"Siapa yang menghabiskan ini?" suara Rufah bergetar, bukan karena sedih, tapi karena ama rah yang tertahan di ujung lidah.

"Cuma nastar, Ruf. Jangan lebay."

"Cuma nastar? Mas, ini nastar pesanan khusus! Aku bikin ini sampai tan gan aku kaku dan bad anku drop kemarin!" Rufah meninggikan suaranya.

"Zidan yang makan, Mbak," sahut Dewi santai, tanpa nada bersalah sedikit pun. "Tadi dia lapar, katanya kuenya enak banget. Ya sudah, aku suruh makan saja daripada dia jajan sembarangan."

Rufah menoleh taj am pada Dewi. "Dewi, aku sudah kasih jatah buat kalian satu toples besar kemarin. Kenapa ini yang di meja makan, yang sudah aku kasih label 'JANGAN DIMAKAN', malah dihabiskan juga?"

"Ya ampun, Mbak, pelit amat sama keponakan sendiri," cibir Dewi sambil mengerucutkan bibi r. "Zidan kan masih kecil, mana ngerti tulisan label-label begitu."

"Mas!" Rufah beralih pada suaminya, meminta pembelaan. "Kamu lihat ini? Ini keterlaluan!"

Ardi menghela napas panjang, meletakkan ponselnya dengan kas ar. "Rufah, sudah! Kamu ini kenapa sih? Masalah kue saja sampai teria k-teria k begitu. Kamu nggak malu dilihat Dewi sama Zidan? Kamu itu tantenya, harusnya senang kalau keponakanmu doyan masakanmu."

"Senang? Mas, aku kemarin sampai pingsan di dapur buat selai nanasnya! Kamu tahu itu!"

"Tante Rufah galak! Huwaaaa!" Tiba-tiba Zidan pe cah tangi snya. Ia langsung menghambur ke pelu kan Dewi, menyembunyikan wajahnya yang pura-pura ketakutan.

"Tuh, lihat! A nak kecil sampai trauma gara-gara kamu ben tak!" Ardi berdiri, menghampiri Zidan dan mengusap punggungnya. "Sudah, Zidan sayang, jangan nangis. Tante cuma lagi kecapekan. Nanti Paman belikan mainan, ya?"

Rufah ternganga. Da danya sesak seperti diha ntam go dam besar. "Kamu malah belain mereka, Mas? Aku istrimu! Aku sa kit demi bikin kue ini!"

"Ya kamu maklumilah, Ruf! Mereka itu keluarga aku, tamu di sini. Aryo kan lagi narik truk, Dewi sendirian di ru mah, makanya mereka ke sini. Jangan sempit hati jadi orang," ba las Ardi ketus.

"Mas tahu nggak buat apa nastar ini?" tanya Rufah dengan suara serak. "Nastar ini buat Pak Edo, Mas. Kepala cabang tempat kerjaku dulu. Aku mau antar ini besok sebagai tanda terima kasih karena dia sudah bantu cairkan pinjaman buat modal beli truk yang dipakai Aryo sekarang! Kalau bukan karena Pak Edo, ad ikmu itu masih pengangguran!"

Ardi terdiam sejenak, namun sorot matanya tidak menunjukkan penyesalan. Justru ada kilat aneh yang melintas di sana.

"Alah, cuma ucapan terima kasih kan bisa pakai yang lain. Nggak usah pakai nastar-nastaran. Lagian Pak Edo itu orang k aya, mana butuh kue buatan ru mahan begini," ucap Ardi meremehkan.

"Ini soal etika, Mas! Soal menghargai bantuan orang!" tan gis Rufah pe cah. "Aku sudah nggak punya ua ng lagi buat beli bahan kalau mau bikin baru. Itu mentega terakhir yang aku punya!"

Ardi berjalan mendekat, bukannya memel uk istrinya yang tergugu, ia malah menu njuk ke arah dapur. "Ya sudah, kalau memang penting, bikin lagi sekarang. Masih ada nanas kan di kulkas? Kupas saja sendiri. Jangan manja."

"Aku lelah, Mas... me ntal dan fis ikku capek kalau terus-terusan harus mengalah sama keluarga kamu yang nggak tahu diri ini," bisik Rufah lirih.

Bagus, pikir Ardi dalam hati. Menangis saja sana sepuasmu.

Sebenarnya, Ardi sengaja membiarkan Zidan menghabiskan nastar itu. Ia bahkan yang memberikan toples itu pada Zidan saat Rufah sedang mandi tadi. Ardi tahu betul nastar itu untuk Pak Edo. Dan Ardi sama sekali tidak suka Rufah menemui pria itu lagi, meskipun tujuannya hanya untuk berterima kasih. Ia tidak ingin Rufah merasa punya "jasa" atas pekerjaan adiknya, dan ia lebih tidak suka jika Rufah memiliki relasi yang bisa membuatnya merasa berdaya.

Judul : Nastar Terakhir

Karya : Mangiferaa

Aplikasi KBM

#NastarTerakhir

#Mangiferaa

#KBM

#Novel

3/9 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman pribadi saya pernah mengalami situasi serupa dengan Rufah, di mana saya mencoba memberikan sesuatu yang istimewa untuk menghargai bantuan orang terdekat, namun harus menghadapi ketidakpahaman dan ketidakpedulian dari keluarga sendiri. Hal ini mengajarkan saya tentang pentingnya komunikasi dan pengertian dalam keluarga agar setiap pengorbanan bisa diapresiasi dengan baik. Kue nastar, selain sebagai camilan khas Lebaran, sering kali menjadi simbol kasih sayang dan terima kasih dalam budaya Indonesia. Membuat nastar dengan tangan sendiri butuh ketelatenan dan bahan berkualitas, terutama mentega dan selai nanas yang menjadi kunci citarasa. Ketika nastar yang sudah dipersiapkan hingga menguras tenaga diabaikan atau dimakan tanpa izin, tentu menimbulkan rasa sakit hati seperti yang dialami Rufah. Selain itu, cerita ini menyinggung dinamika keluarga yang kompleks. Ketegangan antara istri dan suami, serta kehadiran anggota keluarga lain yang dianggap kurang menghargai usaha, mencerminkan dilema banyak keluarga dalam menjaga keharmonisan sambil berjuang menyelesaikan persoalan sehari-hari. Seringkali, kelelahan mental dan fisik yang dirasakan tidak terlihat oleh orang lain, padahal ia sangat nyata dialami oleh yang bersangkutan. Kutipan dalam gambar "Jika pengorbanan istri sudah tidak berarti maka hanya satu pilihan yang terjadi yaitu pergi" menambah kedalaman cerita dan mengingatkan bahwa penghargaan terhadap usaha pasangan sangat penting untuk kelangsungan hubungan. Penghargaan ini termasuk menghindari sikap meremehkan dan memahami beban yang dirasakan pasangan. Dalam konteks ini, memberi dukungan secara emosional dan mengapresiasi usaha pasangan menjadi bagian dari etika keluarga yang harus dijaga. Saya belajar bahwa penting untuk menempatkan diri pada posisi pasangan, mengingat setiap pengorbanan adalah bentuk cinta yang tak selalu nampak di permukaan. Melalui cerita "Nastar Terakhir", pembaca diajak merenungkan arti pengorbanan, pentingnya rasa hormat dalam keluarga, dan bagaimana komunikasi yang baik dapat mencegah kesalahpahaman yang berujung pada luka hati. Ini bukan sekedar kisah tentang kue, melainkan cermin nilai-nilai dan emosi yang melekat kuat dalam kehidupan sehari-hari.