Aku berbalik, menatapnya lurus-lurus. Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat Abimanyu sebagai suamiku, melainkan sebagai pria asing yang menyedihkan.
"Mencu ri? Kamu pikir aku serendah itu, Mas?" ujarku dingin. "Ini u angku. Halal. Dan asalnya... bukan urusanmu lagi."
"Nggak mungkin! Kamu itu cuma istri yang tahunya minta du it sama aku! Dari mana kamu punya ju taan ru piah tanpa aku tahu?!" Mas Abi merangsek maju, ingin mere but kar tu itu, tapi aku lebih cepat menyimpannya.
"Dunia ini luas, Mas. Jangan pikir karena aku berasal dari keluarga mis kin dan yatim piatu, aku akan selamanya membiarkan diriku diin jak-in jak olehmu dan ibumu," aku merapatkan gen dongan Bagas yang sudah tertidur lelap karena pengaruh o bat.
"Oalah, sekarang sudah berani memerintah suamimu? Jawab aku! U ang dari mana itu? Apa kamu diam-diam jadi simpanan orang? Atau kamu menjual barang-barang Ibu di ru mah?!" tuduhnya tanpa saringan.
"Mas, dengar baik-baik," aku mendekatkan wa jahku, suaraku rendah namun ta jam menghu jam. "U ang itu halal. Hasil jari-jariku yang kamu bilang 'cuma main HP' setiap malam. Saat kamu tidur mendengkur, aku sedang menjemput takdirku sendiri agar tidak selamanya diin jak-in jak olehmu. Sekarang, minggir. Aku mau pulang."
Mas Abi mematung. Kata 'menulis' seolah menjadi bahasa asing baginya yang hanya tahu dunia pamer. Dia membiarkanku lewat, tapi matanya terus mengu liti pung gungku dengan rasa penasaran yang nyaris mele dakkan kepalanya.
"Nah, ini dia si pembawa si al sudah pulang! Mana a nak itu? Masih hidup?" tanya Ibu Tejo tanpa empati sedikit pun pada Bagas yang masih lemas dalam gen donganku.
"Bagas perlu istirahat, Bu," jawabku dingin, hendak melangkah ke kam ar.
"Tunggu dulu, Mar!" Mas Abi menahan lenganku. Dia menoleh pada Ibunya. "Bu, Ibu tahu tidak? Tadi Marwa bay ar ta gihan ru mah sa kit seju ta dua ratus pakai kartu A T M-nya sendiri. Dia nggak minta u ang ke Abi sedikit pun!"
"Menulis novel? Menulis cerita khayalan begitu bisa menghasilkan u ang? Jangan membual kamu, Marwa! Kamu pikir Ibu bo doh? Orang kerja itu berangkat pagi pulang sore, pakai seragam! Kamu? Cuma pencet-pencet HP sambil rebahan dibilang kerja? Paling itu u ang simpanan kamu dari orang lain, kan?!"
"Bu! Jaga bicara Ibu!" teri akku, da daku se sak. "Itu u ang halal!"
"Begini saja, Marwa. Karena kamu sudah som bong pamer u ang di depan suamimu, mulai bulan depan, Ibu nggak mau tahu. Kamu harus ikut urun bia ya ru mah ini. Ba yar listrik, air, dan u ang makan kamu sama Bagas. Kami nggak mau menampung orang kaya yang cuma numpang makan gra tis di sini!"
"Jadi... kalian menganggapku apa di ru mah ini?" suaraku bergetar. "Istri dan menantu? Atau penghuni kos yang harus bayar fasilitas?"
"Anggap saja begitu kalau itu bisa bikin kamu berhenti som bong!" sahut Ibu Tejo ke tus. "Besok Ibu catat berapa bi aya yang harus kamu setor. Kalau nggak sanggup ba yar, ya angkat kaki!"
Aku masuk ke ka mar dengan ha ti yang han cur berkeping-keping. Di ru mah ini, aku tidak sedang membangun keluarga. Aku sedang dikuliti habis-habisan oleh dua orang yang seharusnya menjadi pelindungku.
"Tunggu saja," de sisku sambil meme luk Bagas. "Kalian yang minta aku bayar seperti orang kos. Maka jangan salahkan aku jika suatu hari nanti, aku pergi dari kos-kosan bu suk ini."
Bersambung...
Baca lengkap di KBM
Judul. AN AKKU DISIRAM KUAH PANAS MERTUA, TAPI SUAMIKU DIAM SAJA
Author. Ami Furqan
Dalam kehidupan keluarga yang penuh tekanan dan ketidakadilan seperti yang dialami Marwa, keluar dari zona nyaman dan menemukan kekuatan diri menjadi kunci utama untuk bertahan. Dari pengalaman pribadi saya atau banyak kasus yang saya baca, seringkali wanita menghadapi konflik tidak hanya dengan pasangan tapi juga mertua yang sulit diajak kompromi. Hal ini sering membuat emosional dan mental terkuras. Marwa menunjukkan keberanian dengan bekerja mandiri menulis novel, yang bukan hanya sumber penghasilan tapi juga jalan bagi dirinya meraih kebebasan finansial. Banyak orang masih meremehkan pekerjaan menulis online atau mencipta cerita, menganggapnya bukan pekerjaan sesungguhnya. Namun, di era digital kini, menulis bisa menghasilkan nilai ekonomi yang nyata jika konsisten dan fokus. Selain hal finansial, penting pula untuk memiliki dukungan sosial emosional, entah dari sahabat, komunitas, atau terapis. Bertahan di lingkungan yang tidak harmonis bisa menimbulkan stres berat dan perasaan terisolasi. Dengan curhat dan berbagi pengalaman sesama yang menghadapi masalah serupa, kita bisa saling memberi semangat dan solusi untuk mengatasi situasi sulit. Saya juga belajar bahwa keterbukaan dan komunikasi yang tegas dengan pasangan sangat penting. Marwa mencoba menjelaskan kerja kerasnya dan uangganya yang halal, menegaskan harga dirinya, walau sayangnya suaminya kurang paham dan malah bertindak melawan. Ini menjadi pelajaran bahwa pasangan harus saling menghargai dan mendukung, jika tidak hubungan bisa semakin renggang dan menyakitkan. Kisah ini mengingatkan kita untuk tidak menyerah walaupun diserang dari berbagai sisi. Menemukan cara mandiri seperti Marwa menulis novel bisa jadi inspirasi bagi perempuan lain untuk membangun kehidupan yang lebih baik lewat kreativitas dan kerja keras. Punya penghasilan sendiri tidak hanya soal uang, tapi juga soal kebanggaan dan kemandirian. Karena keluarga ideal bukan hanya soal ikatan darah, tapi juga rasa saling menghormati dan melindungi. Berjuanglah untuk hakmu, jangan biarkan siapapun menginjak harga dirimu, dan ingat bahwa masa depan bisa kamu tentukan sendiri dengan langkah yang tepat.

