BAB 2: BA YI YANG TAK BERDO SA
"Mas, demi Allah. Dia an akmu!"
"Masih mau mengelak? Itu hasil te s D N A dari ru mah sakit kredibel, Binar. Probabilitas Bram sebagai ayah biolo gis adalah nol per sen. Kamu pikir aku bo doh? Supir catering-mu itu, kan, yang sering menemanimu lembur sampai pagi di kantor?" Ratna menc ibir, bi birnya yang berlipstik merah menyala membentuk lengkungan s inis.
"Itu fit nah, Bu! Foto-foto itu editan. Aku dan Mang Maman cuma bekerja," bela Binar dengan sisa tenaganya. "Mas, aku selalu minta izin ke Mas kan, tiap ada pekerjaan."
"Bekerja atau 'dikerjai'?" po tong Ratna cepat. "Sudahlah, Bram. Jangan buang waktu lagi. Perempuan ini bukan hanya pezi na, tapi juga pembawa si al buat keluarga kita."
"Mas Bram ..." suara Sifa lirih, nyaris tak terdengar.
Bram segera menghampiri adiknya, berlutut di samping kursi roda dengan gu rat kecemasan yang nyata. "Sifa, kenapa kamu nekat ke sini? Kamu harus istirahat, Dek."
Sifa mera ih tangan Bram, matanya mulai berkaca-kaca saat melirik ke arah Binar. "Sifa cuma mau tanya langsung sama Mbak Binar. Mbak, kenapa Mbak tega? Apa karena Sifa terlalu sering dibelikan hadiah sama Mas Bram sampai Mbak iri dan mau mencela kaiku di dapur?"
Binar terbela lak di balik perbannya. "Apa? Mence lakaimu? Sifa, aku lari ke dapur justru karena mau menyela matkanmu dari le dakan ga s itu!"
"Tanda tangan, atau aku pastikan kamu membu suk di penjara karena laporan penga niayaan terhadap Sifa! Kamu juga nggak bakal bisa menemui Arka! Akan aku pastikan itu," an cam Bram, menyodorkan pena ke depan wajah Binar.
"Sekarang pergi dari hidupku. Dan bawa pergi a i b-mu itu," ujar Bram dingin setelah menyam bar map tersebut.
"Mas, ba yi kita ... dia masih di ruang NI CU. Dia butuh ayahnya. Tolong, adzani dia sebentar saja, Mas, doa kan dia," Binar memohon, mengabaikan rasa sa kit di sekujur tu buhnya.
Bram tertawa sumbang, sebuah tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada le dakan ga s yang meru sak wa jah Binar. "Untuk apa aku mengadzani an ak ha ram? Supaya dia tau siapa pria yang udah kamu bohongi? Nggak bakal pernah! Dia bukan da rah da gingku, Binar. Dia cuma sam pah yang harus dibuang, sama sepertimu."
***
"Ibu ... mohon maaf," suara suster itu bergetar. "Karena peralatan medis harus dilepaskan akibat penghentian bia ya dan kondisi ba yi yang memang menurun drastis sejak ..."
Jan tung Binar seolah berhenti berde tak. Dunia di sekelilingnya menda dak hening. "Sejak?"
"Ba yi Ibu ... sudah tidak ada. Pukul 15.15 tadi, ba yi laki-laki Ibu dinyatakan mening gal du nia."
"An akku sayang … ini Mama," bisik Binar lirih. "Maafin Mama ... maaf karena nggak bisa menjagamu. Maaf karena Papa bahkan nggak mau memberimu nama."
"Maaf, Ibu Binar. Karena pasien ba yi sudah dinyatakan mening gal dunia dan asu ransi sudah dicabut, mohon segera selesaikan bia ya pemula saran jena zah dan administrasi lainnya. Jika tidak, pihak ru mah sa kit tidak bisa menyerahkan jena zah untuk dibawa pulang."
Binar mendongak. Matanya yang sembap menatap petugas itu dengan tatapan yang kosong namun menu suk. "Berapa?"
"Totalnya dua pu luh de lapan ju ta rupiah, termasuk bia ya inkubator sebelumnya, Bu."
Binar tertawa. Tawa yang terdengar mengerikan di telinga siapa pun yang mendengarnya. Ia tertawa dengan air mata yang mengalir deras. "Dua pul uh delapan ju ta untuk nya wa anb akku yang bahkan belum sempat … tolong beritahu mantan suamiku bahwa ba yinya sudah mening gal."
Bersambung~
Judul: Den dam Istri Berwajah Lu ka
Penulis: Fidia KR
Aplikasi Membaca: KBM












![Foto bayi perempuan berambut hitam dengan dua kuncir, menatap kamera. Teks di atasnya bertuliskan "Bayi 2 bulan Udah bisa apa aja sih? [Cerita Newmoms]", dikelilingi ornamen mahkota dan bintang.](https://p16-lemon8-cross-sign.tiktokcdn-eu.com/tos-alisg-v-a3e477-sg/o0gE3XUJDwmDiY7YAAAbnefT7vDFvgERAECIf5~tplv-sdweummd6v-shrinkf:640:0:q50.webp?lk3s=66c60501&source=seo_middle_feed_list&x-expires=1818957600&x-signature=vogombWq1H8W0avd0NviyrUjvz0%3D)






