Semua orang mencemo ohku, mengira suamiku hanya k uli pasar biasa yang kab ur sebulan yang lalu. Saat dia kembali, mereka semua ternganga karena ternyata...

***

Spoiler bab premium

***

"Nis! Cepat sedikit, itu bawangnya mau digoreng! Nasi kuning di depan sudah mau lud es!" ben tak Ibu tiri.

"Kenapa harus Ninis lagi sih, Bu? Ninis kan sudah ba yar semua bia ya acara ini. Ninis bantu uan g, bukan te naga buat jadi kac ung dapur!"

Ibu berkac ak pin ggang, bi birnya yang dipulas gincu mu rah mencibir s inis. "Salah kamu sendiri! Ngasih ua ngnya tanggung-tanggung, nggak cukup buat ba yar jasa katering. Sudah, buruan! Jangan banyak protes, atau tamu di depan makan nasi ham bar!"

Aku meng g e rtakan gi gi.

Kalau saja bukan orang tua, sudah kulem parkan dua kilo bawang merah ini tepat ke waj ah nya yang tak tahu terima kasih itu.

Aku yang membi a yai pernikahan ana knya, tapi aku pula yang diperlakukan seperti pela y an.

Br ak!

Tiba-tiba, pintu dapur terban ting terbuka. Wati masuk dengan napas memburu dan wa jah pu cat pa si.

"Nis! Ninis! Suami kamu datang, Nis!" teri aknya histe ris.

Deg.

Jan tungku serasa melo mpat ke tengg orokan.

Nyaris saja pisa u b aja kara tan di ta nganku menyayat jem polku sendiri.

"Yang benar kamu, Wat? Jangan bercanda, ini nggak lucu."

"Sum pah, Nis! Demi apa pun! Ayo keluar sekarang! Dia... dia naik mobil mewah, Nis! Gede banget!"

Wati mena rik leng anku pa ksa. Tanpa pikir panjang, aku lem par pi sau itu ke talenan.

Perset an dengan bawang, perseta n dengan nasi kuning Ibu.

Begitu sampai di depan, langkahku mendadak terkunci.

Sebuah SUV hitam legam yang nampak sangat mahal terparkir gagah, membelah kerumunan layaknya kapal per ang.

Dan di sana, di samping kendaraan mewah itu, berdirilah dia. Pria itu berdiri tegak dengan wibawa yang membuat udara di sekitarnya terasa be ku.

"Mas... Elang?"

Benarkah pria di depanku ini adalah Mas Elang? Pria yang selama sebulan terakhir kusebut suami dalam doa-doa di tengah sujudku, namun sosoknya seolah ra ib di tel an bumi tanpa kabar?

Kep ala ku mendadak miring. Pria ini... sungguh asing. Di mana k uli pang gul dengan ka us dalam lus uh yang menikahiku karena terpak sa satu bulan yang lalu? Di mana aroma pel uh dan de bu pasar yang selalu mene mpel di ku lit nya?

Ra mbut nya yang dulu gondrong beran takan kini dicuk ur presisi, menampilkan garis rah ang yang ke ras dan te gas.

Dan pakaiannya... Tuhan, seragam itu. Kain berwarna cokelat gelap itu melekat sempurna di tubu h tegapnya. Tiga balok e mas di ba hu nya berkilau, mema n tulkan cahaya yang menyilaukan m ata.

"Maaf, Dek. Mas terla m bat."

"M-Mas..." lid ahku k e lu.

***Bersambung***

Seru kan? Kisah lengkap Ninis dan Elang ada di KBM app.

Judul : Di tik u ng Adik Tiri Dinikahi komandan Pasar

Penulis : Denaira

Komen kalau mau lanjut!

#KBM

#Novel

#Denaira

2/25 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman membaca kisah Ninis ini benar-benar mengingatkan saya pada bagaimana seseorang bisa mendapatkan perubahan besar dalam hidupnya, terutama melalui keuletan dan kesabaran. Ninis, yang awalnya dipandang sebelah mata sebagai kuli pasar biasa, justru mendapatkan kejutan besar saat suaminya kembali setelah satu bulan hilang. Transformasi suaminya yang menjadi sosok komandan pasar dengan seragam yang gagah dan sikap berwibawa membuktikan bahwa penampilan dan status seseorang bisa berubah drastis, meskipun latar belakangnya sama. Saya pernah mengalami situasi di mana orang-orang di sekitar saya meremehkan kemampuan saya hanya karena latar belakang saya yang sederhana. Namun, seperti Ninis, saya belajar untuk tidak menyerah dan tetap fokus pada tujuan. Cerita ini juga mengajarkan kita tentang pentingnya dukungan dan pengertian dari orang terdekat, karena Ninis yang membiayai pernikahan anak ibu tirinya justru diperlakukan dengan kurang hormat. Selain itu, konflik antara Ninis dan ibu tirinya sangat realistis dan menggambarkan tekanan serta ketegangan yang terjadi dalam keluarga berstruktur kompleks. Ketika Ninis merasa diperlakukan seperti pelayan padahal dia adalah pemberi bantuan, hal ini menimbulkan rasa sakit yang sulit diungkapkan. Namun, hadirnya Wati yang membawa kabar tentang suaminya memberi harapan baru dan mengubah jalannya cerita. Dalam kehidupan nyata, saya juga pernah menghadapi situasi di mana perubahan tiba-tiba seseorang yang kita kenal membuat kita kaget dan harus menyesuaikan diri. Transformasi suami Ninis yang dulu mengenakan kaos lusuh menjadi pria dengan seragam resmi berkilau benar-benar membuat saya teringat betapa pentingnya dukungan emosional dan keteguhan hati saat menghadapi masalah keluarga dan kehidupan yang berubah. Saya sarankan bagi pembaca yang terinspirasi oleh kisah Ninis untuk tetap kuat menghadapi tantangan, jangan biarkan penampilan atau praduga orang lain menurunkan semangat kita. Kisah ini juga menimbulkan rasa penasaran dengan kelanjutan cerita, terutama bagaimana hubungan Ninis dengan suaminya dan ibu tirinya setelah peristiwa ini. Jangan ragu memberikan komentar dan mendukung penulis supaya kisah ini dapat terus berlanjut dan semakin menginspirasi banyak orang.