Setelah kepergian istri pertamaku. Aku sadar telah menukar berlian dengan kerikil. Dan kini aku sangat menyesalinya.

Part acak

"Ini siapa, Nadia?" tanya Arfan penuh heran. Nadia sama sekali tidak bercerita kalau ada tamu laki-laki di ru mahnya.

Nadia tersenyum puas. "Oh, ini Pak Rahmat, arsitek yang aku panggil. Aku sudah siapkan semuanya, Bi. Kita akan merenovasi total ru mah ini. Desainnya akan lebih modern, lebih mewah."

Arfan terdiam, terlalu lelah untuk berdebat.

Nadia lalu berjalan menuju ruang kerja Arfan, tempat Aisyah biasa menyimpan barang-barang lama. Ia membukanya. Di dalam, ada sebuah lemari khusus untuk menyimpan berkas-berkas penting yang ditumpuk rapi.

"Nah, ini dia. Barang-barang peninggalan Aisyah dan an ak-a naknya. Berkas-berkas sekolah mereka, piala-piala, album foto lama. Ini semua mau diapakan, Bi? Mau dikilokan saja atau diba kar sekalian biar cepat bersih?"

Kalimat itu. Kalimat yang diucapkan dengan begitu enteng, seolah sedang membahas sampah. Sesuatu di dalam diri Arfan seketika mele dak. Semua kesabarannya, semua kelelahannya, semua rasa bersalahnya, meluap menjadi ama rah yang tak terkendali. Ia bangkit dari kursinya, menatap Nadia dengan mata menyala.

"JAGA UCAPANMU, NADIA!" bentaknya, suaranya menggema di seluruh ruangan.

"Barang-barang itu… mereka BUKAN SAMPAH! Mereka adalah kenangan an ak-an akku! Jangan sekali-kali kamu berani menyentuhnya!"

Nadia terperanjat kaget, mundur selangkah melihat kemar ahan Arfan yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. "A-aku kan cuma bertanya, Bi…"

"DIAM!" potong Arfan. "Pergi kamu dari sini! Aku mau sendiri!"

Nadia membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Melihat Nadia yang hanya diam,

tanpa berkata apa-apa lagi, Arfan berbalik, membanting pintu depan dengan keras, dan berjalan dengan langkah goyah menuju kantornya di seberang lapangan.

Dengan langkah yang terasa berat, Arfan memasuki ruang kerjanya dan mengunci pintu. Kakinya terasa lemas. Ia merosot di belakang pintu, bersandar pada kayu yang dingin. Hatinya remuk.

Kalimat Nadia tadi telah menyadarkannya akan sebuah kebenaran yang pahit: perempuan yang kini menjadi istrinya sama sekali tidak memiliki kelembutan dan kebijaksanaan seperti Aisyah. Ia telah menukar berlian dengan sebuah batu kerikil yang ta jam.

Penyesalan yang luar biasa menghan tamnya. Ia menangis. Bukan tangisan diam, melainkan isak tangis yang pilu dari seorang lelaki tua yang hancur. Ia merindukan Aisyah. Ia merindukan kehangatan keluarganya yang dulu. Ia merindukan tawa putri-putrinya.

Ending di KBMApp

Judul : Demi A nak-an ak Umi Rela Dimadu

Penulis : Yasmine Bening

#YasmineBening

#Novel

#KBM

3/3 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam kehidupan, kehilangan seseorang yang kita cintai sering membawa rasa penyesalan dan kesadaran mendalam akan nilai sebuah hubungan. Cerita Arfan yang menyesal setelah kehilangan istri pertamanya ini sangat menggugah, karena ia menyadari bahwa ia telah 'menukar berlian dengan kerikil', yang berarti ia meninggalkan sesuatu yang berharga demi sesuatu yang jauh lebih rendah nilainya. Pengalaman pribadi saya juga pernah merasakan hal serupa, ketika saya terlalu fokus pada hal-hal baru dan melupakan kenangan serta nilai penting dari masa lalu. Seperti Arfan, saya sempat terjebak dalam kelelahan emosional dan gagal menghargai apa yang sudah saya miliki. Arfan yang masih menyimpan berkas dan kenangan anak-anak dari pernikahan sebelumnya, menunjukkan bagaimana kenangan itu bukan sekadar masa lalu, tapi juga fondasi kekuatan sebuah keluarga. Renovasi rumah yang direncanakan Nadia, istri Arfan yang baru, bukan hanya soal perubahan fisik, tapi juga gambaran pergeseran nilai dalam keluarga mereka. Ketika Nadia dengan enteng menyebut peninggalan masa lalu sebagai sampah, itu seperti sebuah simbol ketidakterimaan dan hilangnya penghormatan terhadap kenangan dan sejarah keluarga. Situasi seperti ini bisa dialami banyak orang yang masuk ke dalam keluarga baru, di mana konflik nilai dan perasaan bisa sangat intens. Bagi banyak orang, menjaga kenangan masa lalu—seperti foto lama, piala, atau dokumen penting—adalah cara untuk menghormati mereka yang telah pergi dan menjaga ikatan keluarga tetap kuat. Jika kita tidak bijaksana dalam menanggapi masa lalu, bisa jadi akan muncul penyesalan mendalam seperti yang dialami Arfan. Kisah ini mengajarkan pentingnya kelembutan dan kebijaksanaan dalam menjalani hubungan baru setelah kehilangan. Bukan hanya tentang mengisi kekosongan, tapi juga tentang menghormati masa lalu, merangkul kenangan, dan membangun kedamaian dalam hati sendiri dan keluarga. Semoga cerita ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan yang bisa berdampak pada hubungan dan keluarga. Kadang, kita perlu menahan diri sejenak, melihat ke belakang dengan penuh rasa hormat, dan menghargai nilai sebuah kenangan sebelum melangkah maju.