(2)

“Danki Alfa, dengar.”

Suara berat dari HT mulai terdengar formal. Arya langsung tegak sedikit.

“Danki Alfa, terima.”

Ada jeda. Hanya suara napas dan tembakan hampa di kejauhan.

“Segera ke titik komando. Ada pesan dari posko.”

“Pesan apa?” tanya Arya, suaranya tetap datar.

Hening lagi. Kali ini lebih lama. Di seberang sana, seolah ada yang sedang ragu menimbang kata.

“Bersifat darurat, Komandan. Dari ru mah sa kit,”

“Wadanki!”

“Siap, Komandan!”

“Ambil alih kompi. Lanjutkan skenario sesuai rencana awal. Peleton dua dorong flank kanan sampai titik Bravo. Jangan ubah formasi.”

“Siap laksanakan!”

Tidak ada nada panik. Tidak ada pertanyaan. Hanya kepatuhan mutlak. Arya kembali ke HT.

“Danki Alfa, bergerak ke titik komando.”

“Laksanakan.”

Ia menurunkan HT perlahan.

“Peleton dua, lanjutkan dorongan! Jangan putus kontak!”

Titik komando berada di area yang lebih terbuka, beberapa ratus meter dari garis depan. Tenda lapangan berdiri, radio besar aktif, beberapa perwira terlihat sibuk.

Begitu Arya mendekat, seorang operator langsung menyerahkan HT frekuensi lain.

“Dari posko, Komandan.”

Arya menerimanya. Tangannya masih stabil. Wajahnya tetap tak terbaca.

“Danki Alfa, siap menerima.”

Kali ini, tidak ada statis panjang. Suara di seberang langsung masuk pelan, tapi jelas.

“Komandan … kami menerima telepon dari ru mah sa kit.”

Dunia seperti berhenti satu detik.

“… istri Komandan saat ini berada dalam kondisi kri tis karena komplikasi persalinan.”

Hening.

Tidak ada suara tem bakan di sini. Tidak ada juga suara teriakan. Hanya detak sesuatu yang tiba-tiba terasa terlalu keras menghant am da da.

Arya tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, tapi kosong.

Seolah otaknya sedang mencerna dan butuh waktu untuk mengejar arti kalimat tadi.

“Status terakhir?”

Ia berusaha profesional, padahal hatinya sedang khawatir tak karuan. Pikirannya meracau bertanya-tanya bagaimana kondisi istrinya, bagaimana dengan malaikat kecil mereka, akankah mereka bisa bertahan. Namun, Arya tahan itu semua.

“Masih dalam penanganan. Keluarga sudah di lokasi. Menunggu keputusan Komandan.”

Menunggu keputusan.

Pilihan itu sekarang ada di tangannya.

Di tengah latihan terbesar yang ia pimpin dan hidup seseorang yang paling berarti baginya.

Arya menutup mata sejenak. Hanya sekejap. Saat dibuka kembali, tidak ada raut yang berubah dari wajahnya.

“Terima.”

Suaranya rendah. Tegas. Tapi tidak lagi sepenuhnya utuh.

HT itu masih di tangannya.

Dan untuk pertama kalinya, Arya tidak tahu harus memberi perintah apa selanjutnya.

Suara dari seberang sudah berhenti.

Tapi gema kalimat itu tidak.

Istri Komandan dalam kondisi kritis.

Arya menarik napas panjang. Di luar tenda, suara tem bakan latihan masih bersahutan. Kompinya masih bergerak. Masih menunggu arah, meski kini bukan lagi darinya.

Seorang perwira mendekat sedikit.

“Komandan?”

Arya membuka mata. Tatapannya kembali taj am. Dingin. Seperti sebelumnya.

“Hubungi Danyon.”

“Siap.”

Beberapa detik kemudian, HT lain diserahkan.

“Komandan Batalyon di frekuensi, Komandan.”

Arya mengangkatnya.

“Danki Alfa, izin bicara.”

“Masuk.”

