Aku pergi dengan alasan dinas, padahal akan menikah lagi. Aku kaya dan bisa menafkahi mereka… sampai istri pertamaku muncul di hari pernikahanku dan melakukan …

Bab 1

“Mbak! Mbak!” Keningku berkerut saat mendengar suara adikku.

Tumben sekali dia ke sini? Biasanya, setiap kali aku memintanya untuk datang, dia selalu menolak.

“Kamu kenapa sih, teriak-teriak kaya di kejar ha ntu saja!” seruku menatap Anisa.

“Kamu harus lihat ini, Mbak.” Anisa menyodorkan ponselnya ke arahku.

“Lihat apa? Wajah kamu kok serius banget.” Aku menatap aneh dengan sikap Anisa kali ini.

“Lihat saja, dulu. Nanti Mbak bakalan tahu.” Aku meraih ponsel tersebut.

Sebuah foto yang terpampang di layar ponsel adikku. Gambar yang diambil dengan jarak yang sedikit jauh. Saat aku memperhatikan kembali siapa seseorang yang ada di dalam foto tersebut, kedua mataku membulat.

“Mas Haris? Ini Mas Haris?” tanyaku menatap adikku. “Kamu ketemu Mas Haris di mana?”

“Iya. Itu suami Mbak yang tercinta. Seperti ini kelakuan suami yang selalu Mbak banggakan?”

“Apa maksud kamu?” tanyaku dengan bingung.

“Suami yang Mbak selalu bela, Mbak bangga-banggakan sedang bersama wanita lain. Tuh, Mbak lihat saja.”

Aku kembali menatap foto tersebut dan menggesernya. Di sana aku melihat suamiku tengah me rang kul seorang wanita dengan begitu me sra.

“Enggak mungkin, Nis. Ini pasti bukan Mas Haris. Ini pasti laki-laki yang hanya mirip dengan suamiku saja!”

“Mata kamu itu benar-benar sudah dibu takan sama omongan manis suamimu itu! Laki-laki bre ng sek ka ya dia apa bagusnya sih, Mbak?”

“Anisa, jaga bicara kamu!” be nta kku. “Mbak tahu kamu nggak suka sama Mas Haris sejak awal, tapi bukan berarti kamu bisa mem fit nah dia dan membuat rum ah tangga kami jadi be ranta kan!” lanjutku masih dengan emo si yang menggebu.

“Terserah Mbak. Saranku, lebih baik Mbak selidiki suami tercinta Mbak itu. Jangan sampai Mbak malah diti pu selama ini sama dia.” Aku menatap punggung Anisa yang sudah berlalu pergi.

Tidak mungkin Mas Haris me ngkhi anati pernikahan kami yang sudah delapan tahun ini. Selama ini tidak ada hal yang men curi gakan dari Mas Haris dan dia bersikap seperti biasa.

Tapi, apa aku harus mengikuti ucapan Anisa untuk menyelidikinya?

**

“Mas, kamu sudah pulang?” Aku menyambut kedatangan suamiku dan me nci um punggung tangannya. Hal yang selalu aku lakukan jika suamiku baru saja kembali bekerja.

“Ini oleh-oleh buat istri Mas tercinta.” Aku tersenyum dan meraih bungkusan makanan favoritku.

Bagaimana mungkin aku bisa percaya dengan apa yang dikatakan oleh Anisa, sedangkan sikap suamiku saja tidak ada hal yang harus aku curi gai.

“Aku siapin air hang at dulu untuk kamu ma ndi.” Langkahku terhenti saat Mas Haris menahan tanganku.

“Nggak usah, sa ya ng. Untuk kali ini biar aku yang me laya ni kamu.” Senyumnya begitu menenangkan, lalu bagaimana aku bisa mempunyai pikiran bu ruk?

Aku mengangguk dan memilih untuk menyiapkan pakaiannya.

Layar ponsel Mas Haris menyala membuat fokusku seketika teralihkan. Selama ini aku tidak pernah memegang ponselnya, karena aku sudah sangat percaya. Lagi pula, sejak menikah hingga delapan tahun pernikahan kami, aku belum melihat suamiku sendiri bermain wanita.

Rasa penasaran yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan, tetapi sejak Anisa memberikan foto di mana Mas Haris merangkul wanita, membuat rasa penasaranku menjadi mem buncah.

Sebuah pesan di layar ponsel Mas Haris membuat tub uhku seketika me mbe ku.

“Mas, dua hari lagi pernikahan kita. Kamu jangan lupa cari alasan sama istri kamu.”

Deg!

Judul: Kumi skin kan Suamiku di Hari Pernikahannya

Penulis: BlueGwen

Baca cerita selanjutnya di KBM App

#BlueGwen

#Novel

#KBM

4/30 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam kehidupan rumah tangga, kepercayaan adalah fondasi utama yang menjaga kebahagiaan dan keharmonisan pasangan. Namun, seperti yang terjadi dalam cerita ini, terkadang kecurigaan datang tanpa diduga, apalagi ketika ada informasi yang tidak sejalan dengan kenyataan yang kita lihat selama ini. Aku sendiri pernah mengalami situasi serupa, ketika seseorang yang aku percaya membuatku mulai meragukan semuanya. Awalnya, aku tidak ingin percaya gosip atau foto yang tidak jelas sumbernya. Namun, rasa penasaran dan kecemasan perlahan mulai mengambil alih pikiran. Foto yang diperlihatkan adikku menjadi titik balik, meski tetap aku coba tolak dengan alasan pria di foto itu mungkin hanya mirip. Saking kuatnya kepercayaan selama ini, rasanya seperti dikhianati ketika tiba-tiba muncul bukti-bukti yang mempertanyakan kesetiaan pasangan. Di momen seperti ini, perasaan campur aduk: antara marah, sedih, dan takut kehilangan. Kadang, aku bertanya-tanya, apakah aku harus membuka ponselnya untuk mencari kebenaran atau tetap menjaga jarak agar tidak menyakiti diri sendiri secara emosional. Dari pengalaman pribadi, menyelidiki secara hati-hati dan berbicara terbuka dengan pasangan ternyata lebih baik daripada diam dan membiarkan prasangka berlarut-larut. Komunikasi yang jujur menjadi kunci untuk menyelesaikan ketegangan dan menemukan solusi terbaik, entah itu memperbaiki hubungan atau mengambil keputusan berat. Selain itu, penting juga untuk tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan hanya dari satu sisi cerita. Setiap kejadian biasanya memiliki latar belakang yang harus dipahami dengan baik. Jadi, sebelum bertindak, atur emosi dan pikirkan langkah dengan matang. Jika kamu pernah atau sedang mengalami hal serupa, aku sarankan untuk mencari dukungan dari orang terdekat, seperti keluarga atau teman yang bisa dipercaya. Mendapatkan perspektif berbeda bisa membantu kita melihat masalah secara lebih objektif. Ingat, rumah tangga adalah perjalanan bersama yang penuh tantangan, dan kekuatan untuk melewati masa sulit adalah hal yang paling berharga.