Rasa penasaran menyik saku. Saat aku mence kal lengan Dika untuk menanyakan alasan sebenarnya Farhan begitu terob sesi ingin rujuk, Dika hanya menjawab dingin, “Kemasi barang-barangmu.”

Ia memerintahkanku membawa seluruh isi koper dari ru mah Farhan.

C“Kamu ikut aku. Mulai malam ini,” lanjutnya.

Aku tertegun. Tingg al satu atap dengan mantan kekasih yang dulu kuting galkan demi Farhan terasa seperti ironi takdir yang ke jam.

Di ru mah lama, Farhan mera dang melihatku berkemas. “Cepat juga kamu nurut sama laki-laki baru,” sindirnya si nis.

Aku membalas telak, “Lebih cepat kamu yang menja tuhkan talak tiga.”

Ketega ngan memuncak ketika Farhan mencoba menghalangi kepindahanku.

Dika muncul di ambang pintu dan memberi peringa tan rendah yang menghan curkan har ga diri Farhan: “Jangan bercanda. Kamu tidak akan sanggup mengetahui kapan waktunya kami menya tu.”

Wajah Farhan merah padam, menatapku seolah aku adalah ba rang miliknya yang akan segera "dipa kai" orang lain.

Dika membawaku ke sebuah ru mah minimalis dua lantai yang nyaman. Jauh berbeda dari kondisinya dulu saat dito lak orang tuaku. Namun, sambutannya jauh dari hangat.

Saat aku bertanya mengenai posisiku di ru mah itu, jawabannya menusuk.

“Saudara. Yang menumpang.”

Dika menegaskan bahwa pernikahan ini hanya sah di atas kertas dan ia tak ingin cero boh jika ada tetangga yang mengenalku sebagai istri Farhan.

Aku mengangguk, mencoba membentengi hati. Aku tak boleh jatuh cinta lagi padanya. Fokusku sekarang adalah keadilan. Aku ingin Farhan merasakan sa kitnya dikhi anati sebelum semua ini berakhir.

Ma lam pertama di ru mah Dika tidak berjalan tenang. Saat aku berdiri di depan jendela, ponselku bergetar. Farhan menelepon dengan suara lirih yang mengan cam, “Aku tahu kamu di mana. Kamu pikir aku sebod oh itu, Sahila?”

Di saat yang sama, pintu ka marku terbuka. Dika berdiri di sana, bertanya dengan nada pelan namun ta jam, “Siapa yang meneleponmu?”

Aku terjepit di antara ob sesi mantan suami dan dinginnya suami baru yang menyimpan banyak rahasia.

Judul: Muhallil itu Mantanku

Penulis: Ciel Yassar

Selengkapnya di KBM

#CielYassar

#KBM

#Novel

3/28 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman menjalani hubungan yang rumit seperti kisah ini memang penuh liku dan emosi yang mendalam. Pernikahan yang hanya sah di atas kertas, seperti yang dialami oleh tokoh utama, dapat menimbulkan rasa tidak aman dan kebingungan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Saya pernah membaca cerita serupa di mana seorang wanita harus berjuang menghadapi kenyataan bahwa suaminya memiliki masa lalu yang belum tuntas dan hadirnya sosok mantan yang kembali mengusik ketenangan hati. Dalam konflik ini, perasaan terjebak di antara mantan dan suami baru sangat mengguncang mental. Saya pribadi menyarankan untuk selalu menjaga komunikasi terbuka dan menetapkan batasan yang jelas agar tidak terjebak dalam situasi yang berpotensi menyakiti hati. Kisah ini juga menyinggung proses perselingkuhan dan talak tiga yang sangat menyakitkan, yang menjadi pengingat pentingnya saling menghargai dan kejujuran dalam hubungan. Selain itu, penerimaan terhadap rumah minimalis yang jauh berbeda dari rumah masa lalu bisa menjadi simbol bahwa memulai kehidupan baru memang membutuhkan adaptasi dan keteguhan hati. Pengalaman menempati rumah baru dengan posisi 'saudara yang menumpang' memberi gambaran bagaimana seseorang harus siap menghadapi penilaian sosial dan stigma dari lingkungan sekitar. Saya percaya bahwa fokus pada keadilan dan penyembuhan luka batin adalah cara terbaik untuk melanjutkan hidup setelah dikhianati. Penting juga untuk mengelola emosi agar tidak jatuh ke dalam cinta yang membingungkan hati. Jika Anda pernah berada dalam situasi serupa, usahakan mencari dukungan dari keluarga atau teman dekat yang dapat membantu Anda melewati masa sulit ini. Drama percintaan seperti ini seringkali menjadi pelajaran berharga dalam memahami arti cinta, kepercayaan, dan pengorbanan. Semoga kisah ini bisa memberi inspirasi dan pemahaman lebih dalam tentang dinamika hubungan dan pentingnya menjaga integritas diri.