2
"Wohooo, ini ada salah paham, kayaknya." kata si teh chamomile saat mengelak pukvlan yang kedua. Sudut bibirnya memar.
"Ini yang kamu bilang baru kenal, Sha? Empat kali kalian ketemu!" kata Mas Erwin dengan gusar.
"Demi Allah, baru kenal hari itu. Nggak tahu juga aku nama dia siapa!" kataku setengah berteriak. Memang, iya, aku lupa nama laki-laki sok akrab ini. Sekonyong-konyong, datang menyapaku tanpa melihat situasi terlebih dahulu. Makin runyam masalahku dan Erwin.
"Loh, Mbak... Kan, saya udah kasih tahu nama saya waktu itu di bandara. Adiguna!" jawabnya dengan enteng.
"Mas, Mas Erwin..." Aku berlari mengejarnya. Sebelum menaiki mobil, kutahan langkahnya.
"Mas, kamu salah paham."
"Mau beneran salah paham atau nggak, aku udah nggak peduli lagi, Sha. Oke, kamu mau udahan karena Mama. Aku setuju kita jalan masing-masing, tapi bukan karena alasan yang sama dengan kamu, Ayusha. Take care, Sha."
Mobil Mas Erwin melaju mening galkan aku yang masih tidak bisa mencerna kejadian barusan. Kenapa rasanya seperti aku penjahhat di hubungan kami? Kenapa seolah-olah aku yang bersalah? Bukankah semua ini bermula dari dia yang ingin meminjamkan tabungan emasnya untuk melunasi utanng-utanng Ibuk?
"Ehem..."
Aku menoleh. Si pria teh chamomile lagi. Bengkak di bibirnya semakin terlihat.
"Saya beliin obat." kataku sambil melangkah masuk Circle K. Dia mengikuti.
"Mas, ada salep lu ka, ngga?" tanyaku pada kasir.
"Mau yang bikin pe rih atau nggak?"
"Nggak, Mas." ujar si teh chamomile menyela.
"Yang pe rih aja, Mas sekalian biar sadar orangnya!" cibirku.
"Aduh, perhatian banget. Makasih, ya."
"Jangan salah paham, Mas. Saya pamit, ya."
"Eh, mau ke mana?"
Aku tidak memedulikan laki-laki itu.
"Aduh, sa kit banget ini lu kanya. Divisum aja kali, ya buat jaga-jaga laporan ke poolisi," katanya sebelum aku membuka pintu keluar.
"Masnya, mau lapor poolisi?"
"Tergantung. Kalau Mbaknya tanggung jawab, saya nggak jadi lapor."
"Saya, kan, udah tanggung jawab."
"Masih sa kit banget, nih. Kayaknya perlu penanganan khusus, deh." katanya sambil meringis kesak itan.
"Yaudah, kita ke klinik sekarang. Saya yang bayar dan tanggung jawab!"
"Kalau dituker sama hal lain boleh, nggak?"
"Maksudnya?"
"Kita tukeran nomor hp dulu, deh. Entah nanti saya jadi ke klinik atau nggak, gimana saya ngabarin kamunya kalau begitu?"
"Saya, kan, udah bilang kalau kita ketemu empat kali, kita harus tukeran nomor hp. Bener, kan apa kata saya? Yaaah, walaupun harus pakai acara babak belur dulu."
"Lagian, Masnya salah juga. Pakai acara basa-basi sok akrab nyapa saya. Masnya nggak lihat saya lagi serius sama... " Kalimatku terhenti otomatis. Aku bingung harus memanggil Mas Erwin dengan sebutan apa. Pacar? Mantan pacar?
"Pacar?" katanya.
Aku menggeleng. "Udah nggak lagi."
"Oh, udah jadi mantan pacar, ya."
"Bukan urusan Masnya."
"Saya minta maaf, deh, karena meru sak momen kalian. Yaaa, mana saya tahu kalian lagi beran tem."
"Gara-gara Mas, ya, saya jadi dituduh yang enggak-enggak."
"Mungkin, jalannya harus kayak gitu, Mbak Ayusha. Saya dikirim Tuhan untuk memisahkan kalian berdua. Lagian kalau pacarnya situ beneran cinta, harusnya percaya, dong, sama Mbak kalau kita nggak ada apa-apa. Berarti, emang dia pengen putus sama situ."
Aku diam. Setengah hati meyakini bahwa yang dikatakan pria ini memang benar. Setengahnya lagi, masih ada keinginan untuk menolak kenyataan.
"Kita tukeran nomor hp dulu, deh, Mbak. Nanti saya kabarin kalau jadi ke klinik."
Aku menyerahkan ponselku. Kami bertukar nomor ponsel pada akhirnya. Sungguh takdir yang lucu. Kunamai kontaknya dengan teh chamomile.
Satu jam setelah kami berpisah, aku memblokir nomor ponselnya. Aku tidak berniat untuk bertemu lagi dengannya. Namun, ternyata...
Judul: Diting galkan Calon Suami, Dinikahi CEO Kaya (Dia Orangnya)
Penulis: gigha1989
KBM App





























