BAB 6

Aruna menatap cincin yang ada di tangannya. Cincin pemberian Angga yang dia beli menggunakan u a ng Aruna. Walau hingga sekarang u a ng tersebut belum diganti, namun Aruna ikhlas karena setiap bulan Angga selalu memberi seluruh ga ji kepadanya. Terkadang R p. 5 0 0.0 0 0,- dan terkadang R p. 3 0 0.0 0 0,- setelah di po tong ini itu. Aruna bersyukur, karena tak semua suami mau memberikan seluruh si sa ga ji kepada istrinya. Lagipula, Aruna masih punya u a ng bu la nan dari peng ha si lan Mal Oasis.

Aruna me mbu ka mo bi le ban king-nya. Sisa ua ngnya tinggal 20ju ta an karena mer tua dan ip a rnya selalu meminta u a ng untuk berbagai ke bu tu han. Aruna tersenyum lembut, lalu menutup teleponnya.

"Alhamdulillah, sisa 20ju ta lagi," ucapnya kemudian.

"Kak Runa!" Terdengar suara Dinda dari luar kam arnya. Tak berapa lama Dinda me ne ro bos masuk ke ka mar Aruna sambil memainkan pon selnya. "Kak, tra ns fer u a ng 10ju ta donk. Dinda udah janji sama temen mau du gem," ucapnya tanpa basa-basi.

"10ju ta itu banyak, Dinda. Kenapa ham bur-ham bur in u an g untuk begituan. Lagian ini udah malam, gak baik keluar ru mah jam segini,"

"Kenapa sih malam-malam gini ri butt banget," ucap Azizah si nis.

"Ma, Dinda mau du gem. Tapi Kak Runa gak mau kasih u a ng," ucap Dinda me re ngek.

"Loh, kok gak kamu kasih!" Azizah menatap Aruna semakin si nis, seperti yang biasa dia lakukan setiap hari.

"Mah, u ang udah me ni pis. Bulan ini pe ng e lua ran terlalu besar. Ke un tu ngan Mal Oasis 2 0 0 ju ta an habis dalam beberapa hari,"

"Loh, itu salah kamu. Kenapa gak bisa atur ke ua ngan!"

"Tapi, Mah. Bulan ini Mamah beli tas baru, trus Dinda beli baju dan sepatu ..."

"Liat Mah, dia nyalahin kita! Kok gitu sih sekarang," Dinda menunjuk Aruna sambil cem be rut.

Plak! Azizah me nam par Aruna, hingga membuat pi pi Aruna me me rah, "Ku rang a j ar ya kamu. Kamu nu duh kita yang ngabisin semua u a ng?!"

"Gak gitu, Mah ...."

"Apa yang gak gitu!" Azizah me mu kul ke pa la Aruna, "Dengar ya. Kamu itu disini karena jadi istrinya Angga. Trus karna kamu banyak u a ng. Kita gak pernah suka sama kamu. Tanpa u ang, kamu itu bukan siapa-siapa. Ngerti gak!" Azizah men do rong Aruna, hingga menantunya tersebut ter ja tuh ke lantai.

"Dinda, tadi minta berapa?" tanya Azizah kepada putrinya. Nadanya mendadak melembut.

"10ju ta, Mah." Jawab Dinda kemudian.

"Tunggu apa lagi, cepat tra ns fer!" bentak Azizah. Aruna segera mengambil ponselnya dan men tran sfer u an g tersebut kepada Dinda.

"Asik, udah masuk. Dinda pergi dulu ya, Mah," Dinda berlonjak gembira dan langsung pergi mening galkan ru mah.

"Dasar me nan tu gak gu na!" ucap Azizah kemudian mening galkan Aruna yang masih me ring kuk di lantai.

Aruna terdiam sejenak. Setelah beberapa saat, air mata mulai me ne tes dari mata indahnya. Aruna mencoba menelepon Angga. Namun, teleponnya tak jua di ang kat. Aruna me na ngis ter se du, lalu perlahan ber ba ring ke tem pat ti dur nya, bersembunyi di balik se li mut sambil men gu sal air matanya.

