BAB 1
"Assamua'laikum, Mas! Aku datang!"
Aku baru sampai lima menit yang lalu.
Tu buhku lelah, tapi jiwaku justru penuh dengan semangat yang membara.
Dua tahun lalu, Mas Rama pergi merantau setelah diangkat menjadi PNS dan ditempatkan di daerah terpencil ini.
Padahal aku sudah bilang, tidak perlu. Aku bukan wanita yang menun tut nafkah besar.
Aku seorang dokter kandungan. Kami bisa hidup cukup, bahkan lebih dari cukup.
Namun, dia tetap pada pendiriannya. Katanya ingin meneruskan cita-cita almarhum ayahnya, menjadi seorang guru.
Dan selama delapan bulan ini dia tidak pernah pulang.
Rindu ini sudah terlalu sesak.
Aku bahkan sudah membayangkan, saat pintu itu terbuka nanti, aku akan langsung meme luknya, menci umi wajahnya tanpa henti sampai dia kehabisan napas.
Sambil menunggu pintu terbuka, aku mengamati sekeliling.
Teras ru mah sederhana ini terlihat kotor. Bekas kopi mengerak hitam dikerubuti semut di atas meja. Rumput di halaman dibiarkan tumbuh li ar.
"Kamu dari dulu gak pernah berubah, Mas. Gak becus ngurus diri sendiri."
Justru itu yang membuatku semakin yakin. Keputusanku untuk datang ke sini adalah hal yang benar.
Bagaimana mungkin aku membiarkan suamiku hidup sendirian di tempat seperti ini?
Tanpa ada yang merawatnya? Tanpa kenyamanan yang biasa aku berikan?
"Mulai sekarang kamu tidak akan kesepian lagi, Mas."
Bi birku merekah sempurna membayangkan hari-hari yang akan kami lalui bersama, layaknya pengantin baru yang memulai semuanya dari awal.
Sekali lagi aku ketuk pintu itu. Mobil Rubicon yang kubelikan dulu, terparkir di garasi samping. Aku yakin Mas Rama ada di dalam.
Aku mengintip lewat celah gorden yang terbuka. Hanya saja terlihat lampu temaram di ruang tengah dan terdengar suara gemericik air di ka mar mandi.
"Mas, kamu lagi mandi ya?" te riakku lagi.
Kecil sekali kontrakan ini. Suara mandi pun, terdengar sampai ke teras.
Heran. Suamiku sering memintaku mengirim ua ng. Yang terbesar, delapan bulan lalu. Lima puluh ju ta. Aneh kalau dia malah ting gal di kontrakan yang cuma sebesar ruang tengah dan dapurku digabung jadi satu.
Tidak ada sahutan. Aku harus menunggu lebih lama lagi.
Dan semakin tak sabar.
Rasanya ingin aku do brak pintu lapuk ini, menero bos masuk ke dalam ka mar mandi. Lalu kami melakukan...
Ah, rasanya pipiku panas!
Setelah dua kali Assalamu'alaikum, barulah ada sahutan. Pintu terbuka, dan ....
Bi birku mendadak kaku. Dar ahku seolah berhenti mengalir.
"Maaf cari siapa ya?" Suara lembut itu datang dari seseorang yang jauh dari bayanganku. Itu membuat jantungku mencelos, lalu berdetak lebih li ar daripada sebelumnya.
Di hadapanku berdiri seorang ga dis muda. Wajah-wajah an ak SMA. Ia mengenakan daster tipis tanpa lengan. Rambutnya masih basah, membuat pa kaian da lamnya tercetak transparan.
Surat mutasi terjatuh dari tanganku yang gemetar. Tenggorokanku terce kik, napas pun terce kat.
Mataku terpaku pada perutnya. Perut bun cit itu tampak jelas ia sedang ha mil tua.
Refleks tanganku memegangi perutku sendiri, perut yang sudah kosong selama lima tahun.
"Bu ... maaf, Ibu cari siapa?" tanyanya lagi, masih dengan suara lembut, selembut kapas tapi beralk ohol di atas lu ka.
Mataku memanas. Pandanganku mulai kabur. Berbagai pertanyaan, mengisi kepala. Ini benar kontrakan suamiku, atau aku salah alamat?
Aku menenangkan diri, mencoba berpikir jernih. Semoga saja aku salah rum ah. Surat mutasi yang jatuh, kuambil kembali.
"Oh, ehm. Saya mencari ru mah Mas Rama. Apa kamu tau di mana?"
Gad is itu menatapku heran, lalu menjawab pelan, "Ibu ini siapa ya?"
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba tetap tenang.
"Aku Rindi… istri Mas Rama," ucapku lirih, suaraku nyaris tak terdengar.
Wajah ga dis itu sempat kaku sesaat.
Lalu… ia tersenyum tipis.
Tangannya mengusap perut bun citnya dengan lembut.
"Lucu," katanya pelan.
"Nama saya juga Rindi…"
Ia menatapku lurus.
"Dan ini… ru mah suami saya."
---
Baca selengkapnya di KBM app
Judul : Wanita Hamil di kontrakan suamiku
Penulis : Denaira













































