Bab 4
Bagus. Sekarang aku resmi ting gal seru mah dengan orang asing yang mengunci dirinya sendiri karena takut dite rkam suaminya. Padahal boro-boro mau mener kam, melihat bentukannya yang kayak begitu saja selera makanku langsung hilang.
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat dan perutku mulai berisik, aku mendengar ketukan ragu di pintu ka marku. Aku membukanya dengan wajah malas.
"Ada apa?"
"Alina izin keluar ya, A. Mau beli makanan, Alina lapar. A Dirga mau dibeliin apa? Sekalian Alina beliin."
"Ini u ang nafkah dari aku. Terserah kamu mau beli apa. Kalau kurang, tin ggal bilang saja. Tapi ingat satu hal, Alina. Aku hanya akan memberimu nafkah lahir. Jangan pernah menuntut nafkah batin dariku. Paham?"
"Alina masih punya u ang sendiri, A. Terima kasih."
Dia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar tanpa menyen tuh sepeser pun u ang dariku. Si al. Sombong sekali a nak ini. Aku berdiri di ruang tengah, menatap pintu yang tertutup dengan perasaan dongkol yang tidak bisa kujelaskan.
Dua jam berlalu.
"Gara-gara Mama nih ah. Kenapa aku malah dititipin a nak TK sih? Bikin repot aja," omelku frustrasi.
Untuk mengalihkan rasa cemas yang mulai menggerogoti gengsi, aku memutuskan mandi. Air hangat pasti bisa mendinginkan kepala yang nyaris ngebul ini.
Baru saja aku mengguyur kepala dan sabun masih memenuhi ba danku, bel unit apartemen berbunyi nyaring. Berkali-kali. Mataku terbuka lebar. Sabun pedih masuk ke mata.
"Si al!" umpatku. "Tadi ditungguin dua jam enggak nongol-nongol, giliran gue mandi dia datang!"
Bel itu bunyi lagi. Kali ini lebih panjang, seolah yang mencet di luar sana sedang panik atau kebelet pipis.
Aku berlari kecil keluar ka mar mandi, meninggalkan jejak air di lantai. Dengan napas ngos-ngosan, aku membuka pintu depan.
Pintu terbuka lebar.
Alina berdiri di sana sambil menenteng kresek. Dia mendongak, melihatku.
"Aaawww!!!" Alina menjerit histeris. Refleks tangannya yang memegang kresek naik menutupi matanya.
"Astagfirullah!" teriaknya panik sambil balik badan menghadap tembok koridor.
"Heh! Alina!" panggilku kesal.
"Kamu anggap aku ini hantu apa? Gak ada sopan-sopannya sama suami. Main lari aja!" omelku sambil mengusap mata yang pedih.
Ups.
Apa tadi aku bilang? Suami?
"Maaf... Maaf, A," cicitnya. "Tapi Aa kenapa enggak pakai baju?"
Dar ahku naik ke kepala. Malu bercampur gengsi.
Aku berjalan mendekatinya dengan langkah lebar, sengaja membuat suara hentakan kaki biar dia tahu aku sedang ma rah.
"Ini gara-gara kamu pulang enggak tahu waktu!" semburku galak. "Kenapa kamu pulang pas aku lagi mandi? Dari tadi aku tungguin, kamu enggak pulang-pulang. Giliran aku mandi, kamu malah mencet bel kayak orang kesurupan!"
"Iya, A. Maaf. Tadi antreannya panjang banget, terus Alina bantuin nenek-nenek nyeberang dulu."
Alasan klasik. Bantuin nenek-nenek? Sinetron banget hidupnya. Suaranya yang lembut itu malah membuatku makin kesal karena aku tidak bisa menemukan celah untuk ma rah lebih jauh.
Aku masuk ke ka mar dengan langkah lebar, mengambil kartu akses cadangan dari atas meja kerja. Aku kembali ke arahnya. Alina masih mematung di tempat yang sama, persis seperti patung manekin di toko baju muslim.
"Ini kartu akses masuk unit ini. Jadi kamu bisa bebas keluar masuk tanpa harus pencet bel. Mengganggu saja."
Aku menyodorkan kartu itu. "Ini, ambil!"
"Aw! Aa! Kok belum pakai baju juga?"
Dia menutup matanya rapat-rapat, bahkan kartu aksesnya terjatuh ke lantai. Si al, kenapa aku jadi terlihat seperti pria me sum di ru mahku sendiri?
"Masuk ke ka marmu sekarang! Cepat!"
Lanjutkan di KBMApp
Judul : Terpikat Istri yang Diabaikan
Penulis : Yasmine Bening








































