🌹🌹🌹
Part 1 Kilat Balik Di Balik Kemudi
Ciiiitttttttttttt!!
Suara decitan ban yang memekakkan telinga merobek keheningan badai. Mobil mereka melintir, berputar seperti gasing di atas aspal yang licin.
Bau karet terbak ar menyeruak masuk melalui ventilasi. Saat mobil akhirnya berhenti hanya beberapa sentimeter dari bak truk besar, Galih terengah-engah. Oksigen seolah menghilang dari udara.
"Puas, Mas? Kamu mau kita ma ti?" bisik Galih, suaranya hilang ditelan gemuruh hujan.
Satrio menatap lurus ke depan. Matanya kosong, namun tangannya mencengkeram lengan Galih dengan kekuatan yang menya kitkan.
"Ma ti? Ya, mungkin itu solusinya. Kalau aku tidak bisa memilikimu sepenuhnya, maka tidak boleh ada orang lain yang memilikimu! Erlangga tidak akan pernah mendapatkanmu kembali!"
"Mas Satrio, apa yang kamu lakukan?! Lepas setirnya! Mas!"
Tangan Satrio mendadak menyambar kemudi. Dengan satu sentakan gi la, ia memutar setir ke arah kanan—menuju tembok pembatas jalan beton yang kokoh.
"Kita ma ti saja sekalian, Galih! Ayo kita ma ti bersama!"
"MAS, LEPAS! ADA PEMBATAS JALAN! MAS SATRIO—!!!"
BRAAAKKK!!!
Dunia meled ak dalam serpihan kaca dan benturan logam.
Dua Jam Kemudian – RS Medika
"Galih! Mana Satrio?!"
"Ayah... Ayah Hendarso..." Galih berdiri dengan lutut yang gemetar.
"Apa yang kamu lakukan pada an akku, Galih?! Kenapa Satrio bisa sampai seperti ini?!"
Hendarso mencengk eram bahu Galih, mengguncangnya tanpa ampun.
"Ayah, tadi di jalan tol... Mas Satrio tiba-tiba menarik setir. Dia ma rah..."
"Bohong!" Hendarso meludah ke lantai. "An akku tidak mungkin g ila sampai membahayakan nyawanya sendiri! Kamu yang menyetir, kan? Kamu yang sengaja karena ingin bebas dari Satrio, iya kan?!"
"Pak Hendarso, cukup! Kakak saya juga terlu ka!" Galuh, adik kandung Galih, muncul dan mencoba menarik tangan mertua kakaknya itu.
"Diam kamu, Galuh! Jangan membela kakakmu yang tidak becus ini! A nak saya sedang bertaruh nyawa di dalam sana karena kelalaian kakakmu ini!" bentak Hendarso kalap.
"Ayah, aku berani bersumpah, Mas Satrio yang—"
"Tutup mulutmu! Satrio bilang padaku kalau kamu sudah tidak betah di ru mah. Kamu yang membawa si al ke hidupnya!"
Pintu ruang operasi terbuka. Seorang pria dengan gaun bedah hijau keluar, wajahnya kuyu.
"Keluarga Pak Satrio?"
"Saya ayahnya, Dok! Bagaimana keadaan anak saya?!"
Dokter itu menghela napas panjang, menatap Galih dan Hendarso bergantian.
"Operasinya berjalan lancar, kami berhasil menyelamatkan nyawanya. Tapi..."
"Tapi apa, Dok? Katakan!"
"Tungkai paha kanan Pak Satrio mengalami kerusakan saraf permanen akibat terjepit kerangka mobil.
Tulangnya hancur terlalu parah. Pak Satrio... kemungkinan besar akan lumpuh permanen di bagian bawah."
Dunia Galih seolah runtuh. Kalimat itu bergema di kepalanya layaknya vonis ma ti.
Lumpuh.
"Dengar, Galih! Kamu dengar itu?!" Hendarso menunjuk wajah Galih dengan jari yang gemetar.
"Satrio cacat karena kamu! Mulai detik ini, kamu punya hutang raga pada an akku. Kamu harus melayaninya sampai ma ti sebagai penebus dosamu!"
Galih hanya bisa menunduk, air matanya jatuh ke lantai rum ah sa kit yang dingin.
"Jawab, Galih! Kamu mau lari?!"
"Tidak, Ayah. Aku... aku akan merawat Mas Satrio. Aku janji."
Satrio menatapnya dengan senyum yang membuat bulu kuduk Galih berdiri. Senyum seorang pemenang yang baru saja kehilangan segalanya.
"Tentu saja kamu tidak akan ke mana-mana. Kamu harus di sini, melihat penderitaanku setiap hari! Kamu adalah penjara bagiku, dan sekarang, aku adalah penjara bagimu!"
Judul: Milik Sang Penguasa
Penulis: Anyelir Sarimbit
Cerita lengkapnya hanya di KBM AAP

























