Bab 2: S h o c k
TOKO EMAS & PERMATA “SINAR ABADI”
Jan tungku berhenti berdetak sesaat.
Toko e mas?
Seingatku, Mas Bayu tidak pernah membelikanku perhia san. Cincin kawin kami saja hanya perak sepuh e mas karena alasan bud get waktu itu. Dan dia bilang dia tidak punya u ang sepeser pun pagi tadi?
Tanggal transak si: Kemarin sore, pukul 17.45.
Tepat saat dia bilang lembur di kantor dan pulang larut malam sampai tidak sempat makan di rum ah.
Mataku menelusuri rincian barang yang dibeli.
1 Kalung Model Italy - 10 Gram
1 Gelang Keroncong Ukir - 15 Gram
Total Belanja: Rp 24.500.000,-
Na pasku tercekat. Dua puluh empat ju ta lima ratus ribu rupi ah?
U ang dari mana?
Di bagian bawah st ruk, tertulis nama member pelanggan:
Ny. Ratna Sari
Nama ibu mertuaku.
"Mas..." desisku lirih, "Te ga kamu, Mas."
Rasa sa kit itu perlahan berubah menjadi ama rah. Namun aku bisa menahannya.
Sebuah pesan WhatsApp dari kontak bernama "Adik Kesayangan (Nisa)".
Aku menyam bar ponsel itu. Untungnya Mas Bayu tidak pernah mengunci ponsel butut ini karena dia pikir aku tidak akan peduli dengan ponsel jadul ini.
Foto itu menampilkan Ibu Mertua sedang tersenyum lebar, le hernya dili lit kalung emas tebal yang berkilauan, dan pergelangan tangannya penuh dengan gelang keroncong baru. Persis seperti yang ada di struk.
Nisa: Mas, Ibu seneng banget! Katanya makasih ya. Oh iya Mas, sisa u ang trans feran kemarin yang buat renovasi dapur masih ada 5 ju ta, kata Ibu boleh nggak buat beli HP baru buat aku? HP-ku kameranya udah buram nih. Kan Mas Bayu bulan ini dapet bo nus proyek gede, masa adiknya nggak dicipratin? Hehe.
Bo nus proyek gede?
Renovasi dapur?
Duniaku run tuh.
Jadi selama ini... cerita tentang po tong ga ji, tentang u tang ren tenir bapak, semuanya bo hong?
Aku menggulir chat ke atas. Riwayat percakapan mereka penuh dengan bukti tran sfer.
Minggu lalu: Rp 3.000.000 (Caption: Buat belanja bulanan Ibu)
Dua minggu lalu: Rp 1.500.000 (Caption: Buat Nisa nongkrong sama temen)
Bulan lalu: Rp 10.000.000 (Caption: DP tukang bangunan)
Sementara tadi pagi, suamiku, ayah dari a nakku melem parkan u ang dua puluh ribu rupiah ke meja seolah itu adalah nya wanya yang terakhir, sambil mema ki aku istri yang bo ros.
"Oke, Mas Bayu," bisikku pada pantulan diriku yang menye dihkan di cermin. "Kamu mau main drama orang miskin? Mari kita mainkan."
Ponsel jadul Mas Bayu yang masih di tanganku kembali bergebtar. Satu pesan lagi masuk dari Nisa.
“ Mas, kok cuma dibaca? Jangan pe lit dong sama keluarga sendiri. Inget lho, Surga ada di telapak kaki Ibu. Istri mah bisa dicari lagi, kalau Ibu cuma satu.”
Da rahku mendidih sampai ke u bun-u bun.
Aku tidak membalas pesan itu. Aku justru membuka aplikasi m-banking di ponsel Mas Bayu yang bo dohnya dia akunnya masih login di ponsel cadangan ini.
Aku mengecek sal do rekening utamanya. Rekening yang dia bilang selalu kosong melompong setiap tanggal 5.
Angka yang tertera di layar membuatku ingin menje rit seke ras-ke rasnya.
Saldo: Rp 85.450.000,-
Delapan puluh lima ju ta.
Dan dia membiarkan a naknya mena ngis karena tidak bisa beli su su.
Aku menatap Rara yang tertidur lelap dengan botol air putih di pelu kannya. Air mataku kering seketika.
Malam ini, Nirmala yang penurut sudah ma ti!
Bersambung ke aplikasi KBM
Judul : Setelah Lu ka, Datanglah Cinta
Penulis:Kusuma Riyanti
Dalam kehidupan rumah tangga, terkadang realita yang kita hadapi jauh lebih rumit daripada yang kita bayangkan. Pengalaman yang saya bagikan kali ini berkaitan dengan cerita yang sangat menyentuh tentang rasa percaya dan pengorbanan yang diuji oleh sebuah rahasia keluarga. Pernahkah Anda merasa bahwa selama ini Anda telah memberi segalanya untuk keluarga, namun masih ada hal yang disembunyikan dari Anda? Seperti kisah dalam artikel ini, di mana seorang istri mendapati suaminya ternyata telah membeli perhiasan mahal untuk ibu dan adik mertuanya, sementara kondisi keluarganya sendiri kekurangan bahan kebutuhan sehari-hari. Pengalaman pribadi saya juga sempat menghadapi situasi di mana suami menyimpan rahasia finansial yang membuat saya merasa dikhianati. Rasanya seperti dihantam bertubi-tubi ketika mengetahui bahwa pengorbanan dan perjuangan kita diabaikan. Namun, melalui kejadian tersebut, saya belajar untuk lebih bijaksana dalam komunikasi dan menetapkan batasan yang jelas dalam pengelolaan keuangan keluarga. Hal lain yang saya pelajari adalah pentingnya transparansi dalam keluarga. Keberadaan saldo rekening yang sangat besar namun tidak digunakan untuk kebutuhan keluarga sehari-hari menimbulkan pertanyaan besar akan prioritas dan tanggung jawab seorang suami sebagai kepala rumah tangga. Selain itu, pesan yang tersisip dalam cerita ini, "Surga ada di telapak kaki ibu," mengingatkan kita untuk selalu menghormati orang tua. Tapi, bagaimana jika penghormatan itu berujung pada kesengsaraan anggota keluarga lainnya? Saya percaya solusi terbaik adalah keseimbangan, yakni memastikan semua pihak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang adil. Cerita seperti ini juga membuka mata saya tentang pentingnya dukungan emosional antara pasangan, terutama saat menghadapi tekanan finansial dan permasalahan keluarga. Kadang, kesalahpahaman bisa berubah menjadi luka yang mendalam jika tidak dibicarakan dengan baik. Semoga kisah ini bisa menjadi renungan bagi kita semua untuk selalu menjaga kejujuran, saling menghargai, dan memperkuat pondasi cinta dalam rumah tangga agar berbagai masalah dapat dihadapi bersama, bukan ditutupi. Jangan lupa, dalam setiap cobaan pasti ada hikmah yang bisa diambil jika kita mau melihat dengan hati terbuka.







