Bab 3
"Bu, gimana? Nadin mau datang nggak?" Maya bertanya dengan suara tertahan.
"Sudah jam sepuluh, tidak akan sempat kalau masak sekarang. Kita bisa malu besar kalau cuma menyuguhi gorengan!"
Ibu Rahma mengusap dahinya yang berkeringat. "Andra bilang Nadin sedang di jalan, tapi Ibu tidak yakin an ak itu mau kerja kalau hatinya lagi keras begitu."
Maya melirik ke arah pintu, lalu beralih pada ponselnya. Sebuah ide li cik muncul di matanya yang haus pengakuan. "Atau kita pesan katering saja, Bu? Katering Ru mah Makan Padang 'Iswara Minang' itu lho, Bu. Yang lagi viral. Mewah dan berkelas, pasti teman-teman Ibu bakal iri melihatnya."
Ibu Rahma tampak bimbang, namun gengsi di depan sosialita lingkungannya jauh lebih besar dari logika. "Ide bagus! Ya sudah, kamu pesan sana. Pesan paket yang paling komplit. Biar mereka tahu kalau keluarga kita ini memang ka ya ra ya."
Maya tersenyum puas. Jarinya menari di layar ponsel. "Tenang saja, Bu. Urusan pesan-memesan ini biar aku yang tangani. Nadin biar tahu rasa, kita tidak butuh dia untuk terlihat hebat."
Di tempat lain, di kantor rahasia kateringku, aku menatap layar tablet. Sebuah notifikasi masuk. Nama pemesan: Maya. Pesanan: Paket Sultan seni lai sepuluh jut a rupiah.
Aku menyesap tehku yang mulai mendingin. "Baiklah, mari kita sajikan perjamuan yang tak akan pernah kalian lupakan."
Beberapa jam kemudian, pesta arisan itu mencapai puncaknya. Meja makan penuh dengan hidangan Iswara Minang yang harumnya menggoda selera. Maya berdiri dengan angkuh di samping Ibu Rahma.
"Ayo dicicipi, Jeng-jeng," ujar Maya dengan nada yang dibuat semanis mungkin.
"Ini menu khusus yang aku pesan untuk syukuran ru mah baru kami. Har ga nya? Ah, tidak perlu dibahas, yang penting semuanya senang."
Namun, kebanggaan itu pe cah saat seorang pria berseragam rapi dari Iswara Minang melangkah masuk ke tengah kerumunan. Ia memegang map emas yang berkilau di bawah lampu kristal.
"Mohon maaf mengganggu waktunya. Benar dengan Nyonya Maya?" Suaranya jernih, menghentikan seluruh percakapan. "Pesanan Paket Sultan senilai sepuluh ju ta ru piah ini belum dilu nasi. Karena sistem kami otomatis, pembayaran harus diselesaikan tu nai sekarang juga atau hidangan akan kami tarik kembali."
Dunia seolah berhenti. Senyum Maya membeku, sementara Ibu Rahma mematung layaknya kaca re tak yang menunggu waktu untuk han cur. Dari kejauhan, melalui sistem yang terhubung di ponselku, aku melihat status tran sak si itu tetap me rah Ga gal Ba yar.
Bagaimana Maya, masih bisa sombong? Dan ini hanyalah awal dari kerun tuhan yang sesungguhnya.
🤫🤫🤫
Judul : Bangkitlah Istri Pewaris
Karya : Maryam Al Ghani
Baca selengkapnya di KBM App
Dalam kehidupan sehari-hari, gengsi dan status sosial sering kali menjadi bahan pertimbangan penting, terutama dalam acara berkumpul seperti syukuran atau arisan. Saya sendiri pernah mengalami situasi di mana tekanan untuk tampil mewah membuat saya dan keluarga harus berjuang lebih keras dari yang saya duga. Seperti Maya dalam cerita, kadang kita merasa harus menunjukkan yang terbaik kepada lingkungan sekitar, meskipun sebenarnya ada masalah yang tersembunyi. Dengan memesan katering mewah seperti Iswara Minang, Maya ingin memberikan kesan bahwa keluarganya berada di puncak kejayaan, namun kenyataan di balik layar justru penuh dengan kecemasan dan ketidakpastian, termasuk soal pembayaran pesanan katering tersebut. Pengalaman saya mengajarkan bahwa kejujuran dan komunikasi adalah kunci, terutama dalam mengelola acara besar supaya tidak ada kejutan yang merugikan. Yang paling menarik dari cerita ini adalah bagaimana rahasia di balik pembayaran yang belum selesai bisa menjadi titik kritis yang membuka banyak konflik. Ini mengingatkan saya pada pentingnya perencanaan matang dan transparansi dalam segala hal, apalagi terkait keuangan acara. Dalam pengalaman saya, mendiskusikan anggaran dan kebutuhan secara terbuka dengan keluarga atau teman sangat membantu menghindari rasa malu atau situasi memalukan. Selain itu, kisah ini juga menyoroti dinamika hubungan keluarga dan sosial yang kompleks, di mana tekanan dari lingkungan sosial bisa mempengaruhi keputusan pribadi. Saya percaya, sebagai pembaca dan bagian dari masyarakat, kita bisa belajar untuk menghargai nilai kejujuran dan menilai setiap orang bukan hanya dari kemewahan yang mereka tampilkan tapi juga dari integritas dan keberanian mereka menghadapi masalah. Jika Anda pernah merasa terjebak dalam situasi serupa atau ingin memahami lebih jauh soal tekanan sosial dan bagaimana cara bijak menghadapinya, cerita "Bangkitlah Istri Pewaris" ini sangat cocok untuk direnungkan dan dijadikan inspirasi.

