​Sesampainya di ru mah Bu Rahma, aku langsung menuju dapur. Menyerahkan daging pesanan itu pada sang majikan yang menyambutku dengan senyum ramah.

"Eh, Nina. Sudah kembali? Wah, segar sekali dagingnya," ujar Bu Rahma sambil memeriksa isi kantong plastik. "Ini nanti tolong kamu potong-potong jadi bagian kecil ya, Nin. Mau Ibu bikin rendang untuk dibagikan ke tetangga besok."

"Baik, Bu. Segera saya kerjakan," sahutku patuh, langsung mengambil pis au dan telenan besar. Tanganku bergerak lincah mengiris daging, meski pikiranku kembali mengembara ke momen di peternakan tadi. Andai Mbak Rani sedikit saja punya rasa iba pada keponakannya sendiri, mungkin a nak-an akku besok bisa ikut merasakan nikmatnya makan daging qurban tanpa harus menunggu belas kasihan dari majikan ibunya.

​Tiga jam berkutat di dapur Bu Rahma akhirnya selesai juga. Tugas harian sebagai ART sudah kutuntaskan dengan baik. Setelah berpamitan dan menerima sisa upah mingguan, aku melangkah pulang. Sore mulai menjelang, menyisakan semburat jingga di ufuk barat yang perlahan mulai temaram.

​Aku melangkah masuk ke dalam gubuk kecilku dengan perasaan hampa yang teramat sangat. Suasana rum ah begitu sepi, kedua an akku rupanya belum pulang dari mengaji di TPA masjid kampung. Langkah kakiku seolah dituntun oleh rindu yang tiba-tiba membuncah, membawaku berjalan lurus masuk ke dalam ka mar tidur.

​Begitu pintu berderit terbuka, pandanganku langsung tertuju pada dinding papan yang tampak mulai lapuk. Di sana, lukisan Bung Karno dengan setelan jas hitam dan peci khasnya menatapku dengan wibawa yang tak pernah luntur.

​Ingatanku mendadak terlempar jauh ke belakang. Tepat lima tahun yang lalu, beberapa hari menjelang Hari Raya Idul Adha—persis di waktu-waktu seperti sekarang ini. Waktu itu, Mas Khairul pulang ke ru mah dengan napas terengah-engah, membawa sebuah bingkai besar yang dibungkus kain jarik erat-erat.

​Dengan sangat hati-hati, seolah membawa sebilah porselen yang rapuh, dia memaku dinding ka mar dan menggantungkan lukisan Soekarno itu di sana.

"Jangan senggol lukisan ini ya, Dek. Dan tolong, jangan sekali-kali dipindah ke ruang tamu. Biar lukisan ini tetap terpajang di dalam ka mar kita saja," pesan Mas Khairul serius malam itu. Sorot matanya yang tajam menatapku, menyiratkan sebuah ketegasan yang tak biasa dia tunjukkan.

​Saat itu, aku tentu saja dirayap rasa penasaran yang luar biasa. Mengapa suamiku bersikap seposesif itu? Mengapa harus disembunyikan di ka mar? Padahal, rum ah kami ini sempit, dan biasanya orang-orang akan memajang lukisan tokoh besar di ruang tamu agar bisa dilihat dan dikagumi oleh orang lain yang berkunjung. Lagipula, itu hanya sebuah lukisan Soekarno biasa yang warnanya pun sudah agak memudar dimakan usia. Kenapa Mas Khairul sampai harus memberi pesan seolah benda itu adalah jimat yang keramat?

"Mas, kenapa sih harus di ka mar? Di luar kan lebih luas, biar kalau ada tamu datang—"

"Sudah, ikuti saja kata Mas, Dek. Suatu saat nanti, kamu pasti akan mengerti," potong Mas Khairul malam itu, menyudahi pertanyaanku dengan sebuah senyuman misterius yang kini menjadi kenangan terakhir yang paling kuingat sebelum dia berangkat ke Kalimantan dan tak pernah kembali lagi.

​Kini, aku berdiri tepat di depan lukisan itu. Jemariku yang ka sar karena terlalu sering mencuci dan memotong daging, bergerak perlahan, menyentuh pinggiran bingkai kayunya yang berdebu. Lima tahun aku mematuhi pesan itu tanpa pernah berani mengusik atau memindahkannya sedikit pun. Rasa hampa dan tanda tanya besar itu kembali bergolak di dalam da daku. Ada rahasia apa sebenarnya yang disembunyikan Mas Khairul di balik wajah tegas Bung Karno ini? Mengapa firasatku tiba-tiba berdesir hebat, seolah lukisan ini sedang mencoba membisikkan sesuatu kepadaku?

💦💦💦💦

Selengkapnya di aplikasi KBM APP

Judul : Sebut Saja Hamba Allah

penulis : Perarenita

#bismillah #sebutsajahambaallah #KBM

6/3 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam pengalaman saya, momen Hari Raya Idul Adha memang selalu membawa perasaan haru dan refleksi mendalam, apalagi bagi mereka yang merayakannya dengan keterbatasan. Saya pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah keluarga yang sangat menghargai tradisi qurban. Namun, di balik keriuhan perayaan, ada kisah sedih yang jarang terungkap, seperti halnya Nina dalam cerita ini. Suasana Idul Adha menjadi sangat spesial ketika saya ikut menyaksikan proses penyiapan daging qurban. Dari mulai penyembelihan hingga pembagian, semuanya terasa penuh makna. Tetapi banyak juga mereka yang hanya menjadi penonton, tanpa bisa merasakan langsung nikmat daging qurban karena keterbatasan. Saya merasakan betul bagaimana pentingnya empati dan kepedulian sosial dalam tradisi ini. Kisah lukisan Bung Karno yang disimpan rapi dalam kamar juga mengingatkan saya pada nilai sejarah dan identitas bangsa yang sering tersembunyi di balik benda-benda sederhana di rumah. Terkadang, benda tersebut menyimpan harapan dan doa yang dalam, terutama bagi mereka yang kehilangan orang tersayang seperti yang dialami Mas Khairul sebelum pergi ke Kalimantan. Hal ini membuat saya merenungkan tentang makna qurban bukan hanya pada tindakan berkurban secara fisik, tetapi juga berkorban dalam bentuk kesabaran, keikhlasan, dan perjuangan hidup. Dalam berbagai pengalaman pribadi, saya percaya bahwa setiap aksi kecil kebaikan—seperti menyumbang secara diam-diam seperti dalam cerita—memiliki dampak besar bagi sesama. Momen Idul Adha juga menjadi waktu yang tepat untuk introspeksi, menguatkan ikatan keluarga, dan mengingat kembali nilai-nilai luhur yang diajarkan Rasulullah tentang kepedulian sosial. Dari kisah ini, saya semakin yakin bahwa tradisi qurban merupakan jalan untuk menguatkan kemanusiaan dan memberi harapan baru bagi yang membutuhkan.

1 komentar

Gambar Ayma Dewi
Ayma Dewi

👍🥰