Bab 3

"Bisa sebelum tagihan listrik lewat tenggat, Mas?! Kemarin sudah ada surat peringatan kedua! Aku malu kalau sampai diputus dan jadi omongan tetangga!" Suara Nadia meninggi di meja makan, menyorot suaminya dengan tatapan tajam.

"Iya, aku usahakan, Nad!" nada suara Ari langsung membentak defensif, membanting sendoknya ke piring hingga berdenting nyaring.

"Kamu tahu sendiri kan gimana pusingnya aku di lapangan sekarang?! Belum lagi mikirin cicilan utang ganti rugi dua setengah miliar itu! Bisa nggak sih semalam saja jangan bahas duit?!"

"Aku cuma tanya, Mas, bukan nuntut! Tapi kalau lampu ru mah ini ma ti, emak-emak komplek yang bakal pertama kali nyinyir!" sahut Nadia pelan namun menu suk, menatap mangkuk berisi sisa sayur sop dingin di meja dengan muak.

"Halah, alasan! Kamunya saja yang terlalu gengsian!" Ari mendorong piringnya yang sudah kosong dengan ka sar, lalu bangkit berdiri menuju ruang tengah tanpa berniat membantu merapikan meja.

Keesokan paginya, kejenuhan Nadia mendadak buyar saat ia sedang menyapu teras ru mah dengan daster katun pudarnya. Sebuah truk pindahan besar berwarna perak metalik terparkir gagah tepat di depan ru mah nomor 11B, bersanding dengan mobil SUV mewah hitam yang berkilat.

"Pagi," sapa sebuah suara dari seberang jalan. Suaranya berat, dalam, dan terdengar sangat seksi di telinga Nadia.

Nadia tersentak hebat, hampir saja menjatuhkan sapu lidi yang digenggamnya. Ia mendadak mematung. Pria yang menyapanya semalam di dalam fantasi, kini berdiri nyata di sana.

"Eh—pagi," balas Nadia terbata-bata, reflek merapatkan daster lusuhnya yang mendadak terasa sangat memalukan untuk dipakai di depan pria sesempurna itu.

Pria itu bernama Kevin. Di usianya yang mendekati 40 tahun, fisiknya tampak sangat terjaga—jauh berbeda dengan Ari yang baru 29 tahun tapi sudah terlihat seperti pria paruh baya yang layu.

Kevin memiliki garis wajah tegas dan rupawan, warisan dar ah Jerman sang Opa. Kulitnya putih bersih, tub uhnya tinggi tegap dengan otot yang tercetak jelas di balik slim-fit polo shirt Prada warna putih yang ia kenakan. Di pergelangan tangannya, sebuah jam tangan Omega berkilau tertimpa cahaya matahari pagi, memancarkan aura kekayaan yang tenang namun mema tikan.

Nadia menelan ludah. Pandangannya tak sengaja jatuh pada sepatu loafers Balenciaga yang dikenakan Kevin, sangat kontras dengan sandal jepit karet milik Ari yang sudah menipis di dapur. Nadia mendadak silau. Merek-merek high-end itu dulu begitu dekat dengan hidupnya saat masih menjadi primadona di kantor digital marketing, sebelum ia "turun kasta" menjadi ibu ru mah tangga yang serba kekurangan.

"Perkenalkan, saya Kevin. Pemilik baru ru mah di seberang ini," ucap Kevin lagi, melangkah dua sentimeter mendekati pagar pembatas jalan, memperpendek jarak di antara mereka.

"Saya... Nadia," sahut Nadia gugup, tangannya merem as gagang sapu kuat-kuat demi menyembunyikan debaran jantungnya. "Mau langsung pindahan hari ini, Pak Kevin?"

"Belum semuanya, Nadia. Hari ini baru drop beberapa barang besar saja," jawab Kevin, bibirnya mengukir senyum tipis yang begitu menawan. "Saya sudah menikah. Minggu depan saya baru akan resmi pindah ke sini bersama istri saya, Monica."

"Oh... begitu ya. Selamat datang di Cluster Gardenia, Pak," ucap Nadia kaku, mencoba terdengar sopan walau ada sedikit letupan aneh di da danya saat mendengar kata 'istri'.

"Terima kasih, Nadia," balas Kevin.

Deg.

Kontak mata sekejap itu membuat bulu kuduk Nadia meremang kesenangan. Sebuah sengatan gai rah yang li ar dan asing menjalar cepat dari tengkuk hingga ke seluruh tu buhnya, meruntuhkan rasa kebas yang sempat ia rasakan semalam di meja makan. Pipi putih porselennya mendadak merona merah panas.

"Sampai jumpa minggu depan... Tetangga Cantik," bisik Kevin pelan, memberikan kedipan mata sekilas yang sangat provokatif sebelum akhirnya berjalan masuk ke halaman ru mahnya.

Tetanggaku, Fantasiku

By Minerva

On KBM App

#KBM

#Novel

6/30 Diedit ke

... Baca selengkapnyaCerita ini menggambarkan sisi lain kehidupan seorang wanita yang harus menghadapi tekanan keluarga dan finansial sekaligus hidup berdampingan dengan sosok tetangga baru yang memikat hatinya. Sebagai pembaca, saya merasa terhubung dengan perasaan Nadia yang mengalami dilema antara kesetiaan dan keinginan pribadi. Banyak dari kita mungkin pernah merasakan ketegangan dalam rumah tangga, terutama ketika masalah keuangan turut campur tangan dan merenggut kebahagiaan. Kevin yang digambarkan sebagai pria sukses dan menarik dengan gaya hidup mapan tentu menjadi simbol dari sesuatu yang diidam-idamkan oleh Nadia, terutama di saat ia merasa kehidupannya mulai terkekang dan bersahaja. Kontras antara Kevin dan Ari, suami Nadia, mengangkat tema suka-duka dalam pernikahan dan keinginan untuk lebih baik secara materi maupun emosional. Penggambaran merek high-end yang melekat pada Kevin seperti Prada, Omega, dan Balenciaga bukan hanya sekadar detail estetis, tapi juga simbol status yang turut memperjelas jurang antara dunia Nadia dan dunia yang mungkin ia inginkan. Hal ini menguatkan suasana cerita yang menggambarkan pergolakan batin Nadia antara rasa malu dan fantasi. Sebagai pembaca yang juga pernah mengalami kesulitan keuangan dan tekanan sosial, saya memahami betul bagaimana rasa malu dan cemas bisa jadi beban yang sangat berat. Kadang kita memang berharap ada sosok pembawa perubahan atau setidaknya yang dapat menghibur dan memberi harapan baru dalam hidup yang monoton dan penuh masalah. Dengan tambahan gambaran ini, pembaca dapat lebih merasakan kompleksitas karakter, serta memahami bahwa di balik cerita sederhana tentang kehidupan rumah tangga dan tetangga, ada lapisan emosi manusia yang dalam. Cerita ini mengajak kita melihat bahwa setiap orang punya perjuangan dan harapan, sekalipun itu berbalut dalam fantasi yang belum tentu terwujud. Saya merekomendasikan novel ini bagi yang suka kisah yang tidak hanya menghibur tapi juga menantang kita untuk merenungkan kehidupan pribadi dan sosial. Melalui kisah Nadia dan Kevin, kita diajak menyelami tema cinta, kesetiaan, dan pencarian jati diri dalam kehidupan sehari-hari.