Bab 1

“Tiga belas tahun itu bukan waktu yang sebentar, Jeng Aini. Masa ra him kamu masih saja sepi?”

Aku mere mas ujung gamis di bawah meja arisan. Kalimat Bu Tari barusan meluncur begitu mulus. Di sekeliling kami, ibu-ibu komplek mendadak hening. Sebagian menatapku kasihan, sebagian lagi m e n a h a n senyum pu as.

“Maaf, Bu Tari. Masalah a n a k, itu kan mutlak urusan Gusti Allah,” jawabku, mencoba m e n a h a n getar di suara.

“Ya memang urusan Gusti Allah, Jeng. Tapi kan manusia wajib usaha,” sahut Bu Tari tak mau kalah sambil membetulkan letak bros emasnya yang besar. “Jangan-jangan usahanya kurang? Kasihan loh Pak Rendra, kerja k e r a s b a n t i n g tulang, tapi pulang ke r u m a h cuma disambut r u m a h sepi.”

“Betul itu. Suami kalau terlalu lama jenuh, bisa-biasa lirik yang lain, lho,” timpal Bu Lastri ikut memanaskan suasana.

D a d a ini rasanya se sak. Tiga belas tahun pernikahan kami adalah perjalanan panjang antara air mata dan harapan yang patah. Doa, herbal, medis, semua sudah kami jalani sampai tabungan terkuras habis, tapi kenapa di mulut para tetangga, aku yang paling bersalah?

“Aini!”

Suara yang sangat kukenali meme cah ketegangan. Mas Rendra berdiri di dekat pagar mengenakan kemeja kantor yang sedikit kusut. Aku buru-buru bangkit dan pamit pada tuan r u m a h, ingin segera lari dari ta ta pan menghakimi di tempat ini.

“Sudah selesai arisannya, Dek? Yuk, pulang,” ajak Mas Rendra sopan begitu aku mendekat.

Begitu kami berbalik menuju r u m a h, sayup-sayup suara Bu Tari masih terdengar meleng king di belakang. “Kasihan ya Pak Rendra. R u m a h tangga hambar tanpa a n a k. Kalau saya jadi ibunya, sudah saya suruh nikah lagi itu.”

Langkahku sempat tertahan di aspal gang. Rasanya ingin sekali aku berbalik dan mencakar mulut t a j a m itu. Namun, Mas Rendra menggenggam jemariku erat. “Sudah, Dek. Jangan didengar,” bisiknya menenangkan.

Sampai di dalam r u m a h peninggalan almarhum kakekku yang tua dan sederhana, pertahananku runtuh. Aku duduk di sofa ruang tamu dan tangisku pecah. “Mas... apa aku sesalah itu di mata mereka? Apa rahimku yang kosong ini sebuah aib besar?”

Mas Rendra berlutut di depanku, membelai jilbabku penuh kelembutan. Tatapannya selalu teduh. “Dek, dengerin Mas. Kita sudah berjuang sama-sama. Kalau memang takdir kita cuma hidup berdua, Mas sudah ikhlas. Mas cuma butuh kamu di samping Mas.”

“Tapi mereka keterlaluan, Mas!”

Mas Rendra tersenyum t i p i s, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di matanya. “Biarkan saja mereka bicara apa sekarang, Dek. Roda kehidupan itu berputar. Mas punya kabar baik buat kamu.”

Mas Rendra mengambil tas kerjanya, lalu mengeluarkan sebuah map berwarna biru tua. “Coba lihat ini.”

Aku menerima map itu dengan jantung berdebar. Begitu kubuka, mataku tertuju pada lembar dokumen resmi. “SPK?” gumamku pelan.

“Proyek pengadaan di Gresik yang Mas ceritakan akhirnya tembus, Dek. Nilainya miliaran. Tadi siang, u a n g muka besar sudah masuk ke r e k e n i n g proyek Mas,” ucapnya mantap sambil menunjukkan layar ponsel. Nominal mutasi r e k e n i n g di sana membuatku hampir kehilangan suara.

“Alhamdulillah...” lirihku. Air mataku kembali jatuh—kali ini karena harapan.

“Alhamdulillah,” jawab Mas Rendra. “Kita bisa pelan-pelan keluar dari semua ini. Kamu gak perlu lagi menunduk setiap dengar omongan orang.”

Dadaku hangat. Aku merasa begitu dicintai dan dilindungi. Namun, di tengah rasa syukur itu, aku sama sekali tidak menyadari tatapan Mas Rendra yang sempat bergeser ke arah jendela, menatap lurus ke arah r u m a h megah milik Bu Tari yang berdiri persis di seberang jalan.

Ada sesuatu yang melintas di wajah suamiku. Dingin, t i p i s, dan hampir tak terlihat. Seperti sebuah rencana rapi yang baru saja mulai bergerak di dalam kepalanya.

Selengkapnya di KBM yaaah. 🥰🥰🥰

Judul: Hadiah Perih Dari Suamiku

Penulis: Ita Wachid20

#HadiahPerihDariSuamiku

#KBM

#ItaWachid20

#RekomendasiNovel

7/2 Diedit ke

... Baca selengkapnyaBerbicara tentang perjuangan selama bertahun-tahun tanpa hadirnya anak dalam sebuah pernikahan, saya sangat mengerti bagaimana tekanan sosial dan stigma bisa menjadi beban yang sangat berat bagi seorang istri. Dalam cerita ini, tokoh Aini sudah berjalan selama 13 tahun sebagai wanita mandul di mata tetangga. Sosok Aini menghadapi cemoohan dan pandangan sinis setiap kali berkumpul dengan ibu-ibu komplek hingga membuat hatinya berasa sesak dan kehilangan semangat. Dari pengalaman pribadi dan cerita sekeliling yang saya dengar, sering sekali wanita menjadi sasaran kritik dan dianggap sebagai pihak yang "bermasalah" ketika pasangan tidak memiliki anak. Padahal, sesungguhnya infertilitas adalah masalah bersama yang perlu dukungan dan pengertian, bukan celaan. Perjuangan Aini dan suaminya yang disebutkan melalui doa, herbal, dan medis, mewakili betapa seorang pasangan tidak mudah menyerah dalam meraih impian menjadi orang tua. Namun, yang lebih menyentuh adalah ketika Mas Rendra menghadirkan kabar baik berupa proyek bernilai miliaran yang masuk ke rekeningnya. Hal ini seakan membuka babak baru dalam kehidupan mereka, memberi harapan bahwa perjalanan sulit itu akan berbuah manis. Namun, cerita ini juga mengingatkan bahwa perubahan status sosial dan keuangan dapat membawa tantangan baru. Reaksi dan perasaan Mas Rendra yang tiba-tiba terlihat berbeda menambahkan unsur ketegangan, mungkin mengisyaratkan rencana atau masalah yang belum terungkap. Saya sangat menghargai bagaimana cerita ini menyentuh sisi kemanusiaan dan kompleksitas hubungan pernikahan yang tidak hanya soal hadirnya keturunan, tapi juga soal saling mendukung dan menerima. Di dunia nyata, menurut saya penting bagi kita untuk lebih empati kepada pasangan yang menghadapi masalah infertilitas, tanpa menghakimi atau menambah luka dengan ucapan tidak sensitif. Kisah ini mengingatkan saya bahwa setiap pasangan memiliki cerita unik di belakang rumah tangga mereka. Kesabaran, cinta, dan kebersamaan adalah kunci utama untuk melewati badai kehidupan apapun. Semoga cerita "Hadiah Perih dari Suamiku" ini menginspirasi banyak pembaca untuk lebih terbuka hati dan memahami sesama.