Suara itu tegas. Berwibawa. Ada jeda sangat singkat. Hanya cukup untuk satu keputusan yang akan mengubah segalanya.

“Izin menyampaikan … ada kondisi darurat keluarga.”

Hening.

“Namun,” lanjut Arya, rahangnya mengeras,

“saya tetap di posisi. Kompi Alfa melanjutkan penilaian akhir.”

Seseorang di seberang sana tidak langsung menjawab. Seolah memastikan, ia tidak salah dengar.

“…kamu yakin, Dan?”

Pertanyaan itu sederhana. Tapi beratnya seperti menekan da da. Arya menatap lurus ke depan.

“Siap. Saya yakin.”

Kebohongan pertama yang ia ucapkan hari itu.

“Laksanakan.”

Sambungan terputus.

Arya menurunkan HT perlahan.

Lalu tanpa berkata apa-apa, ia berbalik kembali ke medan. Seolah tidak terjadi apa-apa.

“Maaf, Aluna. Aku yakin kamu kuat, aku yakin an ak kita juga kuat. Bertahanlah,” gumamnya seraya berjalan kembali mendekati pasukan.

Baca selengkapnya di KBM App

Judul: Talak Aku, Komandan

Penulis: Kurnialsri

#KBM

#Novel

#Kurnialsri

6/9 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam kehidupan nyata, saya pernah mendengar cerita dari seorang teman yang bekerja di militer mengenai bagaimana mereka harus menghadapi dilema serupa antara tugas dan keluarga. Cerita dalam novel "Talak Aku, Komandan" sangat menggambarkan tekanan batin yang dialami oleh Arya, sebagai seorang komandan yang diharapkan selalu kuat dan tegas, tapi pada akhirnya juga manusia biasa yang punya kerentanan. Situasi di mana istri atau anggota keluarga seorang prajurit mengalami kondisi kritis, sementara prajurit tersebut masih harus menjalankan tugas berat, seringkali menjadi momen paling menantang secara emosional. Saya pribadi mengagumi bagaimana mereka menjaga profesionalisme di tengah badai perasaan tersebut. Kepatuhan mutlak terhadap perintah, seperti yang diperlihatkan Arya dengan "melanjutkan penilaian akhir" meski hatinya terluka, menunjukkan betapa besar beban mental yang harus mereka tanggung. Komplikasi persalinan, seperti yang diceritakan, bukan hanya menjadi ujian fisik bagi sang istri, tapi berimbas langsung pada kondisi mental suami yang berada jauh di medan tugas. Saya pernah membaca bahwa dukungan dari rekan satuan dan keluarga sangat krusial dalam kondisi ini, karena mereka mampu menjadi penyangga emosional agar prajurit tetap fokus menjalankan tanggung jawab. Selain itu, penggunaan HT (Handy Talky) dalam cerita memberikan nuansa realisme militer yang kuat. Komunikasi yang terjaga, meski sedang menghadapi situasi darurat keluarga, menandakan disiplinnya prajurit di medan tugas. Ini juga mengingatkan saya pada pentingnya teknologi komunikasi di militer yang efisien untuk menjaga koordinasi tanpa mengurangi profesionalisme. Pengalaman pribadi saya pun mengajarkan bahwa dalam menghadapi situasi darurat keluarga, kepemimpinan dan kemampuan mengendalikan emosi menjadi kunci untuk mempertahankan performa kerja. Novel ini menyajikan gambaran bagaimana satu keputusan kecil bisa membawa dampak besar, baik bagi individu maupun satuannya. Hal tersebut membuka perspektif bahwa di balik keberanian dan kekuatan fisik, ada sisi kemanusiaan yang kadang tersembunyi tapi sangat penting. Akhirnya, "Talak Aku, Komandan" bukan hanya mengisahkan drama militer semata, tetapi juga menyoroti kompleksitas hubungan dan pengorbanan para prajurit serta keluarga mereka. Kisah ini mengajak kita untuk lebih menghargai keberanian yang tidak hanya di medan perang, tapi juga dalam pertempuran batin seorang manusia.