Bab 3
"Minum ini saja dulu," kata Dela sambil menyodorkan segelas Vodka. "Agar kau sedikit rileks."
Kirana menatap gelas bening itu sejenak, lalu tanpa berpikir panjang, ia meneguk isinya dalam sekali tegukan. Dela terkejut.
"Astaga, Kira! Itu bukan air putih!" seru Dela, tetapi semuanya sudah terlambat.
Kirana terbatuk, merasakan panas menyengat di tenggorokannya hingga ke da da. Bahkan wajahnya sudah memerah, dan tu buhnya seketika terasa ringan, seolah ruangan itu mulai berputar.
"Dela ...." Kirana tertawa pelan dengan mata yang sedikit sayu. "Kau benar ... rasanya ... sangat hangat."
Dela sempat melihat pria itu berbisik ditelinga Kirana. "Astaga, apa yang pria itu lakukan? ucapnya, lalu mencoba untuk melangkah lebih dekat.
Sementara itu, Kirana menoleh ketika merasakan pe lukan dari arah belakang, mata setengah terpejam karena efek alkohol. "Siapa kau ...?" tanyanya pelan.
Pria itu tersenyum simpul, lalu berbisik pelan di telinganya. "Seseorang yang mungkin saja akan membawamu pergi dari sini."
Pria itu hanya tersenyum. "Tempat ini terlalu ramai. Mau kubawa ke tempat yang lebih tenang?"
Di sisi lain, Dela akhirnya berhasil menerobos kerumunan dan berdiri di tempat Kirana menari tadi. Namun, ruang itu sudah kosong, tak ada tanda-tanda Kirana di sana.
Tanpa Dela tahu. Di salah satu ruangan VVIP club, Kirana duduk di sofa panjang dengan napas berat. Ia menatap pria di depannya dengan tatapan sayu, terlihat sangat mabuk dan kesadaran yang perlahan menipis.
Pria itu menatapnya tanpa kata, kemudian duduk di sampingnya. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya.
Kirana tak menjawab. Ia hanya mengusap wajah pria itu perlahan. "Aku bahkan tidak tahu siapa dirimu," katanya pelan.
"Maka jangan menyesalinya," ucap pria itu. "Karena sekali kau menjadi milikku, maka kau tidak akan bisa lari, sekalipun kau menangis."
Kirana hanya tersenyum tipis. "Aku tidak akan menyesalinya," bisiknya lirih.
*
Kepalanya terasa berat, dan juga sa kit. "Hah ... Aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas," gumamnya, lalu berusaha bangkit, tetapi tu buhnya seperti tak ingin diajak bekerja sama. Rasa nyeri di pinggang membuatnya terhuyung dan terjatuh.
Saat itulah, terdengar suara air yang berhenti mengalir dari arah ka mar mandi. Kirana menoleh dengan napas yang tercekat. Dan tak lama kemudian, seorang pria keluar dengan rambut basah dan handuk melingkar di pinggang.
Tatapan mereka bertemu.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya pria itu datar, lalu melangkah menghampiri Kirana yang masih mencoba menutupi tu buhnya dengan selimut.
Pria itu berhenti sejenak, menatap Kirana lama sebelum mengembuskan napas pelan. "Kau sebaiknya kembali berbaring. Kepalamu pasti masih terasa sa kit dan berat. Aku akan meminta seseorang untuk mengantarkan pakaian dan makanan untukmu."
Dahi Kirana mengerut. "Pakaian?" gumamnya pelan. Ia menunduk dan melihat tu buhnya yang tak mengenakan apapun, lalu segera menutupnya kembali dengan selimut. "Di mana gaunku?"
Pria itu terdiam sesaat, lalu berbalik. Ia mengenakan kemeja putihnya dengan begitu santai. "Gaunmu kotor dan sobek, aku akan menggantinya dengan yang baru," katanya pelan.
Kirana terdiam sesaat. "Jadi, apa yang sebenarnya terjadi semalam?" tanyanya seolah penasaran, meski ia sudah bisa membayangkan apa yang sudah terjadi ketika merasakan kondisi tu buhnya yang seperti itu, tetapi ia ingin mendengar langsung dari mulut pria yang ada di depannya.
Kirana menatap pria itu dengan lekat. Tak lama kemudian, tangisnya pun pe cah. Tentu saja ia tak baik-baik saja, tetapi kata-kata itu tak sanggup keluar dari bibirnya. "Bukankah aku wanita mu rahan?"
"Tidak," jawab pria itu cepat. "Kau adalah wanita yang sangat luar biasa, Nona. Dan mulai hari ini ... kau adalah kekasihku."
***
Baca selengkapnya di KBM App
Judul : Dicer aikan karena Man dul Dinikahi Pria Tajir
Napen : Amey_MK
































