"Kakak janji, Tin ... setelah ini Ibu nggak boleh lagi cuci baju tetangga. Tidak satu lembar pun," bisik Lilis dengan suara bergetar saat mobil mulai melaju mening galkan debu di depan warung Bu Siti.
Titin hanya bisa mengangguk, tangannya yang ka sar meraba jok kulit mobil yang sangat halus. Baginya, ini seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata.
Mobil itu berhenti di depan sebuah gubuk yang nyaris roboh. Atap rumbianya sudah banyak yang bolong, ditambal seadanya dengan plastik mulsa. Di samping ru mah, di dekat sumur tua yang berlumut, terlihat seorang wanita tua dengan tu buh kurus kering sedang berjongkok. Suara sikat yang beradu dengan papan gilesan terdengar ritmis, diselingi batuk kecil yang tertahan.
Lilis turun dari mobil. Kakinya lemas melihat pemandangan itu. Ibunya, Bu Jamilah, sedang membilas seprei tebal milik keluarga Bu Siti. Air sabun meluap dari bak plastik, mengenai kaki sang ibu yang pe cah-pe cah.
"Ibu..." panggil Lilis pelan. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Wanita tua itu tidak menoleh. Ia pikir itu hanya halusinasinya saja. Suara itu mirip sekali dengan suara a nak sulungnya yang setiap malam ia sebut dalam doa. "Titin, ambilkan air lagi, Nduk. Sabunnya masih licin," gumam Bu Jamilah tanpa mengalihkan pandangan dari cuciannya.
Lilis mendekat, lalu berlutut di atas tanah becek tepat di belakang ibunya. Ia memel uk pinggang ibunya yang tinggal tulang. "Ibu ... ini Lilis, Bu. Lilis pulang."
Gerakan tangan Bu Jamilah terhenti. Sikat kayu itu terlepas dari genggamannya, jatuh ke dalam air keruh. Ia memutar tub uhnya perlahan. Mata yang sudah mulai kabur oleh katarak itu menatap wajah cantik di depannya.
"Li ... Lilis? An akku?" Bu Jamilah meraba wajah Lilis dengan tangannya yang basah dan berbau deterjen murah. "Lilis ... kamu benar Lilis-ku?"
"Iya, Bu. Ini Lilis." Lilis menci um tangan ibunya berkali-kali, menghirup aroma sabun dan keringat yang sangat ia rindukan. "Maafkan Lilis perginya lama. Maafkan Lilis baru bisa pulang sekarang."
Tangis mereka pe cah di bawah pohon mangga tua itu. Bu Jamilah meme luk an aknya erat-erat, seolah takut Lilis akan menghilang lagi seperti asap. "Ibu nggak butuh apa-apa, Nduk. Ibu cuma mau kamu pulang. Orang-orang bilang kamu ... mereka bilang kamu an ak nggak benar ... tapi Ibu nggak percaya..."
Lilis memejamkan mata rapat-rapat. Lu ka di hatinya berdenyut. Ibu benar, batinnya perih, aku memang melakukan hal yang tidak benar demi semua ini. Namun, ia menahan itu semua. Ia berdiri, lalu menuntun ibunya masuk ke ru mah. Ia ingin segera menunjukkan "mahkota" dari pengorbanannya.
🌷🌷
"Wawan! Bangun, Nak! Aduh, ba dannya panas sekali!" teriak Bu Siti sambil mengguncang tu buh anak laki-lakinya yang berusia 10 tahun.
Wawan, putra bungsu kesayangan Bu Siti, tampak menggigil hebat. Wajahnya pucat pasi, namun bibirnya membiru. Ia tampak sesak napas yang parah. Penyakit asma akut dan gangguan pada katup jantungnya yang sudah lama diderita mendadak kambuh setelah ia kelelahan bermain sore tadi.
"Pak! Siapkan mobil! Kita bawa Wawan ke ru mah sa kit kota sekarang! Puskesmas desa nggak akan sanggup!" jerit Bu Siti pada suaminya.
Bu Siti terus menangis di dalam mobil, memel uk an aknya yang mulai kehilangan kesadaran. "Tolong, Nak... bertahan. Kita ke dokter paling hebat di kota. Ibu bayar berapa pun asal kamu sembuh!"
Ia tidak tahu, bahwa di ru mah sak it besar itu, sebuah papan nama baru saja dipasang di depan pintu ruang poli spesialis utama. Sebuah nama yang akan membuatnya bersimpuh dan menjilat ludahnya sendiri.
dr. Lilis Rahayu, Sp.A(K)
(Spesialis An ak - Konsultan Jantung)
🌷Tbc,-
Baca selengkapnya di aplikasi KBM APP
Judul : Paket Umroh Untuk Ibuku
Penulis : Perarenita




















