"Mas tanya sama kamu, dari mana?" tanya ulang Herdian. Namun Nadira tetap diam tak bersuara membuat Herdian mulai kesal. "Kamu jangan kayak a n a k kecil, Dira! Yang ngambeknya mogok ngomong. Nggak biasanya kamu kayak gini. Kalaupun kamu mar ah, kamu itu tetap seorang istri, kemana-mana harus izin sama Mas. Apa susahnya kasih kabar? Punya ponsel buat apa gunanya kalau bukan untuk mengabari?

Nadira merogoh saku gamisnya lalu mengeluarkan benda persegi yang retak di bagian layarnya dan menyodorkan itu pada Herdian.

"Ponsel kamu rusak? Sejak kapan?" Tapi lagi-lagi Nadira diam. Dia tidak menjawab dan malah memilih untuk membereskan barang belanjaannya terlebih dahulu.

"Kamu punya mulut, kan?! Kamu bisa bicara, kan? Bicara, Nadira! Jangan kayak orang b i s u!" Te riak Herdian memekakkan telinga. "Mas gak suka kamu kayak gini. Ke mana perginya suara kamu yang selama ini selalu keluar tanpa diminta? Kenapa tiba-tiba suara kamu hilang, ha? Jangan permainkan Mas seperti ini! Mas gak suka, Nadira!"

"K-kamu dengar omongan Mas sama Derry? Kamu jangan salah paham! Itu cuma keluhan biasa seorang teman pada teman yang lainnya. Bukan maksud Mas…"

"Mening galkan istrinya di rum ah dan malah memilih pergi dengan wanita lain ke pesta. Membicarakan keburukan istri lalu menyatakan kekaguman pada wanita lain, menurut Mas itu cuma perkara biasa? Mas kira aku bisa terima itu?! Sekarang ayo kita balik keadaannya, aku yang curhat begitu dengan Chilla, aku curhat kalau aku bosan sama kamu dan aku malah suka sama laki-laki lain dan hangout sama laki-laki itu, apa kamu terima?" Mata Herdian membe lalak, membayangkan Nadira pergi dengan laki-laki lain tentu membuat da rahnya mendi dih seketika.

"Jangan punya pikiran jalan dengan laki-laki lain, kamu tahu itu d o sa." Nadira tetawa si nis. "Lagi pula Mas bukannya bosen sama kamu, Mas cuma bilang kamu terlalu berisik. Kamu tahu sendiri kalau Mas suka keadaan yang tenang. Asal kamu tahu, setiap Mas bawa kamu ke pesta, beberapa dari mereka terkadang membicarakan kamu yang terlalu banyak bicara di belakang. Mas malu, Nadira."

"Jangan banyak alasan lagi, Mas. Bukannya kamu belain aku, kamu malah merasa malu? Pantas orang lain sepelekan aku, kamu saja sebagai suami gak menghargai aku. Aku pikir selama ini kamu cinta dan terima aku apa adanya, ternyata kamu cuma pura-pura. Kamu nggak suka aku berisik? Dari dulu aku memang berisik, cerewet, dan banyak omong, semua orang di sekitar aku tahu itu, dan kamu tetap nikahin aku. Kenapa?!

"Masalah kita gak sesimple ini. Semua bukan hanya perkara keluhan kamu ke aku yang terlalu berisik, tapi kamu juga dengan sadar bilang kagum sama perempuan lain. Kalau kamu serius dengan Safira, aku rela lepas kamu buat dia. Bukan agar kamu bahagia sama dia, aku gak senaif itu. Tapi aku lakuin itu buat diri aku sendiri. Kamu pikir aku masih mau hidup dengan laki-laki yang di kepalanya hanya ada bayangan perempuan lain? Aku gak bisa!"

"Kamu jangan berlebihan, Nadira! Aku memang kagum sama Safira, tapi bukan berarti suka dan cinta sama dia. Kamu harus bisa ngebedain itu!"

"Nggak, aku nggak bisa bedain. Karena menurut aku, peluang jatuh cinta sama lawan jenis itu dimulai dari rasa kagum duluan. Dan itu yang aku rasain ke kamu dulu. Kamu sudah ada di step awal, Mas. Jika kamu memilih untuk memelihara kekaguman kamu itu, aku mundur sekarang. Kita… p i s a h aja!"

Judul: Fakta di Ujung Lidah Suami

Penulis: Husnaaddawiyah

Eksklusif di KBM

#FaktadiUjungLidahSuami

#KBM

#Novel

#Husnaddawiyah

4/4 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam menjalani rumah tangga, komunikasi yang baik adalah pondasi utama untuk menjaga keharmonisan. Pengalaman saya pribadi mengajarkan bahwa ketika hal kecil seperti saling memberi kabar bisa menjadi masalah besar, itu menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam hubungan. Seperti yang terjadi pada Nadira dan Herdian, masalah komunikasi bisa memicu pertengkaran yang berlarut-larut. Saya juga pernah merasakan bagaimana perasaan tidak dihargai dan rasa cemburu yang muncul ketika pasangan mulai menunjukkan perhatian lebih kepada orang lain. Kadang, merasa bahwa pasangan tidak lagi mencintai kita apa adanya membuat beban mental yang berat. Dalam situasi seperti ini, berdiskusi secara jujur dan terbuka sangat penting agar tidak ada asumsi atau prasangka negatif yang membesar. Masalah Nadira yang ponselnya rusak dan tidak bisa memberi kabar menonjolkan pentingnya teknologi dalam menjaga komunikasi. Namun, yang lebih penting adalah niat dan usaha untuk tetap terhubung dan saling memahami. Herdian yang merasa risih dengan sifat Nadira yang cerewet sebenarnya juga menyimpan rasa malu terhadap komentar orang lain, ini mengingatkan kita bahwa perasaan dan pendapat lingkungan sekitar bisa memengaruhi hubungan. Tentang kekaguman Herdian kepada wanita lain, saya percaya bahwa rasa kagum adalah hal wajar, namun bagaimana kita mengelolanya sangat menentukan keberlangsungan hubungan. Jika rasa kagum itu membuat salah satu pihak merasa tersakiti, maka perlu ada klarifikasi dan penguatan komitmen. Melalui kisah Nadira yang akhirnya memutuskan untuk berdiri di kakinya sendiri, saya sadar bahwa setiap individu berhak dihargai dan dicintai tanpa syarat. Jika hubungan sudah tidak sehat dan membuat satu pihak menderita, mengambil langkah tegas seperti berdiri sendiri atau pisah mungkin menjadi jalan terbaik meskipun berat. Dari sudut pandang pengalaman saya, menjaga kepercayaan, komunikasi, dan saling menghargai adalah kunci agar cinta dalam rumah tangga tetap tumbuh dan bertahan. Kisah ini mengingatkan kita untuk tidak menyepelekan tanda-tanda retaknya hubungan dan berani mengambil langkah yang benar demi kebahagiaan masing-masing.