"Gue nggak nyangka, Al. Lo bener-bener ratu drama kelas kakap! Suara lembut, tapi omongan lo lebih t a j a m dari s i l e t!" Elma tertawa mele dak.
Aisha ikut terkekeh, mengaduk minumannya. "Bukan s i l e t lagi, El. Itu sa mu rai. Lo liat muka Tante Kamila tadi? Merah kayak kepiting rebus, pengen nga muk tapi harus jaga imej 'ibu tiri malaikat'."
Aleya hanya tersenyum tipis, me nye sap jus jeruknya. "Gue cuma ngomong fakta. Kalau mereka tersindir, ya berarti ngerasa pelakunya."
"Tapi beneran Al, pas lo panggil Mbok Dijah sama Pak Atang ke panggung, bokap lo kayak kena tam pa ran jarak jauh yang nembus ke ulu hati."
Di sudut kafe, Tante Sari dan Tante Devi—sahabat almarhumah Bunda Aleya—memperhatikan dengan haru. "Aleya, sayang," panggil Tante Sari lembut. "Kamu kuat, persis Alina. Tapi jangan biarkan ke ben ci an memakan kebahagiaanmu."
Tante Devi menghela napas. "Dulu, Bunda kamu terlalu baik. Kami sudah bilang, 'Alin, hati-hati sama Kamila. Dia itu bena lu.' Tapi Bundamu cuma senyum. Kamila itu masuk ke lingkaran kita karena kebaikan Bunda, eh malah n e r k a m dari belakang."
Mendengar itu, pertahanan Aleya run tuh. Air mata yang ditahannya sejak di aula hotel tumpah tak terbendung. "S a k i t, Tante... s a k i t banget liat Ayah lebih sayang sama a n a k orang lain," isaknya di pe lu kan Tante Sari. Elma dan Aisha mendekat, me me luk Aleya erat. Di ruangan itu, ia diizinkan h a n c u r sebelum kembali utuh menghadapi medan p e r a n g di rumah.
***
Beberapa jam kemudian, Aleya sampai di rumah. Pemandangan di ruang tengah langsung membuatnya mu al.
"Huhu... Mama, kenapa Aleya j a h a t banget? Aku malu, Ma," tangis Elisa pecah, sengaja dikeraskan. Ia bersandar di d a d a Kamila, sementara Yunus memi jat pelipisnya dengan wajah t e g a n g.
"Sabar, Sayang. Papa tahu kamu a n a k baik," bujuk Yunus halus.
Cih. Aleya melangkah dengan sepatu hak tingginya, menciptakan ketukan ang kuh di atas marmer. Ia melewati mereka seolah mereka hanya pajangan berdebu.
"Aleya! Berhenti kamu!" ben tak Yunus. "Apa maksudmu mempermalukan Ayah dan Elisa di depan umum?"
Aleya menoleh dingin. "Loh, bukannya Ayah suka jadi pahlawan? Aku cuma kasih panggung supaya semua orang tahu betapa mulianya Ayah yang lebih milih jadi wali a n a k orang lain daripada a n a k sendiri."
"Aleya, jaga bicaramu!" sela Kamila dengan simpati palsu. "Mas Yunus ingin bersikap adil. Elisa juga butuh sosok Ayah."
"Adil?" Aleya tertawa sumbang. "Adil itu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan tempat Ayahku seharusnya di sampingku, bukan di samping a n a k hasil ‘karbitan’ Tante!"
**Plak!**
Satu tam pa ran mendarat di pipi Aleya. Suasana mendadak hening. Yunus ter e ngah, tangannya geme tar. Aleya justru tersenyum sinis. "Bagus. Satu tam pa ran untuk satu prestasi Juara Umum. M u r a h banget harganya ya, Yah?"
Yunus menunjuk wajah Aleya. "Kamu tidak punya sopan santun! Butik yang Ayah berikan bulan lalu... Ayah akan ambil kembali. Kamu tidak pantas mengelolanya!"
Mata Kamila dan Elisa berkilat senang. Namun, Aleya justru melangkah maju dengan tatapan t a j a m.
"Ambil saja kalau Ayah berani," tantang Aleya ren dah. "Tapi ingat, butik itu berdiri di atas tanah atas nama Bunda Alina. Surat wa siat Bunda jelas: butik itu jatuh ke tanganku saat lulus. Ayah hanya wali sementara."
Aleya melirik Kamila yang mendadak pucat. "Kalau Ayah mencoba mengambil milik Bundaku untuk mereka, aku pastikan besok pagi pengacara keluarga akan datang dengan surat gugatan. Jangan paksa aku me nye ret Ayah ke pengadilan!"
Yunus terdiam seribu bahasa. Aleya menoleh ke arah Elisa yang masih sesenggukan palsu. "Air mata lo nggak akan bisa ngebeli butik itu, Elisa. Belajar yang rajin aja, siapa tahu suatu saat lo punya modal buat be li baju di butik gue."
Aleya melangkah pergi dengan kepala tegak. P e r a n g baru saja dimulai, dan ia tidak akan membiarkan milik bundanya jatvh.
Selengkapnya di KBM
Judul: Dinding Dingin di H a t i Aleya
Penulis: husnaaddawiyah









































