"Ini mele puh, Bi! A nakmu bisa infeksi kalau didiamkan! Mana ada kece lakaan dapur sampai ibunya berlumu ran sirup begini? Kamu suami macam apa?!"
"Tadi Marwa-nya yang emosi, Pak, jadi…"
"Sudah! Jangan banyak alasan!" p0t0ng Pak RT tegas. "Cepat keluarkan mobilmu! Antar istri dan a nakmu ke dokter sekarang juga. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Bagas, saya sendiri yang akan lapor polisi atas dugaan pengani ayaan 4nak!"
Mendengar kata 'polisi', Mas Abi ters3ntak. Dengan wajah masam dan langkah ogah-ogahan, dia masuk mengambil kunci mobil.
Aku menatap Pak RT dengan sisa tenaga yang ada. "Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Mbak Marwa. Sabar ya. Kalau Abi macam-macam di jalan, telepon saya," bi5ik Pak RT yang hanya kubalas dengan anggukan lemah.
Aku masuk ke dalam mobil, duduk di kursi belakang, bukan di sampingnya. Aku tidak sudi duduk sejajar dengan pria yang hatinya lebih dingin dari es sirup yang dia guyurkan ke kepalaku.
Di dalam kabin, Mas Abi sesekali melirikku dari spion tengah dengan tatapan ben ci. "Puaskan kamu sekarang? Bikin m4lu aku di depan Pak RT? Dasar istri pembawa si4l!" de sisnya pelan agar tidak terdengar ke luar.
Aku hanya diam, mend3kap Bagas semakin erat. Dalam hati aku bersumpah, perjalanan ke dokter ini adalah perjalanan terakhirku menggunakan fasilitas darinya. Besok, tidak akan ada lagi Marwa yang bisa dia injak-injak demi nama baik palsunya.
Bau karbol dan suara erangan pasien lain menyambutku di ruang UGD. Bagas terbaring lemah di atas bed putih, lengan kirinya yang mel3puh sedang dibersihkan oleh perawat. Isak tangis 4nakku sudah berganti menjadi r1ntihan halus yang menya yat hati.
"Ibu... pe rih..."
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi dikasih obat," bi sikku sambil mengvsap keningnya yang berk3ringat.
Aku menoleh ke arah Mas Abi, berharap dia setidaknya memegang tangan a naknya. Namun, pemandangan di depanku membuat da rahku kembali mend idih. Dia berdiri di sudut ruangan, ponselnya terangkat setinggi da da.
"Ya, pemirsa... begitulah cobaan di hari lebaran. A nak saya tiba-tiba kena mvsibah. Mohon doanya ya agar Bagas cepat sembuh. Jangan lupa like dan comment untuk kesembuhan Bagas," ucapnya pelan, nyaris berbi sik ke arah kamera ponsel.
"Mas! Administrasi sudah diurus belum? Bagas harus segera dapat tindakan lebih lanjut!" suaraku meninggi, tak peduli lagi pada tatapan orang sekitar.
"Bentar, Mar! Ini lagi live sebentar, biar pengikutku tahu kalau kita lagi dapat ujian. Ini juga buat konten edukasi!" sahvtnya tanpa merasa berdosa.
Tiba-tiba, tirai pembatas disingkap kasar. Seorang dokter pria dengan stetoskop di l3hernya masuk dengan wajah tegang.
"Bapak! Bisa simpan HP-nya?!" tegur dokter itu dengan suara bariton yang tegas. "A nak Bapak sedang kesakitan, kulitnya melepvh derajat dua karena cairan panas. Bukannya mendampingi, Bapak malah sibuk buat konten? Di mana empati Bapak sebagai orang tua?"
Mas Abi tersen tak, wajahnya memerah. "Saya cuma mau berbagi kabar, Dok…"
"Berbagi kabar atau cari perhatian?" p0tong perawat yang sedang memb4lut lvka Bagas dengan si nis. "Baru kali ini saya lihat bapak-bapak yang a naknya lvka bakar tapi lebih sibuk cari angle kamera. Kayak nggak niat punya 4nak saja!"
Mas Abi bung kam seribu bahasa. Dia melirikku dengan tatapan ta jam, seolah semua penghi naan ini adalah salahku. Namun, penderi taannya belum berakhir.
Seorang bapak tua yang terbaring tiba-tiba bersuara se rak.
"Nak..." panggil bapak tua itu pada Mas Abi. "Dunia ini cuma titipan. Jangan sampai kamu sibuk mengejar bayangan di dalam kotak kecil itu, sampai kamu lupa menjaga da rah dagingmu yang nyata di depan mata. Nama baik di media sosial itu semu, tapi lu ka di hati 4nak itu abadi."
Begitu dokter dan perawat keluar, Mas Abi merang sek mendekatiku. Wajahnya gelap oleh ama rah yang tertahan. "Puas kamu, Marwa?! Kamu sengaja kan bikin aku ma lu di depan dokter dan pasien lain?!"
Bersambung
Baca lengkap di KBM
Judul. A nakku disiram kuah panas mertuaku, tapi suamiku diam saja.
Author. Ami Furqan
Pengalaman menyaksikan atau mengetahui kejadian kekerasan dalam keluarga, terutama terhadap anak, memang sangat memilukan. Luka bakar yang dialami Bagas tentu bukan hanya menyisakan bekas fisik, tetapi juga dampak psikologis yang dalam bagi anak dan keluarganya. Saya pernah bertemu dengan beberapa orang tua yang mengalami situasi serupa, di mana trauma fisik anak berlanjut menjadi trauma emosional yang lama. Sebagai orang tua, sangat penting untuk menjadi pelindung utama bagi anak. Ketika gadis atau anak-anak mengalami cedera serius akibat tindakan anggota keluarga lain, langkah pertama adalah memastikan keselamatan dan perawatan medis yang tepat segera dilakukan. Komunikasi yang baik antar anggota keluarga juga sangat dibutuhkan, terutama dalam situasi emosional seperti ini. Yang memprihatinkan dari cerita ini adalah sikap suami yang terkesan mengabaikan kondisi anaknya dan malah memprioritaskan konten media sosial. Hal ini mencerminkan fenomena di era digital sekarang di mana bahkan pengalaman pribadi yang serius bisa dijadikan bahan ekspos di internet, kadang tanpa sadar merugikan kesejahteraan keluarga secara nyata. Saya sangat setuju dengan nasihat bapak tua di rumah sakit yang mengingatkan agar tidak mengejar popularitas maya sampai mengabaikan orang yang kita cintai. Bagi para pembaca yang mungkin mengalami konflik keluarga atau melihat tanda-tanda kekerasan pada anak atau anggota keluarga lain, saya sarankan untuk segera mencari bantuan dari pihak profesional, seperti psikolog, dokter, atau lembaga perlindungan anak. Jangan ragu untuk melaporkan kekerasan demi keselamatan dan masa depan anak. Cerita ini juga menjadi pengingat bahwa nama baik di media sosial tidak sebanding dengan luka dan rasa sakit yang dialami orang terdekat. Dukungan dan empati dari lingkungan sekitar, seperti sosok Pak RT dalam cerita ini, sangatlah berarti dalam memberikan kekuatan bagi korban untuk berani menghadapi situasi sulit. Semoga kisah ini menjadi pelajaran dan menginspirasi semua pihak untuk lebih peduli dan peka terhadap dinamika keluarga, khususnya agar anak-anak bisa tumbuh dalam lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang.

