Puluhan Tahun Hidup Mend erita, Ternyata Rahasia Besar Ibu Tersembunyi di Balik Liontin Usang Ini!"
MANTAN ISTRIMU INI PEMILIK TAKHTA, MAS! (6)
POV Laras
"Ini peninggalan almarhumah ibu saya, Pak. Kenapa ya?"
Lelaki itu tidak menyahut. Dia hanya menatap liontin itu dengan napas yang terdengar pendek-pendek.
"Pak? Maaf, apa ada yang salah dengan kalung ini?" aku memberanikan diri bertanya. "Apa mungkin kalung ini ada hubungannya dengan keluarga Bapak, atau kalungku ini mengingatkan tentang sesuatu atau seseorang?"
"Maaf, Laras. Kalau boleh saya tahu, siapa nama ibumu?"
"Nama panggilannya Sari, Pak. Tapi nama lengkapnya Sekar Arumsari."
"Lalu, siapa nama ayahmu?"
"Baskoro, Pak. Baskoro pratama."
Mendengar nama itu, Pak Wirawan tersedak ludahnya sendiri. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan napas tersengal. Keheningan yang mencekam menyelimuti kami selama beberapa detik.
"Tadi kamu bilang almarhumah? Ibumu sudah tidak ada?"
Aku mengangguk pelan. Ada rasa perih yang kembali mencu bit ulu h ati jika mengingat itu. "Iya, Pak. Ayah dan Ibu sudah lama tiada karena s akit. Saya an ak satu-satunya."
Mendengar penjelasanku, Pak Wirawan bergerak cepat. Dengan gerakan kalut, dia merogoh saku jasnya, mengambil dompet kulit yang terlihat sangat usang di bagian pinggirnya. Dia mengeluarkan selembar foto kecil yang warnanya sudah agak menguning, lalu menyodorkannya padaku.
"Apa ini foto ibumu saat masih muda?"
Aku meraih foto itu. J a ntungku berdegup kencang. Di sana, seorang wanita dengan kebaya bagus tersenyum manis ke arah kamera, duduk bersebelahan dengan Pak Wirawan dan seorang ibu yang masih nampak cantik dan anggun. Lesung pipitnya, sorot matanya yang teduh, bahkan cara dia menata rambutnya sangat aku kenali. Itu Ibu. Benar-benar Ibuku.
"Iya, Pak. Ini Ibu saya."
Suaraku tercekat. Belum sempat aku mengembalikan foto itu, Pak Wirawan tiba-tiba berdiri. Dia melangkah lebar ke arahku dan langsung mere ngkuh t u buhku ke dalam pelu kannya yang erat. Sangat erat, hingga aku kesulitan bernapas.
"Alhamdulillah! Ya Allah, Sekar!"
Dia meraung sedih. Suara tangisnya pecah memenuhi ruangan, terdengar begitu memilukan dan penuh penyesalan. Bahunya naik turun karena isak tangis yang tak tertahankan. Dia terus-menerus menci umi puncak kepalaku sambil meracau.
"Kamu cucuku, Laras. Kamu an ak dari putriku yang selama ini aku cari tanpa lelah. Maafkan Kakek, Nak. Ini semua salah Kakek. Maafkan aku."
Aku mematung. T u buhku kaku seperti batu. Tanganku yang masih memegang foto Ibu menggantung lemas di udara. Kepalaku mendadak pening, berusaha mencerna rentetan kata yang keluar dari mulut pria yang baru saja mengenalku ini. Cucu? Kakek? Bagaimana mungkin?
Aku hanya bisa pasrah dalam pel ukannya. Aku ingin bertanya banyak hal, tentang kenapa Ibu tidak pernah bercerita, tentang kenapa dia baru muncul sekarang, dan tentang segala rasa s akit yang aku lalui sendirian selama ini.
Namun, aku memilih diam. Aku membiarkan pria tua ini menumpahkan seluruh beban di d a danya sampai dia merasa sedikit lebih tenang.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Pak Wirawan perlahan melepas pel ukannya.
"Maaf, Laras. Maafkan saya kalau terlalu ekspresif. Saya hanya tidak menyangka pencarian puluhan tahun ini akan berakhir di sini."
Aku masih termangu, lidahku mendadak kelu. Aku ingin mengeluarkan suara, tapi tenggorokanku terasa seperti tersumbat gumpalan kapas. Aku bingung harus mulai dari mana. Apakah aku harus memanggilnya Kakek?
Pak Wirawan kembali duduk, mencoba menata kembali wibawanya yang sempat runtuh. Dia menatapku dengan kelembutan yang sangat asing,
"Kamu benar-benar cucuku, Laras. Garis wajahmu, matamu, semuanya sangat mirip dengan Sekar."
Aku mence ngkeram pinggiran k asur, mencoba meyakinkan diriku bahwa pijakanku masih nyata.
" Apa aku tidak sedang bermimpi? Atau ini cuma halusinasiku saja karena banyaknya masalah yang terjadi dalam hidupku?"
Bersambung ...
Judul ; Mantan Istrimu ini Pemilik Takhta, Mas!
Penulis ; Firsyaka LTF
Aplikasi ; K B M









































