DI SIK SA SUAMI DIPUNGUT MAFIA TAMPAN

BAB 3

“Ratih!!! Mana sarapan? Kenapa meja makan masih kosong?” Suara teriakan itu meme cah pagi yang sunyi.

Aku bangun kesiangan karena Dika agak rewel tadi malam. Mungkin karena aku juga yang sedang tidak baik-baik saja, jadi pengaruh ke ASI yang aku berikan.

“Kamu ini malas sekali. Kamu pikir sarapan bisa terhidang sendiri?”

“Maaf, Ma. Tadi malam aku—”

“Halahh nggak usah pakai banyak alasan. Pasti kamu mau menyalahkan an ak kamu, kan! Sudah! Cepat buatkan sarapan untuk Tiara dan Akbar. Jangan lupa juga bekal mereka.”

Kata-kataku memang tak pernah di dengar di ru mah ini. Jangan kan untuk mendengar yang mau aku katakan, sebelum ngomong juga kata-kataku sudah dipotong.

“Eh, mau kemana kamu?” Tiba-tiba mertuaku muncul. Padahal dari tadi entah kemana dia, tidak sedikit pun berniat membantuku.

“Itu, Ma. Dika nangis.”

“Sudah, lanjutkan pekerjaanmu. Bude sudah datang, dia bisa membantu menenangkan an akmu.”

Bude adalah pembantu yang Kak Tiara sediakan untuk membantu pekerjaan rumah.

“Oh, kalau begitu biar bude saja yang masak. Aku mau mengASIhi an akku dulu.”

“Et… et… et… Enak aja. Kamu lanjut masak. Selesaikan semua ini sampai kelar. Bude lebih tau mengurus an ak daripada kamu.”

“Tapi, Ma. Dika mungkin haus.”

“Sudah… kamu nggak usah sok tau. Pakai ngajarin saya. Cepat kerjakan kerjaan kamu. Kalau sampai a nak-an ak saya telat dan nggak bisa kerja gara-gara kamu awas kamu ya.”

Aku terdiam. Entah apa yang ada dipikiran mertuaku ini, sampai memberi ASi kepada cucunya pun aku tak boleh.

“Ayo cepat kerjakan! Malah bengong.”

“I… iya, Ma.” Aku yang kaget langsung kembali ke depan kompor dan menghidupkannya. Suara tangisan Dika sudah tak terdengar. Apa benar Bude yang turun tangan mengurus Dika. Entahlah.

Setelah semua siap, aku menatanya di meja makan.

“Lama banget sih. Bisa telat aku,” ucap Kak Tiara yang sudah rapi dan sedang menunggu di meja makan.

Aku tidak menanggapinya karena percuma saja. Aku selalu yang disalahkan di ru mah ini.

Tak lama suamiku pun keluar dari ka mar kami sudah dengan pakaian rapi.

“Mas, Dika mana, Mas?”

“Nggak tau. Paling masih sama Bude.”

Astaga, dia ini bapaknya atau bukan sih. Kenapa bisa cuek sekali sama a nak sendiri.

“Ratih, bekal aku mana?” tanya kak Tiara sambil menyendokkan nasi goreng buatanku ke dalam mulutnya.

“Itu, Kak. Sudah aku siapkan di dapur.”

“Ya bawa ke sinilah. Kamu nyuruh aku ngambil sendiri di dapur?”

“Iya, Ratih. Bekalku juga sekalian.”

Kak Tiara ini memang aneh menurutku. Padahal gajinya besar, tapi dia selalu membawa bekal ke tempat kerja. Entah karena masakanku enak, atau dia terlalu berhemat.

Setelah aku selesaikan tugas pagiku, aku mencari an akku yang katanya sama Bude.

“Bude.” Panggilku saat melihat Bude yang sedang menggendong keranjang cucian.

“Ya, Bu.”

“An ak saya mana?”

“Oh, sudah tidur, Bu. Sudah saya letakkan di ka mar ibu.”

“Oh. Makasih ya Bude.”

“Iya. Sama-sama, Bu.”

Aku hanya mengintip dari luar ka mar, ternyata anakku benar-benar sedang terlelap di tempat tidurnya. Akhirnya aku putuskan untuk membersihkan dapur terlebih dahulu.

Aku melirik an akku yang sedang tidur. Nyenyak sekali. Mungkin dia lelah karena tadi malam tidurnya tidak nyenyak.

Tapi… apa itu yang disebelahnya? Itu…

***

Karya terbaru dari sheilaluktri si penulis cerita fiksi. Yuk, silakan dinikma ti hanya di KBM App

Judul : Disik sa Suami Dipungut Mafia Tampan

Penulis: Sheilaluktri

#Sheilaluktri

#KBM

#Novel

5/16 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman pribadi saya sebagai seorang ibu baru sangat relate dengan kisah Ratih dalam menghadapi berbagai tantangan rumah tangga. Tidak mudah menjadi ibu yang harus mengurus anak sekaligus menghadapi tekanan dari mertua, terutama saat kondisi fisik dan mental sedang tidak prima. Misalnya, saat saya memberi ASI eksklusif, ada ketidakpahaman dari anggota keluarga lain yang justru bisa membuat kita merasa disudutkan, sama seperti Ratih yang dilarang memberi ASI langsung kepada anaknya. Dalam cerita ini, sosok mertua yang dominan menggambarkan bagaimana tekanan keluarga besar dapat memengaruhi dinamika rumah tangga. Saya juga pernah merasakan situasi di mana pendapat dan peran saya dalam mengasuh anak diabaikan, dan itu bisa membuat stres serta rasa tidak dihargai semakin membebani. Namun, yang terpenting adalah bagaimana kita tetap kuat dan sabar menjalani semua itu, serta berusaha membangun komunikasi yang baik. Mengenai peran pembantu rumah tangga seperti Bude yang hadir dalam cerita, saya juga merasa kehadiran orang lain yang membantu terkadang menjadi solusi praktis dalam mengatasi kesibukan sehari-hari. Namun, tetap perlu ada koordinasi yang jelas agar hak dan tanggung jawab sebagai orang tua tidak terabaikan. Selain itu, saya belajar bahwa memberikan bekal sendiri, seperti yang dilakukan Kak Tiara dalam cerita, bisa menjadi cara menjaga keluarga tetap sehat dan hemat, terutama saat kita ingin menunjukkan kasih sayang melalui masakan rumah. Memang tidak jarang peran kita sebagai ibu dan istri diuji dengan berbagai macam gaya komunikasi dan sikap anggota keluarga. Melalui cerita ini, saya percaya pentingnya saling pengertian dan dukungan di antara anggota keluarga. Menjadi ibu memang penuh tantangan, tetapi dengan dukungan yang tepat, semua bisa dilewati. Bagi pembaca yang sedang mengalami hal serupa, saya sarankan untuk mencari waktu berbicara terbuka dengan pasangan dan keluarga besar agar semua pihak bisa memahami dan mendukung peran satu sama lain.