Bab 7
"Mas, kita harus bicara. Serius," ucap Nadia tegas, berdiri di depan meja TV dan langsung mema tikan sakelar listrik konsol game milik Ari.
Seketika layar monitor menjadi hitam pekat. Ari tersentak, melepas headphone-nya dengan wajah merah padam karena kesal. "Apa-apaan sih, Nad?! Aku lagi war! Sengaja banget kamu, ya?!"
"Aku tidak peduli, Mas Ari! Kita punya utang dua setengah miliar, an ak kita butuh biaya terapi speech delay yang tidak murah, dan kamu masih bisa duduk santai menembaki musuh fiktif?!" suara Nadia bergetar hebat, namun matanya menatap ta jam tanpa rasa takut lagi.
"Lalu aku harus apa?! Menangis da rah di pinggir jalan?!" bentak Ari, berdiri dari sofa hingga ba dannya yang gempal membayangi Nadia. "Aku sudah kerja seharian, Nad! U ang ganti rugi itu sedang aku cicil lewat potongan gajiku setiap bulan! Kamu pikir itu gampang, hah?!"
"Potongan gaji? Lalu kita mau makan apa, Mas? Bayar listrik pakai apa? Pakai angin?!" Nadia melangkah maju, menunjuk tepat di da da suaminya yang terbalut kaos dalam kusam. "Lihat dirimu sendiri! Penampilanmu berantakan kayak kakek-kakek, jiwamu kosong, kamu mengabaikan aku dan an akmu! Kamu egois, Mas!"
"Kamu tidak pernah mengerti beban kepala keluarga, Nadia! Jangan cuma bisa menuntut!"
"Aku mengerti! Tapi aku tidak mau ma ti pelan-pelan karena ketol olanmu!" Nadia menarik napas dalam-dalam, memantapkan hatinya. "Kalau bulan depan tagihan terapi Gio terhambat lagi, aku akan bawa Gio keluar dari rumah ini. Aku bersumpah, Mas. Kita ce rai!"
***
"Eh, Pak Kevin... iya, begitulah ru mah tangga," jawab Nadia terbata-bata, menunduk menyembunyikan sisa air matanya.
"Bisa tolong bantu saya sebentar? Pagar ru mah saya agak seret malam ini," ucap Kevin lembut, memberikan alasan yang sangat halus untuk mengikis jarak di antara mereka.
Nadia melangkah keluar pagar mendekati Kevin. Namun, saat tangan Nadia hendak menyen tuh besi pagar, jemari kokoh Kevin justru bergerak maju.
Dengan gerakan yang sangat lambat namun pasti, Kevin mengelus ringan punggung tangan Nadia. Kulitnya yang hangat bergesekan langsung dengan kulit porselen Nadia yang dingin.
Deg.
Nadia tersentak, namun ia tidak menarik tangannya. Sentuhan itu... begitu lembut, sebuah bentuk perhatian fisik yang sudah bertahun-tahun tidak ia dapatkan dari Ari.
"Kamu berhak mendapatkan ketenangan, Nadia. Bukan air mata," bisik Kevin, memajukan tub uhnya hingga hembusan napasnya yang hangat dan beraroma sandalwood yang maskulin menerpa langsung di ceruk leher Nadia. Tatapan matanya yang intens seolah menela njangi seluruh ha srat terlarang yang dipen dam Nadia.
"Pak Kevin... ini di luar, bagaimana kalau warga atau istri Anda melihat?" tanya Nadia gugup dengan suara lirih, namun tub uhnya meremang kesenangan. Jantungnya berpacu gi la-gi laan.
"Saya tidak peduli dengan mereka, Nadia. Dan saya tahu, kamu juga tidak peduli," balas Kevin dengan nada suara rendah yang sangat provokatif, terus mengel us jemari Nadia dengan ibu jarinya. "Kamu terlalu indah untuk disia-siakan di dalam ru mah itu."
Bisikan dan sen tuhan Kevin malam itu bagaikan pintu masuk menuju fantasi terlarang yang sangat manis.
Di dalam ru mah, ada Ari yang melarat dan egois. Di luar, ada warga komplek yang bagai singa lapar mencari mangsa gosip, beserta Monica yang dingin. Namun malam ini, Nadia memilih untuk menutup matanya dari semua itu.
Bagian dari dirinya yang telah lama ma ti kini bangkit kembali dengan gai rah yang menyala-nyala, menuntut untuk diselamatkan oleh pria misterius di hadapannya.
Tetanggaku, Fantasiku
By Minerva
On KBM App






























