Bab 3
“Sayang, tolong gendong an ak kita ya. Sebaiknya kita menjenguk Cassy sebelum pulang.”
“Ah, ya. Itu ide bagus.”
Aqeela benar-benar harus men ahan diri sekuat tenaga. Melihat ekspresi suaminya setiap nama Cassy disebut saja sudah membuatnya jij ik hingga ingin melu dahi suaminya. Dia berpikir bagaimana selama ini dia bisa begitu bo doh.
“Ah, ini ana kmu? Boleh aku—”
“Jangan!” Aqeela sedikit menge raskan suaranya.
Cassy dan Romeo sampai terkejut dibuatnya.
“Jangan sentuh an akku. Kamu ko tor, aku tidak mau an akku terkena virus dari luar.”
“Apa? Hei, Aqeela. Tega sekali kamu sama sepupu sendiri sih.”
“Justru karena kamu sepupuku. Sudahlah, kamu kan juga punya an akmu sendiri. A nak yang kamu pertahankan walau bapaknya nggak jelas.”
“Ap … apa maksudnya itu?”
“Cassy, tidak perlu malu. Kita semua juga sudah tau.”
“Aqeela … kamu tau kamu menya kitiku.” Cassy mulai dengan akting wanita tertindas. Dia berusaha mengeluarkan air mata buayanya seolah dia tersa kiti.
“Aqeela, jangan bicara seperti itu kepada sepupu sendiri donk.”
“Hei!” Aqeela memberikan tatapan memb un uh kepada Romeo yang seketika membuatnya terdiam. “Nggak usah ikut campur. Gen dong saja ba yi itu baik-baik.”
Aqeela bisa melihat, walau sangat tipis, senyuman mengej ek dibibir Cassy. Dia pasti masih berpikir itu adalah a naknya.
“Iya. Ba yimu memang sangat tampan.”
“Tentu saja.”
“Apakah kamu sudah punya nama untuknya?”
“Ya, tapi aku masih ragu.”
“Boleh aku mengusulkan sebuah nama?”
“Hahaha … tentu tidak, bo doh. Namai saja nama ana kmu sendiri. Ngapain capek-capek memberi nama a nak orang lain.”
“Ah, ya … ”
“Tidak, terimakasih. Nama adalah pemberian orang tua kepada an aknya yang sangat spesial. Bagaimana mungkin aku melewatkan kesempatan itu. Sudah, kamu tidak perlu melakukan apapun untukku. Dengan begitu saja aku sudah sangat berterima kasih.”
“Ya, Aqeela. Sama seperti saat kamu kehilangan orang tuamu, akulah keluargamu.”
Aqeela menatap sin is sepupunya itu. ‘Ya, dan saat itu aku sekarang mulai meragukan ketulusanmu. Dasar rubah betina,’ bisik hati Aqeela.
“Ya, baiklah. Hanya untuk kali ini saja.”
“Wah, terimakasih Aqeela.”
“Oh ya, dimana ba yimu?”
“Ya, dia … ”
“Apakah wajahnya mirip ayahnya sehingga kamu malas untuk melihatnya? Yah, aku maklum sih, dari awalkan aku sudah mengusulkan untuk menggu gurkan saja a nak ha ram itu.”
“Aqeela! Kamu jangan kelewatan!” Romeo tiba-tiba memben tak Aqeela dan membuat ba yi mereka menangis.
“Sayang, kenapa kamu sem arah itu? Lihat! bayi kita jadi menangis. Kamu kan tidak tau kebenarannya, jadi sebaiknya tidak usah ikut campur saat kami sedang ngobrol.”
“Tapi … ”
“Sudah sudah. Kamu sekarang keluar, tenangkan ba yi kita. Panggil bodyguard untuk membantu Cassy membereskan barang-barangnya.”
“Hahh … oke.”
Romeo mening galkan Cassy dan Aqeela berdua di dalam kama r.
“Oke, Cassy. Langsung saja. Aku tau kalau … suamiku berselin gkuh.”
“Apa?” Cassy tampak sangat kaget. Jantungnya hampir c opot dan wajahnya langsung pucat.
“Ya. Dan aku sangat membe nci itu. Tapi sampai saat ini aku masih belum tau siapa perempuan ja lang itu. Tapi aku pasti akan segera mengetahuinya.”
“Ah, ya … ya … tentu … tentu saja kamu pasti akan tau.”
“Oke. Sekarang, ayo kita pulang.”
***
Waduh, gimana ini kelanjutannya? Daripada penasaran mending langsung download KBM di PlayStore mu. Yuk, gass
Judul : GUN DIK ITU SALAH PILIH LAWAN
Penulis : sheilaluktri
Pengalaman pribadi saya pernah menyaksikan drama keluarga yang mirip dengan cerita ini, di mana perselingkuhan dan ketidakpercayaan menjadi sumber utama konflik. Ketika seseorang merasa dikhianati oleh pasangan, apalagi jika perselingkuhan melibatkan keluarga dekat seperti sepupu, rasa sakit hati dan konflik interpersonal menjadi semakin rumit. Dalam situasi seperti itu, menjaga ketenangan dan komunikasi terbuka sangat penting, meskipun tidak mudah dilakukan. Dalam kisah Aqeela ini, terlihat bagaimana dia berjuang menahan amarah dan kecewa, serta berusaha melindungi anaknya dari pengaruh buruk. Hal ini mengingatkan saya bahwa menjaga anak di tengah perselisihan orang tua membutuhkan kesabaran ekstra dan kadang kala harus mengesampingkan emosi pribadi demi kebaikan sang buah hati. Selain itu, konflik antara Aqeela dan Cassy menunjukkan bagaimana ketegangan keluarga dapat menciptakan perasaan saling mencurigai dan saling menyakiti. Menurut pengalaman saya, konflik yang berkepanjangan seperti ini bisa memperparah luka batin dan menyebabkan keretakan hubungan keluarga yang sulit diperbaiki, kecuali jika ada upaya nyata untuk berdamai dan menyelesaikan masalah secara dewasa. Dalam menghadapi perselingkuhan dan pengkhianatan, saya belajar bahwa penting untuk mencari dukungan dari teman dekat atau profesional agar bisa mendapatkan perspektif yang obyektif serta bantuan emosional. Hal ini juga membantu mengambil keputusan terbaik terkait hubungan dan masa depan keluarga. Jika dilihat dari segi psikologis, kejadian seperti yang dialami Aqeela bisa memicu stres berat dan gangguan emosional, sehingga menjaga kesehatan mental menjadi sangat penting. Membicarakan perasaan secara jujur dengan pasangan atau pihak ketiga yang dipercaya bisa membantu meredakan tekanan tersebut. Cerita ini juga mengingatkan kita bahwa setiap nama dan identitas anak sangat berarti, karena ia mencerminkan cinta dan harapan dari orang tua. Konflik mengenai siapa yang berhak memberi nama anak pun merupakan simbol dari pertarungan pengakuan dan kontrol dalam keluarga. Secara keseluruhan, drama keluarga yang melibatkan perselingkuhan dan konflik internal butuh penanganan yang hati-hati dan penuh empati. Semoga kisah ini menginspirasi pembaca untuk lebih memahami dan menyikapi situasi sulit dalam keluarga dengan lebih bijak dan penuh kasih sayang.

