"Aku membe likan perhi asan untuk ibu dan adikku. Padahal istriku juga sangat menginginkannya. Aku pikir dia akan pengertian. Tapi tak kusangka, dia melakukan satu tindakan yang membuat gem par satu kampung."
Bab 1: Keju tan Dari Suami
"Mas, aku cuma minta lima puluh ri bu," suaraku berge tar, menahan pe rih yang menjalar di da da. "Su su Rara habis. Bekal dia sekolah juga belum ada. Ga jiku baru turun lusa, Mas. U ang belanja bulan ini sudah habis buat ba yar tung gakan listrik yang kamu janji mau ba yar tapi lupa itu."
“Kamu bilang lima puluh ri bu Cuma? Lima puluh ri bu itu banyak, Nirmala. Kamu jadi istri jangan bo ros-bo ros.” Teri aknya.
"Kamu itu istri, harusnya pinter ngatur du it! Masak ga ji dua orang masih kurang? Kamu kemanakan u angnya? Jajan? Skincare? Atau diam-diam kamu kasih ibumu di kampung?" tu duhnya membabi buta.
Ma taku mema nas. Tudu han itu bagai sem bilu yang mengi ris jan tung.
Skincare? Sabun cuci mukaku saja merek pasaran yang beli di minimarket kalau lagi diskon. Ibuku? Ibuku di kampung bahkan sering mengirim beras karena tahu a naknya hidup pas-pasan di kota.
"Tuh! Cuma itu sisa peganganku buat ben sin dan makan siang. Kalau kamu ambil, berarti kamu tega biarkan suamimu kela paran di kantor. Pikir pakai o tak!"
Tanpa menunggu jawabanku, ia memban ting pintu depan. Blam!
Suara motor matic yang cici lannya pun aku yang ba yar kekurangannya bulan lalu, menderu menjauh.
Hening.
Aku menatap na nar u ang dua puluh ribu di atas meja. Air mataku akhirnya tumpah. Aku terduduk le mas di kursi plastik, meme luk Rara yang mulai sesenggukan.
Siang harinya, kepalaku berde nyut hebat. Pekerjaan sebagai staf adminis trasi gudang sedang padat-padatnya. Namun, pikiranku melayang ke ru mah.
Sudah lima tahun kami menikah. Selama lima tahun ini, hidupku seakan tidak ada perubahan. Padahal Mas Bayu juga kerja, harusnya hidupku makin terjamin. Ini malah sebaliknya. Mas Bayu selalu bilang ga jinya habis untuk ba yar utang orang tuanya. Katanya, dulu bapaknya sa kit ke ras dan meninggalkan u tang di ren tenir. Sebagai a nak laki-laki paling tua, Mas Bayu merasa wajib melunasinya.
"Sabar ya, Dik. Ini ujian buat kita. Istri yang sabar mendampingi suami di masa sulit, surga jaminannya," begitu kalimat manisnya setiap kali aku mengeluh le lah.
Jam istirahat tiba. Ponselku berge tar. Pesan dari Mas Bayu.
“Dek, nanti malam Mas nggak pulang. Ibu telepon, katanya badannya sa kit semua, minta dipi jat. Mas langsung ke ru mah Ibu pulang kerja.” Pesannya.
“ Iya, Mas. Hati-hati.” Jawabku singkat.
Hanya itu balasanku. Percuma protes. Kalau aku melarang, nanti dicap menantu durhaka yang memisahkan a nak dari ibunya. Lagu lama kaset kusut.
Malam harinya, ru mah terasa sepi dan dingin. Rara sudah tidur pulas setelah makan malam dengan telur dadar dibagi dua.
Aku berniat membereskan tumpukan baju kotor yang menggunung di keranjang. Mas Bayu memang tipe suami yang tidak bisa melakukan pekerjaan ru mah sedikitpun. Handuk basah di ka sur, kaos kaki di bawah meja, celana kotor di lantai ka mar mandi. Semua aku yang pungut.
Saat mengangkat celana kerja warna abu-abu yang dipakai Mas Bayu kemarin, aku merasakan ada sesuatu yang ke ras di saku belakangnya.
"Kebiasaan. Pasti tisu atau masker bekas," gerutuku pelan.
Tanganku mero goh saku itu. Namun, bukan gumpa lan tisu yang kudapat, aku refleks menutup mulut karena tak percaya dengan apa yang telah kutemukan ini.
Bersambung ke aplikasi KBM
Judul : Setelah Lu ka, Datanglah Cinta
Penulis: Kusuma Riyanti
Pengalaman saya pribadi sangat relate dengan cerita ini. Mengatur keuangan keluarga memang bukan hal mudah, terutama saat penghasilan terbatas dan harus membayar utang yang diwariskan orang tua. Saya pernah merasakan dilema saat harus memprioritaskan kebutuhan anak dan kewajiban lain seperti listrik atau cicilan yang menumpuk. Ketegangan antara suami dan istri rentan muncul ketika komunikasi kurang dan asumsi negatif sering terjadi. Dalam kondisi seperti itu, sabar dan pengertian menjadi kunci penting untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Namun, sabar saja tidak cukup tanpa keterbukaan dan kerja sama bersama pasangan. Saya belajar bahwa membicarakan segala kesulitan secara jujur tanpa menyalahkan pasangan bisa mengurangi beban hati dan memperkuat ikatan. Hal yang paling menyakitkan adalah ketika perasaan tidak dihargai seperti dalam cerita ini, apalagi jika sampai terjadi tindakan yang memancing gempar lingkungan sekitar. Penting bagi pasangan untuk saling memahami posisi dan perasaan masing-masing agar tidak salah paham dan konflik makin membengkak. Menemukan sesuatu yang mengejutkan di kantong pakaian suami seperti yang disebutkan, tentu menambah beban batin seorang istri. Dalam pengalaman saya, komunikasi yang cepat dan jujur terhadap hal-hal mencurigakan bisa mencegah kesalahpahaman dan memperkuat kepercayaan. Jangan sampai asumsi datang lebih dulu dan memperburuk keadaan. Cerita ini mengajarkan saya nilai pentingnya pengelolaan keuangan keluarga yang transparan serta pengorbanan istri yang sabar dalam mendampingi suami menghadapi masa sulit. Namun, kondisi harus dibangun bersama dengan saling terbuka dan saling menghargai, agar ikatan rumah tangga tetap kuat dan berakhir bahagia.

