Part 1
Suara denting jam dinding di ru ang tengah mansion me wah keluarga Wiranata itu terasa seperti dentuman palu yang menghan tam ulu hati Anna. Udara di sana mendadak tipis, seolah oksigen sengaja dita rik keluar dari ru angan beraroma lily kesukaan Safira. Di hadapannya, Safira Putri Wardhani berdiri dengan keanggunan yang sedikit redup sinarnya. Pe rutnya terlihat bun cit karena ia mengenakan prostetik pe rut. Matanya yang biasanya tenang dan berwibawa, kini penuh dengan kilatan keputusasaan yang mengerikan, sesuatu yang belum pernah Anna lihat sebelumnya.
“Aku mau kamu mela hirkan an ak itu dengan selamat, Anna,” suara Safira bergetar, tetapi masih menyimpan nada perintah yang ku at. “Aku sudah menantikan ba yi ini lama sekali. Jangan egois. Tolong, jangan pergi. Jangan han curkan semuanya sekarang,” lanjutnya.
Anna mere mas ujung daster katunnya yang terasa lembap oleh keringat dingin dari tangannya. Pe rutnya yang sudah membu ncit besar terasa te gang, seolah ada sabuk besi yang meli lit rah imnya. Ada de nyut nye ri yang mulai merambat dari punggung bawah menuju pang gulnya, tapi ia mencoba tetap tegak. Ia menatap pere mpuan yang selama ini ia sebut saudara pere mpuan yang telah membia yai hidup ibunya, tetapi di saat yang sama, perem puan itu juga telah memperbu dak har ga dirinya.
“Kalau begitu,” Anna mena rik napas pendek, mencoba mencari sisa keberanian di sela rasa sa kit fisiknya yang kian ta jam. “Aku berikan an ak ini kepada Mbak, sesuai kon trak yang Mbak inginkan. Asal... Mbak memberikan Mas Bima untuk aku.”
Keheningan seketika mence kik ru angan itu. Wajah Safira memucat, matanya membe lalak tak percaya mendengar kelan cangan pere mpuan yang selama ini ia anggap sebagai ‘wadah’ semata.
Plak!
Tam paran itu mendarat telak di pi pi kiri Anna. Kekuatannya cukup besar hingga membuat kepala Anna tertoleh ke samping dan tu buhnya terhu yung. Telinganya berdenging, rasa pa nas menjalar seketika, meninggalkan je jak me rah yang kontras di ku lit pucatnya.
“Ternyata benar kata Mas Bima sejak awal,” Safira mendesis, wajahnya yang cantik kini berubah menye ramkan karena ama rah yang memuncak. “Kamu hanyalah pere mpuan yang menghalalkan segala cara demi u ang. Bahkan men ju al diri dengan kedok pernikahan si ri ini pun kamu nikma ti, kan? Kamu tidak melakukan apa-apa selain menghan curkan ru mah tangga orang, Anna! Kamu bena lu yang menji jikkan!”
Anna memegangi pipinya yang berdenyut. Air mata menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya terhadap Safira menjadi buram. Namun, ia menolak untuk membiarkan tu buhnya ambruk. Ia tidak ingin terlihat le mah lagi di depan perem puan yang telah membe li ra himnya. Ia mendongak, menatap Safira dengan sorot mata yang tidak lagi pasrah.
“Mbak mengingatkan aku akan derajatku,” suara Anna parau, bergetar karena emo si yang tertahan di tenggorokan. “Mbak menghi naku karena aku menju al har ga diri demi u ang? Lalu apa bedanya dengan Mbak? Mbak sendiri meminta an ak dari seorang ibu yang Mbak ren dahkan. Mbak menginginkan ba yi ini, tapi Mbak membenci da rah yang mengalir dalam tu buh ba yi ini.”
Anna mengambil langkah mundur, tangannya melindungi perutnya saat merasakan ten dangan kuat dari dalam sana. “Meskipun aku menju al har ga diriku demi u ang, aku tetaplah seorang ibu. Aku yang merasakan dia me nen dang setiap hari, Mbak. Aku yang merasakan jan tungnya berdetak bersama jan tungku. Bukan Mbak. Mbak hanya pemilik u ang dan kertas kon trak itu, tapi aku yang menyambung nya wa dengannya, aku lebih berhak, Mba.”
“Cukup, Anna! Jaga bicaramu!” teri ak Safira, tangannya gemetar hebat. “Kamu hanya a lat! Tanpa u ang ku, ibumu sudah membu suk di tanah!”
Judul : Cinta yang Disembunyikan
Penulis : Parwati
Tamat di K B M App













