BAB 3
Sheilaluktri
Untuk pria dengan wibawa yang tak biasa. Semoga hari Anda menyenangkan.
Tak ada nama. Tak ada inisial. Hanya itu.
“Dari siapa ini?”
“Maaf,Pak. Saya tidak tau, kurirnya juga tidak tahu, Pak. Sudah diba yar lunas secara online.”
Tyo menatap buket bunga itu beberapa detik. Bunga-bunga putih segar dengan aksen hijau gelap. Lily putih. Tidak mencolok. Tapi justru karena itu terasa sedikit mengganggu pikirannya. Bukan tipe bunga yang biasanya dikirim oleh rekan bisnis atau klien. Terlalu halus. Terlalu personal.
Ia memasukkan kartu itu ke dalam saku jas, lalu memberi isyarat agar Clara kembali bekerja.
“Terima kasih, Clara.”
“Baik, Pak.”
Bertahun-tahun Tyo dan Larasati menikah, mereka bahkan belum dikarunia a n ak. Entah mengapa ada sesuatu dalam diri Larasati yang memaksa Tyo untuk tidak melewati batas. Larasati yang selalu menentukan batas itu, bahkan mereka sudah tidak tidur satu k am ar lagi.
***
Petang harinya, rum ah mewah di kawasan Menteng itu menyambut kedatangan Tyo dengan aroma bunga segar dan suara televisi yang masih menyala. Larasati sedang duduk di ruang tamu, menggulir layar ponsel dengan ekspresi datar. Gaun rum ah satin membalut tub uhnya, dan riasan wajahnya masih nyaris sempurna seperti pagi tadi.
Tyo melepas dasi dan meletakkan jasnya di sandaran kursi.
“Teh hangat, ada?” tanyanya ringan.
Larasati menoleh sekilas. “Mbak Susi lagi keluar. Bikin sendiri aja, Mas.” Suaranya datar, nyaris tanpa em osi.
Tyo hanya mengangguk kecil, lalu duduk di sofa dan memijat pelipisnya.
Larasati kembali menatap ponselnya, hingga sesuatu menc uri perhatiannya, sebuah kartu kecil berwarna krem yang mengintip dari saku jas Tyo. Tanpa permisi, ia mengambilnya.
Wajah cantiknya tiba-tiba memunculkan garis-garis ketidaksukaan. Padahal selama ini Larasati memba yar sangat mahal kepada salon kecantikan agar wajahnya bersih dari kerutan.
“Untuk pria dengan wibawa yang tak biasa.” Larasati membaca tulisan itu dengan nada keras, lalu menatap suaminya.
“Dari siapa ini?”
Tyo menoleh, dengan wajah lelah yang terlihat jelas, dia berkata,“Hah? Oh … itu kiriman bunga di kantor tadi. Nggak tahu dari siapa, nggak ada namanya.”
“Lucu juga. Mas punya pengagum?”
“Nggak tahu. Clara bilang kurirnya juga nggak dikasih info apa-apa. Mungkin cuma orang iseng.”
Larasati menatap Tyo tanpa senyum. “Iseng? Masih simpan bunganya?”
“Masih, di kantor.”
Larasati bangkit dari sofa tanpa berkata apa-apa lagi. Ia meningg alkan suaminya sendiri. Langkahnya tenang, tapi setiap hentak seolah memukul udara.
Tyo hanya menghela napas dan menyandarkan tu buh ke sofa. Terkadang ia heran melihat istrinya ini. Dia tampak sangat cuek seperti tidak peduli dengan keberadaan Tyo. Namun, saat ternyata ada yang berusaha mendekati suaminya, istrinya bersikap seolah-olah yang paling tersa kiti. Tyo bahkan sering bertanya-tanya apa arti dirinya untuk istrinya itu.
***
Sementara itu, di sebuah k amar sederhana dengan cahaya lampu LED kebiruan, seorang ga dis berambut panjang duduk bersila di depan laptop.
Alana.
Wajahnya tenang, tapi matanya bersinar penuh kepuasan saat layar laptop menampilkan notifikasi
📦 Paket telah diterima di alamat tujuan. Diterima oleh: Clara (Admin)
Ia lalu membuka folder data Om Tyo. Kebiasaan makan, jadwal meeting, lokasi favorit, bahkan catatan restoran tempat ia pernah makan malam bersama Larasati.
“Tenang, Om. Belum waktunya kamu tahu siapa aku sebenarnya,” katanya, sebelum menutup laptopnya dan berbaring santai di ranjang.
***
Judul : MENJADI SUGAR BABY SUAMI PACAR PAPA
Penulis : sheilaluktri
Hanya di KBM App
















































