di sana.
Judul: Menantu Pilihan Kakek
Penulis: Febri Tampubolon



