"Gak papa, Aruna. Kamu masih punya Mas Angga." Ucapnya kemudian.

___

Baca Bab Selanjutnya hanya di KBM

Judul : Aruna Tu lang Ru suk Yang Tak Di inginkan

Penulis : Tepian Mahligai

#KBM

#Novel

#TepianMahligai

5/11 Diedit ke

... Baca selengkapnyaJujur, pas baca kisah Aruna ini aku kebayang gimana rasanya punya mertua dan ipar yang nggak menghargai sama sekali. Di satu sisi dia yang capek kerja, ngatur keuangan, bayar ini-itu, tapi tetap aja dicap menantu nggak guna. Kondisi kayak gini tuh sering banget kejadian di kehidupan nyata, cuma banyak yang milih diam. Kalau lihat pola di cerita, Aruna itu tipikal perempuan yang sayang banget sama suaminya, sampai rela dianggap "mesin uang" oleh keluarga mertua. Gajinya suami, keuntungan usaha Mal Oasis, semua dialirkan ke keluarga besar. Sementara kebutuhan mental dan fisiknya sendiri keabaikan. Yang bikin miris, ketika keuangan mulai menipis, malah dia yang disalahin karena dianggap nggak bisa atur uang. Di posisi Aruna, menurutku hal pertama yang penting banget adalah ngobrol serius sama pasangan. Bukan cuma curhat nangis di telepon, tapi bener-bener duduk berdua dan transparan soal kondisi keuangan: berapa pemasukan, berapa pengeluaran, dan mana yang termasuk kewajiban, mana yang cuma ikut-ikutan gengsi keluarga. Banyak istri yang takut dibilang nggak berbakti kalau bahas batasan keuangan, padahal ini menyangkut keberlangsungan rumah tangga mereka sendiri. Hal kedua adalah belajar bikin prioritas. Beda banget antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan itu semacam cicilan rumah, makan, pendidikan, kesehatan. Sedangkan keinginan, ya seperti dalam cerita: tas baru, baju, sepatu, sampai uang 10 juta cuma buat dugem. Kalau dibiarkan, keinginan orang lain bakal terus makan habis tabungan kita. Satu lagi yang sering kelewat adalah pentingnya punya tabungan pribadi. Sekalipun keuangan rumah tangga digabung, tetap nggak salah kalau istri punya dana darurat untuk dirinya sendiri. Bukan buat hal-hal negatif, tapi buat jaga-jaga kalau suatu hari terjadi hal yang nggak diinginkan: usaha bangkrut, suami sakit, atau bahkan pernikahan di ujung tanduk. Kisah Aruna juga nunjukin gimana kadang perempuan bertahan karena masih berharap "yang penting suami sayang". Tapi, seiring waktu, rasa sayang aja nggak cukup kalau nggak diimbangi dengan keberpihakan dan keberanian suami untuk membatasi campur tangan keluarganya. Suami punya peran besar buat pasang batas sehat antara rumah tangga inti dan keluarga besar. Kalau kamu lagi ada di situasi mirip Aruna, mungkin bisa mulai pelan-pelan: catat pengeluaran, kurangi transfer yang sifatnya cuma buat gaya hidup orang lain, dan belajar bilang "nggak" tanpa rasa bersalah. Sayang sama keluarga boleh, tapi jangan sampai diri sendiri habis-habisan dan mental hancur. Buatku, kisah kayak gini penting dibaca supaya kita sadar kalau jadi menantu itu bukan berarti wajib selalu menuruti semua permintaan mertua dan ipar. Ada saatnya kita harus melindungi diri sendiri, keuangan, dan kesehatan mental. Dari kisah Aruna, semoga banyak yang mulai berani menata ulang batas dalam keluarga, bukan cuma pasrah sambil menahan sakit sendirian.