"Untuk gu ga tan per ce ra ian dengan pembagian aset yang adil, Ibu butuh lebih dari itu." Nadira membuka halaman baru di mapnya. "Dokumen. Laporan ke ua ngan. Bukti trans fer. Apapun yang bisa membuktikan adanya kecurangan yang dibuat tanpa sepengetahuan Ibu selama masa pernikahan."
"Berapa lama saya punya waktu?"
"Ibu bilang ingin memberikan kejutan pada saat pernikahan dijadwalkan tanggal sepuluh?"
"Ya."
"Maka Ibu punya waktu sangat sedikit." Nadira menutup mapnya. "Kumpulkan sebanyak yang Ibu bisa. Apapun yang Ibu temukan, sekecil apapun, bawa ke saya. Biarkan saya yang menilai mana yang bisa dipakai."
Sekar berdiri. Mengulurkan tangannya.
"Terima kasih, Bu Nadira."
Nadira menjabat tangannya. "Hati-hati, Bu Sekar."
Ia keluar dari kantor itu pu kul tiga lewat tiga puluh menit. Mungkin akan terlambat sepuluh menit dari jadwal menjemput Delia.
Sekar menekan pedal gas lebih dalam dari biasanya.
Dari kejauhan, ia sudah melihat kerumunan kecil di depan gerbang sekolah. Ada beberapa a nak yang masih menunggu dijemput, dua orang satpam sekolah, dan seorang perempuan berambut panjang bergelombang yang berdiri terlalu dekat dengan seorang a nak kecil berseragam.
Sekar memarkirkan mobilnya. Belum sempat menutup pintu, ia sudah bisa mendengar suara Delia.
"Delia nggak mau! Delia mau tunggu Bunda!"
"Delia, ayok. Mama cuma mau ngajak jalan-jalan sebentar. Nanti Bunda dijemput Mama—"
"Nggak mau! Lepas!"
Sekar melangkah cepat.
Layla terlihat berjongkok di depan Delia, tangannya meng geng gam pergelangan tangan gadis kecil itu. Delia menarik-nariknya, wajahnya sudah merah, m a t anya tampak berkaca-kaca.
"Delia."
Satu kata. Tapi suara itu menyelamatkan segalanya.
Delia menoleh. Dan dalam satu detik, ia melepaskan diri dari genggaman Layla yang longgar dan berlari menghambur ke arah Sekar, meme luk pinggangnya dengan kedua tangan sekuat yang ia bisa, wajahnya terbenam di sisi badan Sekar.
"Bunda datang." Bisiknya, suaranya bergetar. "Bunda datang."
"Iya." Sekar melingkarkan satu tangan di punggung Delia. "Bunda di sini."
Ia mengangkat wajah.
Layla kini berdiri di hadapannya. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, menarik napas panjang.
"Sekar." Suaranya datar. "Aku hanya mau mengajak Delia—"
"Kenapa tidak izin terlebih dahulu?!." Sahut Sekar memo to ng ucapan Layla.
Layla mengerutkan keningnya. "Dia anakku, kenapa aku harus izin padamu?”
"Bunda." Delia menarik rok Sekar pelan. "Kita pulang?"
"Sebentar, Sa yang." Sekar mengusap rambut Delia tanpa mengalihkan pandangannya dari Layla.
Dan Layla yang mungkin sudah menahan terlalu banyak rasa sejak kemarin, sejak Delia menolaknya di rumah mertua, sejak seluruh rencananya tidak berjalan semulus yang ia bayangkan akhirnya kehilangan kesabarannya.
"Kamu … kamu yang bikin Delia jadi seperti ini. Kamu yang menghalangi a n a k itu dari ibu kandungnya. Kamu pikir kamu siapa? Kamu itu bukan siapa-siapanya Delia. Kamu cuma—"
"Perempuan yang ada ketika kamu tidak ada." Sekar memotongnya cepat.
Layla langsung terdiam.
"Saya tidak pernah menghalangi Delia dari siapapun." Sekar melanjutkan, "Delia membuat pilihannya sendiri. Dia sudah belajar membedakan mana orang yang selalu hadir dan mana yang tidak. Itu bukan karena saya ajarkan. Itu karena dia hidup dan merasakannya sendiri."
Layla me n e l a n lu dah. Rahangnya mengeras.
"Kamu boleh merasa menang sekarang, Sekar. Tapi setelah aku kembali menikah dengan Ardhana, hidupmu di keluarga itu sudah selesai. Kamu tidak akan punya tempat lagi. Tidak di rumah itu, tidak di hati Ardhana, tidak di mana pun."
Sekar memandang Layla lalu tersenyum tipis.
"Terima kasih sudah memberitahu saya." Kata Sekar akhirnya. "Saya akan ingat itu."
Lanjut baca ke KBM app.
Judul: Kembalinya Wanita Masa Lalu Suamiku
Penulis: Nitha Er
Pengalaman membaca kisah ini mengingatkan saya betapa rumitnya dinamika keluarga setelah perceraian, terutama yang melibatkan anak. Dalam cerita, Sekar berjuang untuk hak asuh Delia sambil menghadapi tekanan dari Layla, ibu kandung yang kembali hadir. Situasi ini sangat nyata di banyak keluarga, di mana anak menjadi korban dari konflik orang tua. Saat menghadapi perceraian dengan pembagian aset dan hak asuh, persiapan dokumen dan bukti sangat penting seperti yang disarankan Nadira dalam cerita. Itu kunci untuk memastikan proses hukum berjalan adil dan melindungi kepentingan anak-anak. Saya juga pernah mengenal seseorang yang harus mengumpulkan bukti transfer dan laporan keuangan untuk mengungkap adanya kecurangan selama pernikahan, demi keadilan dalam perceraian. Emosi dalam menghadapi mantan pasangan dan orang baru yang terlibat sangat kompleks. Anak, seperti Delia, seringkali berada di tengah-tengah dilema memilih antara orang tua yang hadir dan tidak. Sikap Sekar yang mendukung penuh Delia dan membiarkan anak tersebut membuat pilihan sendiri sangat menunjukkan pentingnya memberi ruang pada anak agar merasa dicintai dan dihargai. Selain itu, kisah ini juga mengungkap realita sosial bahwa kehadiran seseorang dalam hidup anak membuat perbedaan besar, bukan sekadar status darah semata. Konflik antara Sekar dan Layla bukan hanya soal siapa yang berhak lebih, tapi soal siapa yang hadir secara nyata dan memberikan kasih sayang. Saya menyarankan bagi para pembaca yang mengalami situasi serupa agar jangan ragu untuk mencari bantuan profesional, seperti konselor keluarga atau pengacara yang berpengalaman, untuk membantu menyelesaikan masalah secara bijaksana dan legal. Dokumentasi dan bukti kuat tentang keuangan maupun perilaku pasangan sangat membantu dalam proses perceraian dan pembagian hak asuh. Kisah "Kembalinya Wanita Masa Lalu Suamiku" ini mengajak kita memahami bahwa tidak ada situasi yang mudah dalam keluarga, tapi dengan keberanian dan pengumpulan bukti yang tepat, keadilan dan kebahagiaan anak bisa menjadi prioritas utama.

