#1

“Sudah dua tahun nikah tapi belum hamil juga?” Sepupu Arini menatap perutnya terang-terangan.

“Jangan-jangan ada yang mandul?” Celetuknya lagi "Apa nggak mau ceck up dulu ke dokter?" Pertanyaan itu membuat wajah Arini memerah.

Raut wajah Arini yang tadi biasa saja, kini mulai berubah jadi sendu. Senyumnya tenggelam di antara rasa panik Ramadan yang mulai menelan salivanya.

"Baru dua tahun, Yud. Kita juga masih menikmati masa berdua. Kita kan pacarannya baru setelah menikah, iya kan, Sayang?" Ramadan menatap istrinya sembari menggenggam kedua telapak Arini yang mulai saling bertaut.

Setelah acara punggahan kerabat jauh selesai digelar, suasana ru mah Ramadan kembali sepi.

"Sayang, jangan didengar apa kata mereka, ya," lirih Ramadan menghampiri istrinya yang terdiam di depan cermin ka mar mereka.

"Aku punya telinga, Bang. Nggak mungkin aku tiap hari pura-pura nggak dengar." Arini menoleh pada Ramadan dengan air mata yang mulai berderai.

"Sayang, gimana kalau besok kita ke dokter. Kita ceck up dulu untuk memastikan semua baik-baik saja." Ramadan melepas pe lukannya, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di pipi Arini.

Istrinya itu mengangguk pelan dengan tatapan yang masih kabut.

"Sekarang kamu berhenti nangisnya, ya. Bulan ramadhan ting gal beberapa hari lagi." Senyum Ramadan memantik semangat Arini "Kita harus menyambut bulan suci dengan semangat yang membara!" Tiba-tiba suara Ramadan meninggi sambil memperlihatkan otot-ototnya.

"Apa sih? Lebay!" Arini mulai terkekeh sembari menepuk lengan suaminya.

"Tapi ini harus kita persiapkan dari awal, Bang." Arini menatap suaminya dengan tatapan serius.

"Ya sudah. Ayo, kita persiapkan dari sekarang. Siapa tahu kali ini berhasil!" Sambut Ramadan yang mengerling nakal.

Saat Ramadan meraih tangan Arini dan hendak mengajaknya naik ke ka mar mereka yang berada di lantai atas, perempuan itu enggan.

"Bukan persiapan itu maksud aku." Tolaknya dengan nada manja.

"Terus persiapan apa?" Ramadan menatap wajah istrinya dengan rasa tak sabar.

"Persiapan mental." Jawab Arini singkat.

"Ya Allah, Sayang. Ke dokter saja belum, langsung mau persiapan mental!" Seru Ramadan merasa gemas.

Senyum tulus Arini, dan binar matanya yang memberi ujaran "Maaf," dengan rasa bersalah, membuat Ramadan semakin gemas dan menggendong tu buhnya dengan tiba-tiba.

"Jangan terlalu dimasukin ke hati apa kata orang, Neng. Yang penting suami Neng kan selalu sayang." Ujar Bu Surti lagi.

Ramadan menjentikkan jari di depan istrinya, membenarkan perkataan ART mereka. Arini cuma bisa nyengir dan manggut-manggut mendengar ocehan Bu Surti yang bicaranya hampir mirip seperti mendiang mamak Ramadan. Perbedaannya, ibu Ramadan suku Melayu kelahiran Medan. Sedangkan Bu ART di rumahnya suku Sunda kelahiran Bogor.

"Banyak atuh Neng... orang yang punya momongan, tapi suaminya nggak seperhatian bang Ramadan." Ujar Bu Surti lagi.

Ramadhan Merindu 2

Hari yang ditunggu Ramadan dan Arini tiba. Hasil Lab kesehatan mereka sudah ada di dalam amplop yang sedang di pegang Ramadan.

"Kalau nanti ternyata aku yang mandul, abang harus nikah lagi, ya." Lirih Arini masih menatap suaminya dengan ekspresi memohon.

Permintaan konyol itu membuat Ramadan terkesiap. Lalu menyambutnya dengan tawa kecil yang terdengar aneh.

"Sayang, kita nggak perlu melakukan itu. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita." Ucap Ramadan sambil mengusap pipi istrinya dengan tangan kanan.

Ramadan membuka amplop itu perlahan. Matanya membaca satu kalimat di kertas hasil lab. Tangan pria itu langsung gemetar.

“Bang… hasilnya apa?” bisik Arini. Ramadan tidak langsung menjawab.

Karena di kertas itu tertulis jelas:

“Infertilitas berat pada pihak suami.”

Ramadan meremas pinggiran kertas itu hingga lecek. Dunianya seakan runtuh. Bagaimana mungkin dia menjelaskan pada Arini bahwa penyebab 'kekosongan' rahim istrinya selama ini adalah dirinya sendiri?

Selengkapnya di KBM App

Judul: Mandul?

Karya: Umm Auni

Ramadhan Merindu S 2 (On Going)

#UmmAuni

#KBM

#Novel

3/26 Diedit ke

... Baca selengkapnyaMenghadapi isu infertilitas memang bukan hal yang mudah, terutama saat tekanan dari lingkungan sekitar datang tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebagai seseorang yang pernah mengalami proses cek kesehatan bersama pasangan setelah menikah selama beberapa tahun tanpa kehamilan, saya dapat merasakan betapa beratnya beban mental yang harus ditanggung. Seringkali, ibu atau saudara sekitar memberikan komentar pedas yang seakan tanpa empati, seperti pengalaman Arini yang disebut mandul oleh sepupunya. Namun, dari pengalaman saya pribadi, yang terutama adalah komunikasi terbuka antara suami dan istri. Karena tanpa dukungan pasangan, perjuangan ini bisa terasa makin berat. Selain itu, penting untuk tidak langsung menyimpulkan siapa yang bermasalah tanpa pemeriksaan medis lengkap. Ternyata, kasus infertilitas bisa berasal dari suami maupun istri. Jadi, cek up ke dokter bersama sangat dianjurkan untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan rencana pengobatan yang sesuai. Di tengah ketidakpastian, mempersiapkan mental sangat penting. Sikap Arini yang ingin mempersiapkan mental sebelum cek up ke dokter adalah hal yang bijak, karena perjalanan ini memerlukan kesiapan emosional. Kisah Ramadan yang menerima hasil lab yang tidak mudah dan tetap optimis memberikan pelajaran berharga bagi kita bahwa masalah ini bukan akhir segalanya. Dukungan dan cinta antar pasangan menjadi kunci utama agar tetap kuat menghadapi cobaan. Selain aspek medis, penting juga untuk menjaga pola hidup sehat, seperti makan makanan bergizi, rutin berolahraga, dan mengelola stres agar kesempatan untuk memiliki momongan semakin besar. Bagi para pasangan muda yang sedang mengalami kendala serupa, saya ingin mengatakan jangan berkecil hati. Selalu cari informasi yang benar dan ikuti nasihat tenaga medis. Jangan terlalu memikirkan pandangan negatif orang lain, karena perjalanan setiap pasangan berbeda dan semua butuh waktu serta usaha. Semoga cerita seperti kisah Arini dan Ramadan ini bisa menjadi inspirasi dan pengingat bahwa bersama-sama, apapun masalah yang ada pasti bisa dilewati dengan baik.