"Tapi surat nikahnya..."
"Urusan administrasi bisa menyusul! Yang penting sah secara agama dulu di depan penghulu. Cepat ganti bajumu!" Pak Atmaja mendorongnya masuk.
Sepuluh menit kemudian, suasana hening menyelimuti meja akad. Arga duduk dengan tegap, wajahnya tanpa ekspresi. Di sampingnya, sesosok wanita dengan gaun putih yang sedikit kebesaran dan cadar yang senada duduk dengan kepala tertunduk.
"Saudara Arga Satya Wiguna bin Dadang Wiguna, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Aisya Humaira binti Abdulloh dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan perhiasan emas lima puluh gram, tunai."
Arga menjabat tangan Pak Atmaja, yang bertindak sebagai wali hakim karena ayah Aisya sudah tiada, dengan genggaman yang sangat k u a t.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aisya Humaira binti Abdulloh dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Sah?"
"Sah!"
Suara saksi bergema di seluruh r u a n g a n. Di balik cadarnya, air m a t a Aisya luruh. Ia kini resmi menjadi istri dari seorang pria yang ia tahu dari cerita Shena adalah "si culun" dari masa SMA. Namun, pria yang menjabat tangan pamannya tadi sama sekali tidak terlihat culun. Suaranya mantap, auranya mendominasi, dan tatapan matanya tajam seperti elang.
Resepsi berjalan seperti sandiwara yang melelahkan. Tamu-tamu menyalami mereka, memuji kecantikan pengantin wanita meski tertutup cadar, tanpa tahu bahwa mempelai wanitanya telah tertukar.
Arga berdiri di samping Aisya tanpa menyentuhnya sedikit pun. Ia merasa muak dengan drama keluarga Atmaja, namun ia tetap menjaga wibawanya.
"Jangan berpikir pernikahan ini terjadi karena saya menginginkanmu," bisik Arga sangat pelan, nyaris tenggelam oleh suara musik orkestra di gedung itu. "Saya hanya menyelamatkan muka orang tua saya."
Aisya tidak menjawab. Ia hanya menatap jemarinya yang terbalut henna. Ia ingin berteriak bahwa ia juga tidak menginginkan ini. Ia ingin memberitahu bahwa ia memiliki karier yang sedang cemerlang di rumah sakit, bukan sekadar gadis yatim piatu yang bisa dibeli dengan h a r g a diri. Namun, lidahnya kelu.
"Saya tahu, Pak," jawab Aisya singkat. Suaranya lembut namun ada nada ketegasan yang membuat Arga sedikit melirik ke arahnya. "Pernikahan ini adalah kecelakaan bagi kita berdua."
Arga sedikit terkejut dengan jawaban itu. Ia mengira gadis ini akan menangis tersedu-sedu atau malah merasa beruntung bisa menikah dengan anggota keluarga Wiguna.
Malam itu, setelah acara selesai, Arga membawa Aisya ke rumah dinasnya, bukan ke rumah orang tuanya. Ia tidak ingin istrinya, setidaknya untuk saat ini, berinteraksi terlalu jauh dengan keluarganya sampai ia benar-benar tahu siapa sebenarnya keluarga Atmaja ini.
Di dalam mobil, keheningan menyiksa. Arga fokus menyetir, sementara Aisya menatap ke luar jendela.
"Besok saya harus kembali ke b a r a k," ucap Arga memecah keheningan. "Kamu tinggal di rumah dinas. Jangan banyak tanya dan jangan mencampuri urusan saya. Saya bekerja sebagai... pegawai administrasi di kantor pemerintahan. Jadwal saya tidak menentu."
Aisya menoleh. Pegawai administrasi? batinnya. Postur tubuh seperti itu, cara berjalan yang tegap, dan cara bicaranya sama sekali tidak menunjukkan dia seorang pegawai administrasi biasa. Tapi Aisya tidak peduli. Ia juga punya rahasia sendiri.
"Baik, Pak. Saya juga akan tetap bekerja. Saya punya pekerjaan di kota ini," jawab Aisya.
"Di tempat laundry itu?" tanya Arga sinis, mengingat informasi dari ayahnya bahwa Aisya hanyalah b u r u h cuci.
Aisya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Iya, di tempat itu."
Biar saja dia tahu aku bekerja di laundry, pikir Aisya. Lebih aman begitu daripada dia tahu aku adalah dokter yang menangani pasien-pasien pasca-operasi besar.
Mereka sampai di sebuah rumah minimalis yang asri. Arga membukakan pintu, namun tetap dengan wajah d i n g i n n ya. Saat mereka masuk ke dalam rumah, Arga berbalik badan menghadap Aisya.
"Buka cadarmu…”
Ongoing di KBM App
Judul : Di Balik Cadar Aisya : Mendadak Istri Komandan
Penulis : Indahdilihat































