“Yang….” Roby memanggil.
Namun, Benaya tidak mendengar karena masih tenggelam dalam lamunan. Tatapan matanya kosong.
“Dasi yang motif garis-garis biru tua di mana?” tanya Roby.
Benaya masih bergeming.
“Ma!” Alana melambaikan tangan kanannya berkali-kali.
“Bu Naya.” Mbok Anik menepuk bahu Benaya.
“Eh, iya. Ada apa?” Benaya tergagap. Bagai keluar dari hutan yang gelap. Ia memandangi asisten ru mah tangganya
“Papa tanya dasi garis biru tua.” Alea yang menyahut.
Benaya mengembuskan napas panjang. Setelah meletakkan sendok kotor di wastafel, ia berjalan ke ka mar.
Roby mengikuti istrinya masuk ke kam ar.
Benaya membuka laci, mengambil dasi yang tertutup sapu tangan. Dasi itu diletakkan di tempat tidur.
“Nay, kamu berhak ma rah. Aku memang salah. Jangan diam terus,” ucap Roby.
“Aku akan mengajukan gugatan ce rai. Kamu bebas bersama istri mudamu dan menyambut kelahiran an ak kalian. Selamat.” Benaya bertepuk tangan.
“Aku mencintaimu, Nay. Aku akan bersikap adil.”
“Cinta? Kalau cinta, kenapa menikah lagi? Kalau mencintaiku, ting galkan Laura,” ucap Benaya.
“Nggak bisa. Laura sedang hamil, Nay.” Roby menggeleng. “Waktuku bersama a nak-a nak dan kamu lebih banyak. Kalian prioritas utama.”
“Kalau prioritas utama, hari ulang tahun a nak-an ak kamu nggak datang. Kamu memilih bersama gun dik kecil itu!” Benaya mengusap wajahnya sendiri. Mencoba meredakan emo si.
Roby memegang pundak istrinya. “Nggak akan terulang lagi. Aku janji.”
“Jangan se ntuh aku…. Aku membencimu. Kalau bisa, aku tidak mau satu atap. Bahkan tidak mau berbagi udara di bumi ini,” kata Benaya, menyingkirkan tangan Roby.
“Mama….” Alana memanggil dari luar ka mar. “Sudah waktunya kami berangkat sekolah.”
“Iya, bentar!” sahut Benaya, menyambar kunci mobil dan tas kecil di meja.
Alana melihat ke dalam ka mar, tampak sang Papa sedang memakai dasi.
“Lana, ayo,” panggil Benaya yang berjalan lebih dahulu.
“Tumben Mama nggak bantuin Papa pake dasi?” Alana bertanya.
“Mama buru-buru mau nganter kalian sekolah,” sahut Benaya. “Papa bisa sendiri.”
—
Sepulang mengantar sekolah, Benaya mengurung diri di kam ar tamu yang jarang ditempati. Ia mual jika berada di ka mar yang ditempati bersama Roby. Kecuali di malam hari, karena terp-aksa untuk menutupi masalah.
Awal menikah, Roby yang seorang sarjana hanya bekerja di kerajinan perhiasan perak. Ia tidak mengizinkan Benaya bekerja. Berusaha memenuhi kebut-uhan sehari-hari.
Kemudian, Roby yang tahu seluk beluk perhiasan ingin membuat usaha sendiri. Orang tua Benaya yang memberikan modal dengan menj-ual sawah.
Benaya Jewelry tidak langsung berhasil. Turun naik sewajarnya membangun usaha. Hingga akhirnya menjadi salah satu brand yang cukup terkenal dan terpercaya.
“Bu Naya, makan dulu.” Mbok Anik mengetuk pintu. Khawatir karena tahu sang majikan belum sarapan.
“Nanti.”
“Udah jam sepuluh, Bu. Nanti sa kit. Maaf kalau saya turut campur. Ibu jarang makan.”
“Aku bilang nanti!” teriak Benaya.
“Iya, Bu.”
Benaya menarik napas dalam-dalam. Ia sedang mematut diri di depan cermin. Cantik tapi tidak muda lagi. Kalah dengan gun dik berusia sembilan belas tahun yang masih segar.
“Bu Naya…. Ada tamu. Namanya Laura dan Bu Denisa.”
Benaya terdiam. Apakah harus menemui Laura?
“Bu Naya.” Mbok Anik mengetuk pintu.
Benaya menyisir rambutnya sebelum keluar kam ar. Ketenangannya luar biasa melihat Laura dan ibunya duduk di kursi ruang tamu.
“Ada apa?” Benaya tetap berdiri. Karena tidak ada waktu berlama-lama dengan dua wanita itu.
“Aku juga istrinya Abang. Selama seminggu Abang nggak datang menemui aku. Bukan hanya kamu yang sedih, aku juga sedih karena diabaikan suami,” cerocos Laura.
Benaya tersenyum getir.
“Aku mau ting gal di ru mah ini. Aku mengandung an ak Abang. An akku berhak ting gal di ru mah ini juga,” imbuh Laura. “Aku dan an akku juga berhak mendapatkan pengakuan!”
Baca selengkapnya di KBM app
Judul Bahagia Tanpa Papa
Penulis Stefani Wijanto
Pengalaman menghadapi situasi serupa tentu sangat berat dan menguras emosi. Saya pernah membaca kisah nyata dari seorang teman yang mengalami pengkhianatan serupa; suaminya mengabaikan keluarganya karena perhatian teralihkan pada wanita lain yang sedang hamil. Rasa sakit dan kecewa yang dialami sangat mendalam, apalagi ketika suami tersebut tetap berusaha mempertahankan citra "adalah yang terbaik untuk keluarga". Dalam kondisi seperti ini, saya menyarankan untuk menjaga kesehatan mental dengan berbicara kepada orang terdekat atau profesional. Penting juga mengalihkan perhatian pada hal-hal yang membangun, seperti berkarya atau mengembangkan usaha, seperti Benaya yang fokus pada bisnis perhiasannya meskipun sedang menghadapi masalah keluarga. Hal tersebut bisa menjadi pijakan agar tetap kuat dan tidak tenggelam dalam rasa sakit. Selain itu, mengurus anak menjadi prioritas utama yang membuat hidup tetap bermakna. Seperti yang dialami Alana, anak Benaya, menjaga rutinitas sekolah dan perhatian orang tua sangat diperlukan agar anak tetap merasa aman dan dicintai. Kisah ini juga menunjukkan betapa pentingnya komunikasi dalam rumah tangga, terutama saat menghadapi krisis. Ketidakmampuan Roby dan Benaya untuk saling mengerti justru memperburuk keadaan. Dari pengalaman saya, membuka dialog jujur bisa mengurangi kesalahpahaman, meski solusi tidak selalu mudah didapat. Akhirnya, dalam drama pernikahan yang kompleks dan penuh luka seperti ini, penting untuk menemukan kekuatan dalam diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita, agar bisa melangkah maju dan membangun kebahagiaan baru — bahkan jika tanpa hadirnya figur "papa" yang diharapkan dalam keluarga.

