Aku meminta izin kepada istriku untuk menikahi sahabatnya dan mewujudkan keinginan terakhirnya. Hanya sekedar di madu sebentar, tapi kenapa istriku malah melakukan ....
Bab 1
“Kita akhiri pernikahan ini.”
Tanganku yang tengah mengeringkan rambut sontak terhenti. Aku menoleh cepat, menatap suamiku dengan kening berkerut. “Jangan bercanda, Mas. Enggak lucu, tahu.”
Kami baru saja melepas lelah setelah pesta pernikahan yang meriah. Bagaimana mungkin Mas Aldi meminta ce rai sekarang? Dia memang suka bergurau, terkadang saking serius wajahnya, orang yang belum mengenalnya akan mudah terti pu. Aku memilih menganggap ini salah satu dari leluconnya yang keterlaluan.
Aku kembali menyalakan hair dryer. Malam ini seharusnya menjadi malam pertamaku, momen yang sangat aku nantikan dengan lelaki yang kucintai setulus hati. Aku tak ingin merusak suasana hanya karena menanggapi candaan garingnya.
“Aku nggak lagi bercanda, Wanda. Aku mau kita pisah.”
Suara Mas Aldi terdengar begitu dingin dan tegas, hingga sanggup menembus bisingnya suara mesin pengering rambut. Gerakanku m a t i kutu. Perlahan, aku meletakkan alat itu dan mendekat ke arahnya.
“Mas, bercandanya jangan kelewatan. Kata pisah itu nggak baik diucapkan, apalagi di malam pertama kita,” tegurku, masih mencoba menyunggingkan senyum meski hatiku mulai berdegup tidak keruan.
“Apa wajahku terlihat sedang berbohong?”
Aku terpaku, menatap lekat wajah tampan suamiku. Aku menyelami sorot matanya yang hitam legam, mencari sisa-sisa binar jenaka di sana. Namun, nihil. Tidak ada kebohongan. Hanya ada kesungguhan yang me nya kitkan.
Aku mem bi su. Semua kata-kata yang ingin kulontarkan seolah tercekat di tenggorokan, membuat da da ku mulai terasa se sak.
“Maafkan aku. Mungkin ini me nya kitkan untukmu, tapi aku benar-benar nggak bisa melanjutkan pernikahan ini lagi.”
“Ada apa, Mas? Apa aku melakukan kesalahan?” tanyaku dengan suara bergetar.
Otakku berputar cepat, mencoba mengingat apakah ada tindakanku yang menyinggungnya hari ini. Tapi tidak ada. Semua berjalan sempurna. Lalu kenapa? Kenapa tiba-tiba dia ingin mengakhiri segalanya tepat saat kami baru saja sah?
Suasana yang tadinya romantis, dengan alunan musik lembut dari televisi dan aroma bunga yang semerbak di ka mar ini, mendadak berubah mencekam.
Mas Aldi hanya menggelengkan kepala dengan tatapan tertunduk lesu. Ke bi suan nya justru lebih me nya kitkan daripada ma kian. Jika aku tidak salah, lalu apa alasannya?
“Kalau memang aku punya kesalahan yang nggak kusengaja, aku minta maaf, Mas.” Aku berlutut di depannya, memaksa agar kami bisa saling bertatapan.
“Bukan kamu yang salah. Ini semua salahku. Aku yang bo doh, aku yang nggak bisa bersyukur dengan apa yang sudah kumiliki. Tapi … aku tetap nggak bisa bertahan lebih lama lagi bersamamu.”
Judul: Istri Sebelas Jam
Penulis: BlueGwen
Baca cerita selanjutnya di KBM App
Dalam cerita "Istri Sebelas Jam," kita diajak menyelami pergolakan emosi yang dialami seorang istri ketika suaminya tiba-tiba mengungkapkan keinginannya untuk mengakhiri pernikahan yang baru saja mereka mulai. Situasi ini menghadirkan gambaran nyata tentang betapa rapuhnya sebuah hubungan ketika kejujuran dan ketulusan diuji. Dari pengalaman pribadi saya, menghadapi konflik dalam rumah tangga memang tidak mudah, apalagi jika terjadi di momen yang sangat krusial seperti malam pertama pernikahan. Seringkali, kita menganggap pernikahan adalah kebahagiaan yang terus menerus, tetapi kenyataannya bisa sangat berbeda. Dalam kisah ini, pengambilan keputusan yang drastis oleh suami—meskipun diwarnai kasih sayang untuk mengabulkan keinginan terakhir seorang sahabat—menunjukkan bahwa kepedulian dan cinta tidak selalu berjalan mulus tanpa masalah. Saya pernah berada di posisi di mana keputusan sulit harus diambil demi menghormati perasaan orang lain yang sangat berarti bagi keluarga. Meski sulit, komunikasi yang jujur dan memahami perspektif pasangan sangat penting agar keputusan tersebut tidak menjadi sumber penderitaan berkepanjangan. Hal yang paling mengena dalam cerita ini adalah bagaimana istri berjuang mencari alasan kenapa suaminya begitu dingin dan tegas, bahkan saat keintiman pertama mereka. Ini menjadi refleksi bagi kita bahwa dalam pernikahan, ada banyak lapisan perasaan yang tersembunyi dan belum tentu mudah diungkap. Dari bacaan ini, saya belajar bahwa menjaga kepercayaan dan terbuka tentang masalah yang ada sejak awal bisa mencegah perpisahan yang menyakitkan. Lebih jauh, konsep "madu" yang disebut dalam cerita menjadi metafora bagi perpanjangan hubungan yang mungkin sementara tapi penuh konsekuensi. Dalam kehidupan nyata, fenomena melibatkan pihak ketiga dalam hubungan pernikahan harus dikelola dengan sangat hati-hati dan kepekaan. Hal ini mengingatkan saya bahwa setiap hubungan memiliki batasan yang perlu dihormati agar tidak menimbulkan luka lebih dalam. Bagi pembaca yang menyukai kisah drama keluarga bertema pernikahan dengan konflik emosional yang mendalam, cerita "Istri Sebelas Jam" memberikan sudut pandang baru untuk memahami arti pengorbanan dan batas-batas cinta. Jangan ragu untuk mengeksplorasi lebih lanjut kisah ini di aplikasi KBM, di mana cerita-cerita penuh makna seperti ini dapat memperkaya wawasan dan empati kita terhadap dinamika kehidupan berumahtangga.

