BAB 2
Aroma kuah soto ayam yang baru mendidih memenuhi dapur, sedikit mengurangi sisa se sak di da da ku sejak kemarin sore. Sambil me mo tong daun seledri, mataku sesekali melirik ke arah luar jendela. Di seberang jalan, r u m a h berlantai dua milik Bu Tari sudah tampak ramai. Wanita itu sedang menyiram tanaman hiasnya di teras, sesekali melemparkan pandangan t a j a m ke arah r u m a h kakekku.
Aku menghela n a p a s panjang. Kemarin, Mas Rendra berjanji roda kehidupan kami akan berputar berkat u a n g muka proyek miliaran di Gresik, tapi entah kenapa, pagi ini ha ti ku justru berde bar tidak tenang.
“Dek, sarapannya sudah siap?” Suara bariton Mas Rendra memecah lamunanku. Dia masuk ke dapur, sudah rapi dengan kemeja batik. Wajahnya segar dengan senyum teduh yang selalu membuatku aman.
“Sudah, Mas. Ini soto kesukaanmu,” jawabku sambil menyendokkan nasi hangat ke piringnya di meja makan kayu.
Mas Rendra menerima piring itu dengan anggukan sopan. “Terima kasih, ya. Oh ya, setelah sarapan, kamu jangan ke mana-mana dulu. Ada yang mau Mas tunjukkan.”
Sebelum aku sempat mendesak, terdengar suara klakson mobil dua kali di depan pagar besi r u m a h kami. Tin! Tin! Di gang Sidomukti ini, jarang sekali ada mobil berhenti di depan r u m a h tua kakekku.
“Ayo kita lihat ke depan,” ajak Mas Rendra sambil menggandeng tanganku erat.
Begitu melangkah keluar, mataku melebar. Di balik pagar besi yang mengelupas, terparkir sebuah Hon da B r i o putih yang mengilat. Seorang pria paruh baya berkemeja rapi berdiri meme gang map besar.
“Pagi, Pak Rendra. Unitnya sudah saya antar sesuai kesepakatan kemarin sore.
Surat-surat dan kuitansi pelunasannya lengkap di dalam map ini,” ucap pria itu hormat.
“Terima kasih, Pak. Silakan kuncinya diserahkan langsung ke istri saya,” jawab Mas Rendra.
Jantungku serasa berhenti berdetak. “Mas ... ini ... mobil siapa?”
“Mobil kamu, Dek,” bisik Mas Rendra lembut. “Kemarin sore u a n g muka proyek masuk, Mas langsung urus pelu na san ke showroom rekanan di Lamongan. Ini Brio second tahun muda, Mas beli tunai.”
Pria itu menyerahkan kunci ke tanganku yang dingin karena syok, bersamaan dengan Mas Rendra yang menyerahkan map berkas tran sak si ke pelu kan ku. Kuitansi resmi bermeterai dan faktur pembelian sudah atas namaku sebagai pembeli mutlak. Sisa administrasi balik nama di Samsat tinggal menunggu pihak showroom menyelesaikannya minggu depan.
Setelah serah terima selesai, pria itu berpamitan. Aku berdiri mematung di halaman luas r u m a h kakek, air mataku mengalir. “Mas ... ini beneran buat aku?”
“Beneran, Dek. Biar kamu enggak kepanasan lagi naik motor tua. Dan yang paling penting ...” Mas Rendra memutar tubuhku menghadap ke arah jalan raya.
Di seberang jalan, Bu Tari berdiri mematung dengan mulut sedikit terbuka dan mata m e l o t o t t a j a m. Di sebelah rumahnya, Jeng Lastri juga keluar dengan wajah tak kalah terkejut. Pagi ini, sebuah t a m p a r a n tunai mendarat di wajah-wajah yang kemarin merendahkan kami.
Mas Rendra me rang kul pundakku, genggamannya terasa sangat kuat—sedikit terlalu kencang. “Mulai sekarang, kamu enggak usah mendengarkan omongan orang-orang di seberang jalan itu lagi, Dek Aini. Fokus saja pada hidup kita di dalam pagar r u m a h ini.”
Suaranya datar, dingin, namun penuh penekanan misterius. Dadaku membuncah haru. Aku merasa menjadi wanita paling beruntung memiliki suami alim yang memuliakanku, yang langsung membelikan mobil tunai demi menghapus air mataku yang d i h i n a mandul kemarin sore.
Aku meme luknya e rat. Namun di atas pundakku, mata Mas Rendra menatap lurus, dingin, dan tanpa ekspresi ke luar jalanan. Sebuah skenario besar nan rapi tampaknya baru saja berhasil melewati babak pertamanya.
Judul: Hadiah Pe rih dari Suamiku
Penulis: Ita Wachid20
Selengkapnya di KBM
















