Bab 1
"Ehem! Yang udah 19 tahun dapat kado spesial nih dari cowoknya," ledek Amel padaku.
Aku menunduk tersipu malu, tanganku masih bergandengan dengan Juan dan tanpa ku sangka dia menci um keningku di hadapan Amel.
"Gue kali yang dapet kado spesial dari Arin. Lo anterin cewek kesayangan gue balik ya Mel, tenang aja ntar gue kasih u ang jajan. Nginep lo di rum ah Omnya biar cewek gue nggak kena ma rah. Alesanya apa kek terserah lo asal jangan ketahuan aja gue yang ajak dia jalan."
"Tenang aja, aman itu mah. Asal ada yang jajan semua bisa diatur," jawab Amel sambil tertawa senang.
Di detik ini, aku yang masih dima buk cinta masih belum mengetahui jika ini merupakan sebuah transaksi besar dari Amel dan Juan. Amel yang kuanggap sahabat baruku ini ternyata melakukan sebuah kesepakatan dengan Juan. Kesepakatan yang menghancurkan harga diri dan kepera wanan ku.
*
"Amel, kamu tidur di sini?"
Pertanyaan ini datang dari Tante Salamah yang rupanya sedari tadi menungguku pulang sampai dia duduk sendirian di teras ru mah.
"Iya Tante, boleh ya? Soalnya kami keasikan cari buku tadi sampai lupa masih ada tugas yang belum selesai." Amel memang mahir membuat alasan dan kami terlihat seperti an ak yang g ila belajar.
Tante Salamah pun percaya saja, sama sekali tidak ada keraguan atau kecurigaan di matanya. Tante mempersilahkan Amel masuk, kami sempat makan kue buatan Tante dan berbincang seperti tidak terjadi apa-apa di luaran tadi. Namun, di sela-sela perbincangan kami, aku merasa bersalah pada Tante dan Om, aku merasa telah merusak kepercayaan mereka.
Seperti an ak sendiri, aku kerap kali mendapatkan nasehat untuk menjaga diri, untuk menjaga kesucian. Namun di hari ulang tahun ke 19 tahunku ini justru aku melepaskannya sebagai bukti cinta pada sosok laki-laki yang ku banggakan.
Klek!
Pintu ka marku akhirnya tertutup, aku menguncinya dan duduk di tepi ran jang dengan perasaan campur aduk. Ada rasa senang, tapi ada juga rasa bersalah pada ayah dan ibu di ru mah. Mereka menitipkan aku pada Om Ruslan dan Tante Salamah, supaya aku bisa belajar dengan baik dan pulang dengan membawa gelar sarjana. Tapi... malam ini aku seperti sudah merusak kepercayaan mereka semua.
"Aku tiba-tiba gelisah gini Mel, rasanya berdosa sama ayah dan ibuku," celetuk ku pelan.
Amel, dia duduk santai sambil berbalas pesan dengan entah siapa, tapi raut wajahnya kelihatan sangat tenang. "Santai aja, emangnya lo belum pernah sama sekali?"
Aku menggeleng dan dia semakin berbinar. Tawanya pe cah meledekku.
"Kampung banget sih lo. Biasa aja kali hal kayak gitu di sini. Gimana performa Juan, Oke ga? Sesuai ga sama ba dannya yang berotot itu?"
Aku menunduk malu dan mengangguk kecil. Jujur saja aku masih terbayang-bayang dengan apa yang kami lakukan bersama tadi.
"Seneng juga kan lo? Udah nggak usah jaim. Nih gue ada obat, lo cepetan minum biar nggak ada hal yang nggak diarepin kejadian." Amel memberikan dua buah pil kecil berwarna putih kekuningan padaku.
"Obat apa ini Mel?" tanyaku dengan polos.
"Itu pil KB, biar Lo besok tetep haid. Biar Lo nggak hamil." Amel berbisik pelan.
Aku terkejut, Amel seperti sudah mengetahui semuanya dan mempersiapkan semuanya. Namun, lagi-lagi dan lagi aku masih dibutakan cinta. Aku menganggap Amel memang biasa dan justru dia baik karena tidak ingin aku hamil.
*
Keesokan paginya, aku dan Amel berangkat bersama menuju ke kampus. Tidak ada yang aneh, semuanya normal saja. Sampai di tangga Juan menungguku.
"Sayang udah sampe? Gimana semalam, masih sa kit?" tanyanya penuh makna terselubung dan itu membuatku tersipu.
"Juan, jangan tanya begituan bisa nggak? Malu tahu, ini di kampus." Aku menarik ujung kemejanya, kedua pipiku sudah memerah seperti tomat.
Juan merangkul pundakku dan kami naik tangga bersama mening galkan Amel begitu saja tanpa banyak bicara. Namun, ketika aku menoleh menatapnya, Amel terlihat tidak suka, matanya sedikit memicing. Kenapa, ada apa? Apa dia ma rah?
Judul; Mencintai Musuh Mantan
Penulis: Mimi lita
Pf; KBM
Dari pengalaman pribadi dan cerita yang sering saya dengar dari teman-teman sebaya, usia 19 tahun memang menjadi masa yang penuh tantangan, terutama soal hubungan cinta dan bagaimana menjaga harga diri di tengah pergaulan bebas. Kisah dalam novel ini sangat menggambarkan konflik batin yang dialami banyak remaja perempuan, di mana mereka harus memilih antara mengikuti perasaan cinta atau mempertahankan prinsip dan kepercayaan dari keluarga. Pergaulan bebas seperti yang dialami karakter utama seringkali membawa risiko besar, seperti kehilangan kepercayaan orang tua, sampai potensi kehamilan di luar rencana. Penggunaan pil KB yang disebutkan Amel dalam cerita ini merupakan salah satu cara untuk mencegah konsekuensi yang tidak diinginkan, tetapi sebaiknya hal seperti ini dibarengi dengan edukasi dan pemahaman yang jelas tentang kesehatan reproduksi. Saya sendiri pernah mengalami tekanan dari lingkungan sekitar agar ikut dalam pergaulan yang tidak sehat, dan memang sangat penting punya teman terpercaya yang bisa memberi nasihat jujur serta tempat untuk bercerita tanpa merasa dihakimi. Selain itu, kisah tentang Amel yang ternyata membuat kesepakatan dengan Juan untuk membawa sang gadis ke rumah Om Ruslan demi menghindari kemarahan keluarga dan menyembunyikan hubungan mereka, juga merefleksikan situasi nyata banyak remaja yang harus berbohong demi menjaga hubungan pribadi. Namun, hal itu justru menimbulkan rasa bersalah yang mendalam, apalagi jika orang tua menitipkan kepercayaan besar yang akhirnya terasa dikhianati. Pengalaman ini mengajarkan bahwa cinta tidak selalu indah dan tanpa konsekuensi. Kita harus sadar bahwa menjaga harga diri dan komunikasi terbuka dengan keluarga sangat penting agar bisa melalui masa remaja yang penuh lika-liku ini. Dukungan dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan sahabat sejati sangat menentukan bagaimana seseorang mampu mengatasi cobaan tersebut dengan bijak. Semoga kisah ini bisa menjadi cermin bagi pembaca muda untuk lebih berhati-hati dan selalu menjaga dirinya serta membuat keputusan yang bijaksana dalam hal percintaan dan kehidupan sosial. Ingat, menjaga diri bukan berarti mengekang kebebasan, tapi merawat diri agar bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan bertanggung jawab.

