BAB 3

"Kamu... Main gi la sama muridmu, Mas?"

Aku langsung berdiri. Refleks. Menarik tanganku dari genggamannya.

"Rin, aku bisa jelasin—"

"Dari tadi itu saja yang kamu bilang," po tongku cepat. "Mana? Jelasin sekarang!"

Mas Rama membasahi bi bir nya yang kering. Jakunnya naik turun, jelas terlihat gu gup.

"Dia… Dike lu ar kan dari se kolah saat menjelang ujian karena ha mil. Aku… cuma kasihan."

"Kasihan?" ulangku pelan, nyaris tak percaya.

Tatapannya goyah. Ia menunduk. "Iya. Dia butuh perlindungan."

Aku tertawa si nis. "Lalu kamu mau jadi pahlawan kesiangan?"

"Aku hanya ingin menolong. Dia muridku. Masa depannya terancam."

"Kamu tampung di sini? Kalian tin ggal serum ah?" suaraku meninggi. "Atau sekalian kum pul ke bo?"

"Enggak, Rin! Aku enggak seperti itu!" bantahnya cepat.

"Lalu apa?" desakku. "Pria dan wanita ting gal satu atap? Apalagi dengan keadaan tadi—"

Da daku kembali sesak mengingat bagaimana aku menemukan mereka.

Mas Rama terdiam. Wajahnya menegang. Lalu, dengan suara pelan yang nyaris tak terdengar.

"Kami… sudah menikah."

Hening.

Sekali lagi, seperti baru saja gunung ditim pa ke atas kepalaku.

Aku menatapnya, kosong. "Mas… kamu…"

Tawa keluar begitu saja. Pahit. Re tak. Menya kitkan.

"Kamu bilang ingin melindungi dia, tapi kamu merun tuhkan ru mah tangga kita."

"Bukan begitu—"

"Lalu apa?" po tongku ta jam.

Dia menarik napas panjang. "Kamu di sana. Aku di sini. Aku butuh pendamping. Aku kesepian. Aku butuh figur istri," akunya.

Kalimat itu terasa seperti pi sau yang ditancapkan berulang kali ke da daku.

"Aku sudah memintamu tidak pergi," balasku lirih. "Aku tidak kekurangan apa pun. Kamu tidak perlu bersusah payah."

"Tidak bisa," ucapnya pelan. "Kamu terlalu bersinar. Karir kamu bagus. Pengha silan mu lebih tinggi dariku."

Aku menatapnya ta jam. "Apa aku pernah mengeluh soal itu?"

"Aku butuh pengakuan," lanjutnya. "Ayu hadir. Kepolosannya membuatku merasa nyaman, merasa dihargai. Dan dia kesulitan. Keluarganya butuh pertolongan. Kami saling melengkapi."

Aku memalingkan wajah. Air mata jatuh tanpa bisa kutahan. Tidak bisakah dia sedikit bersandiwara demi menjaga perasaanku?

"Sejak kapan?" tanyaku pelan, lelah.

"Delapan bulan lalu."

Aku mengangguk, pahit. "Pantas saja sejak itu kamu jarang pulang. Alasan sedang ujian, akreditasi, bimbingan siswa." Tawa si nis lolos dari bibirku. "Rupanya kamu membimbing siswa di dalam ka marmu."

"Jangan sangkut pautkan profesiku dengan masalah pribadi kita, Rin. Ini tidak ada hu bungannya. Ini murni soal perasaan pria dan wanita."

"Wanita mu rahan yang mau sama suami orang?"

"Rin! Jaga bicaramu. Nanti Ayu dengar."

"Kamu kira aku peduli?"

"Kasihani dia, Rin. Dia sedang ha mil. Nanti dia stress."

"Kamu terang-terangan membelanya? Di depanku?"

"Dia istriku juga, Rin. Aku bertanggung jawab atas perasaannya."

"Lalu perasaanku?"

Mas Rama menunduk. "Aku tidak bermaksud."

"Tidak bermaksud... tapi kamu melakukannya."

Ia terdiam. Cukup lama, lalu kembali bersuara, "Rin… tidak bisakah kamu menerima Ayu?" Nada bicaranya melembut. "Kita anggap saja a nak itu sebagai a nak kita."

Aku terpaku. Telingaku berdenging.

"Apa kamu sadar dengan permintaanmu, Mas?" desisku dengan suara kering.

"Aku sangat sadar, Rin. Kita belum punya an ak. Mungkin ini cara Tuhan menjawab doa kita."

Aku tertawa sekali lagi. Getir dan penuh rasa tidak percaya.

"Jangan menyembunyikan pengkhia natan dibalik kata takdir, Mas. Sampai kapan pun, aku tidak akan mengakui a nak dari wanita yang telah merebut suamiku sebagai an akku."

-TBC-

Baca selengkapnya di KBM app

Judul : Wanita Hamil di kontrakan suamiku

Penulis : Denaira

#Denaira

#Novel

#KBM

5/2 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman menemukan wanita hamil di kontrakan suamiku sungguh mengguncang hidupku. Awalnya, aku merasa bingung dan sangat terluka karena ternyata suamiku telah menikah lagi secara diam-diam dan memberikan dukungan pada wanita tersebut. Hal ini membuat aku bertanya-tanya tentang arti rumah tangga dan kepercayaan yang selama ini aku jaga. Aku memahami bahwa situasi ini bukan hanya soal perselingkuhan, tapi juga tentang tanggung jawab yang dibebankan pada hati dan perasaan kita. Dari saat aku mengetahui wanita hamil itu tinggal di kontrakan suamiku, aku mengalami pergumulan batin luar biasa: antara kecewa, marah, dan juga rasa kasihan pada kondisi wanita yang sedang hamil tersebut. Satu hal yang membuatku semakin terbebani adalah suamiku meminta aku untuk menerima wanita itu sebagai bagian dari keluarga kami, bahkan menganggap anaknya sebagai anak kami. Sebuah permintaan yang sangat berat untuk diterima, apalagi dalam keadaan hati yang terluka dan penuh tanya. Dari pengalaman ini, aku menyadari pentingnya komunikasi dalam rumah tangga dan betapa pentingnya keterbukaan agar pengkhianatan tidak terjadi. Aku juga belajar bahwa dalam menghadapi masalah yang sulit seperti ini, kita perlu kekuatan dan dukungan dari orang terdekat agar bisa menerima kenyataan dan melangkah ke depan. Jika kamu pernah mengalami hal serupa atau ingin memahami lebih dalam tentang dilema wanita hamil yang tinggal di kontrakan suami orang, cerita ini bisa menjadi pelajaran berharga bagaimana menghadapi situasi sulit dengan bijak dan menjaga harga diri dalam rumah tangga.