Part 13
Mal am itu, seperti mal am-malaam sebelumnya, Wulan berbar ing sendirian. Matanya terbuka menatap langit-langit yang retak. Lampu bohlam 5 watt hanya memberikan cahaya tem aram. Cukup untuk melihat sarang laba-laba di sudut ruangan. Cukup untuk melihat debu yang menumpuk di atas lemari plastik tempat ia menyimpan barang-barangnya.
Setahun. Sudah setahun.
Ia mengingat mala m perta ma pernikahannya. Saat Bu Tuti berkata, "Kamar pemba ntu sudah disiapkan. Kamu tiiidur di sana." Saat itu Wulan masih berharap itu hanya sementara. Mungkin seminggu. Mungkin sebulan. Lalu Arga akan meng ajaknya pindah ke kam ar suami-istri.
Tapi tidak pernah.
Arga tidak pernah mengaj aknya. Tidak pernah membuka pintu kama rnya untuk Wulan. Tidak pernah bilang, "Mal am ini tidur di sini."
Yang ada hanya peri ntah. Hanya ben takan. Hanya kata "kamu tahu diri" setiap kali Wulan berani mengeluh.
Wulan memel uk bantal tipisnya. Bau kapur barus masih menyengat. Sama seperti setahun lalu. Tidak ada yang berubah.
Apakah aku benar-benar istri?
Pertanyaan itu terus mengh antui. Setiap kali ia melihat Arga lewat. Setiap kali ia mende ngar suara suaminya dari balik pintu ka mar yang tertutup. Setiap kali ia mencuci pakaian Arga dan menemukan ramb ut panjang yang bukan mil iknya.
Rambut panj ang. Lurus. Hitam. Wangi shampoo mah al.
Wulan tidak pernah bertanya. Tidak berani. Karena takut jawabannya akan menghan curkan sisa-sisa hara pan yang masih ters isa.
Laras. Aku tahu namanya. Aku tahu fotonya. Tapi aku tidak tahu sebe rapa dalam hubun gan mereka.
Dan mungkin lebih baik tidak tahu.
Jam menun jukkan pukul sete ngah sepuluh mal am. Di luar, terde ngar suara TV dari ruang tamu. Bu Tuti masih menonton sinetron. Dewi mungkin sedang main ponsel di kam arnya. Arga belum pulang.
Arga belum pulang. Seperti biasa.
Wulan sudah tidak bertanya lagi ke mana Arga pergi. Sudah tidak berharap lagi bahwa suaminya akan mengaja knya bicara. Dulu, di bulan-bulan awal pernik ahan, ia pernah menun ggu sampai jam satu mal am. Ia berdiri di teras, berh arap Arga akan tersenyum melih atnya. Tapi Arga hanya lewat. Tanpa menatap. Tanpa bicara.
Seperti Wulan tidak ada.
Seperti Wulan adalah udara.
Setelah itu, Wulan berhenti menu nggu. Ia memilih tid ur lebih awal. Bukan karena tidak peduli. Tapi karena lel ah. Lelah secara fis ik setelah seha rian beker ja. Lelah secara men tal setelah dimar ahi terus. Dan lelah secara hati setelah menyad ari bahwa pernikahannya hanya trans aksi.
Ut ang. Semua karena ut ang.
Jika tidak ada ut ang, mungkin Arga tidak akan pernah menikah denganku.
Dan mungkin aku tidak akan pernah meras akan sakit seperti ini.
Wulan memeja mkan mata. Tapi tindur tidak kunjung datang.
Pikiiirannya mel ayang ke suatu pertanyaan yang selama setahun ia pen dam.
Apakah aku masih pera wan?
Pertanyaan itu terdengar aneh. Ia sudah menikah. Seharusnya tidak mungkin masih perawan. Tapi kenyata annya, Arga tidak pernah menyen tuhnya. Tidak pernah menciu mnya. Tidak pernah meme gang tangannya. Tidak pernah tidur satu ran jang dengannya.
Mal am pert ama, Arga tidur di kam arnya sendiri. MalaAam kedua juga. Malaaam ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Tidak pernah berubah.
Wulan tidak tahu apakah itu normal. Ia tidak punya teman untuk bertanya. Ibunya sudah menin ggal. Ayahnya tinggal di kampung dan jarang menelepon. Siapa lagi yang bisa ia ajak bicara?
Mungkin Arga tidak tertarik padaku. Mungkin aku tidak cantik. Mungkin aku tidak cukup baik untuknya.
Ia meng gigit bi bir. Air mata mengalir di pelupuk mata nya yang tertutup.
Tapi kalau tidak tertarik, kenapa dinikahi?
Ah, benar. Ut ang.
_______
Baca selengkapnya di KBM App
Judul : Dulu Pembantu, Kini Jadi Ratu
Penulis : Theresia Anastasia











































