MADU 5: TITIK MERAH PEMBERI PETUNJUK
"Hana, Mas berangkat dulu ya. Malam ini sepertinya tadarusnya akan panjang sampai Subuh. Mas mau khatamkan juz terakhir di masjid."
Mas Fatih mengucapkan itu sembari mengenakan jaketnya di ambang pintu k a m a r. Wajahnya tampak begitu teduh, memancarkan aura religius yang selama tujuh tahun ini selalu membuatku merasa tenang. Ia mengecup keningku lama, sebuah kecupan yang biasanya terasa seperti berkat, namun kini terasa seperti duri yang menusuk kulit.
"Hati-hati, Mas. Jangan lupa jaketnya dirapatkan, di luar sedang hujan rintik," jawabku, mencoba memasang senyum istri patuh.
"Iya, Sa ya ng. Kamu langsung t i d u r ya, kunci pintunya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Begitu deru mesin mobil sedan putihnya menjauh dan hilang di ujung kompleks, kehangatan di wajahku seketika luruh. Aku jatuh terduduk di tepi r a n j ang yang mendadak terasa sangat luas dan dingin. Di tanganku, ponselku sudah menyala.
Layarnya menampilkan sebuah peta digital dengan satu titik merah yang berkedip-kedip—titik yang mewakili keberadaan Mas Fatih saat ini.
Aku memperhatikannya dengan napas tertahan. Satu menit, dua menit... mobil itu bergerak keluar dari area kompleks. Namun, alih-alih berbelok ke arah utara menuju Masjid Al-Ikhlas yang ia agung-agungkan, titik merah itu justru melaju mantap ke arah selatan. Menuju pinggiran kota. Menuju Perumahan Melati yang disebutkan Sarah sore tadi.
"Kenapa, Mas? Kenapa kamu harus berbohong sejauh ini?" bisikku pada kesunyian k a m a r.
Hatiku kini menjadi medan perang yang mencekam. Di satu sisi, ada sosok Mas Fatih sang imam teladan yang selalu membimbingku mengaji, pria yang tak pernah membentakku meski rahimku masih kosong setelah tujuh tahun penantian. Logikaku berbisik, Mungkin dia mampir sebentar ke rumah temannya? Mungkin dia sedang ada urusan mendesak yang bersifat sedekah?
Teknologi di tanganku tidak memiliki perasaan, ia hanya menunjukkan koordinat angka, dan angka itu kini berhenti tepat di sebuah rumah mungil di ujung gang Jalan Melati No. 12. Titik merah itu tidak bergerak lagi. Diam. Statis. Seperti jantungku yang seolah berhenti berdetak.
Jam dinding menunjukkan pukul satu pagi. Suara gerimis yang menghantam genting terdengar seperti ribuan jarum yang menghujam ketenanganku. Haruskah aku tetap di sini, memejamkan m a t a dan berpura-pura semuanya baik-baik saja demi menjaga keutuhan rumah tangga? Ataukah aku harus menjemput kehancuranku sendiri malam ini?
Rasa penasaran itu kini berubah menjadi api yang membakar warasku. Aku teringat mukena sutra pemberiannya. Hadiah kesabaran, katanya. Apakah kesabaranku selama ini hanya dijadikan alas baginya untuk membangun istana lain di luar sana?
"Aku tidak bisa diam. Aku harus tahu siapa yang memanggilmu 'Papa' di rumah itu, Mas," gumamku dengan suara bergetar.
Tangan kukatupkan di depan d a d a, mencoba meredam detak jantung yang terasa hingga ke telinga. Ini adalah langkah yang takkan pernah bisa kutarik kembali. Jika aku melangkah keluar dari pintu ini, kehidupanku yang tenang selama tujuh tahun terakhir mungkin akan berakhir selamanya.
Pukul dua pagi. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pagar rumahku. Aku melangkah keluar menembus dinginnya udara malam dan rintik hujan yang kian menderu.
"Sesuai aplikasi ya, Bu? Ke Perumahan Melati, Jalan Melati Nomor Dua Belas?" tanya sang sopir memastikan.
Aku hanya mengangguk kaku, tak sanggup mengeluarkan suara. Aku sedang menuju pusat badai, siap untuk menguliti kebohongan suamiku di jam-jam paling suci dalam hidupnya.
🍂🍂🍂
Judul: MADU DI MALAM TAKBIRAN
Penulis: tedede
Baca kelanjutannya di App KBM
Pengalaman membaca cerita "Madu di Malam Takbiran" membuat saya sangat terhanyut dalam pergulatan emosi yang dialami Hana. Sosok Mas Fatih yang selama ini dikenal sebagai pria religius dan imam keluarga ternyata memiliki sisi yang menyimpan misteri dalam diamnya. Saya sendiri pernah menghadapi situasi di mana orang terdekat menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan apa yang saya percayai, dan itu benar-benar seperti mendengar detak jantung berhenti saat mengetahui kebenaran. Dalam kisah ini, teknologi menjadi kunci yang membuka tabir kebohongan, melalui titik merah pada peta digital. Fenomena penggunaan aplikasi dan GPS untuk melacak keberadaan seseorang membuka dimensi baru dalam pengungkapan rahasia, yang tak hanya sekadar alat, tapi juga membawa beban emosional yang berat. Saya bisa merasakan bagaimana Hana bergumul antara kepercayaan dan rasa curiga, antara menjaga rumah tangga dan menghadapi kenyataan yang pahit. Hal lain yang menarik adalah bagaimana suasana malam takbiran yang biasanya penuh dengan ketenangan dan kesucian, menjadi latar bagi pergulatan batin dan keputusan penting. Saya juga teringat pada dialog singkat dalam gambar yang menyiratkan adanya tipu muslihat di balik penampilan suami yang tampak alim. Baju yang berbau minyak telon dan bedak bayi disisipi makna sebagai petunjuk lain dalam kisah ini, menambah unsur ketegangan dan keingintahuan. Kisah ini mengajari saya bahwa dalam sebuah hubungan, kesabaran memang penting, namun kewaspadaan dan keberanian untuk mengungkap kebenaran juga tak kalah utama. Mukena sutra sebagai hadiah kesabaran menjadi simbol yang sangat kuat dan menyayat hati, mengingatkan kita bahwa setiap pemberian memiliki makna yang bisa jadi berlawanan dengan kenyataan. Bagi pembaca yang pernah merasa terjebak dalam situasi serupa, cerita ini bisa menjadi cermin dan pengingat bahwa menjaga keutuhan hati sekaligus menghadapi kenyataan adalah perjalanan yang penuh liku. Saya sangat merekomendasikan untuk terus mengikuti kelanjutan cerita ini di aplikasi KBM, karena banyak pelajaran dan intrik yang siap menguji perasaan kita lebih dalam lagi.

