"Mas, aduh ... Mas Jefri, pe rutku sa kit sekali," ujar Nanda sambil menangis. Tangannya mere mas sprei, keringat dingin membanjiri keningnya.

"Ya, Dek, Astaghfirullah, d a r a h dek, jangan-jangan kamu keguguran lagi." Mas Jefri segera menggendongku. Wajahnya kelihatan pa nik sekali. Di dalam mobil menuju r u m a h sakit, dia terus meme gang tanganku e rat.

"Sabar ya, S a y a n g. Yang kuat. Mas ada di sini," katanya.

Aku merasa sangat dicintai. Di tengah rasa sakit karena harus kehilangan calon buah hati untuk ketiga kalinya, perhatian Jefri adalah obat bagiku. Meski rahimku lemah, suamiku tetap setia dan begitu mengkhawatirkanku.

Setelah tindakan medis selesai, Jefri tidak beranjak dari samping tempat tidurku. Dia menyuapiku bubur r u m a h sakit dengan sabar.

"Jangan dipikirin dulu ya, Nan. Yang penting kamu sehat. Mas nggak apa-apa kok belum punya a n a k sekarang, yang penting Mas punya kamu."

Tiga hari kemudian, aku diperbolehkan pulang. Alfarisa, adik iparku, datang membawa sup ayam dan buah-buahan.

"Mbak Nanda istirahat aja, biar Risa yang beresin dapur. Mbak harus bedrest total."

"Makasih ya, Ris. Kamu baik banget."

"Ya ampun, Mbak, kita kan keluarga."

Sore itu, mereka mengira aku sudah tertidur. Aku terbangun karena haus dan berjalan keluar k a m a r. Langkahku terhenti saat mendengar suara Jefri dan Risa dari arah ruang belakang.

"G i l a ya Mas, aktingmu di r u m a h sakit juara banget. Sampai nangis-nangis gitu," ujar Risa.

Jefri tertawa. "Ya harus gitu, Ris. Kalau nggak digituin, dia bakal c u r i g a. Aku udah enek. Tiga tahun isinya cuma keguguran sama biaya r u m a h sakit terus. Gaji sepuluh juta mana cukup buat foya-foya kalau habis buat obat penguat janin."

"Hahaha, untung dulu aku ngenalin Dita ke kamu. Dita cerita semalem kalian 'main' di hotel."

"Ssst! Iya, Dita beda sama Nanda. Dita mah subur. Tinggal nunggu waktu buat bilang ke Nanda soal poligami. Bilang aja demi a n a k."

"Ibu juga udah setuju. Kalau Nanda mau cerai ya silakan, biar r u m a h ini ditempatin Dita. Nanda kan cuma nulis-nulis nggak jelas di r u m a h."

Aku bersandar di tembok dingin. Lututku lemas. Perutku yang baru dikuret terasa semakin sakit. Jefri, suamiku yang tadi masih m e n c i u m keningku, ternyata sudah t i d u r dengan wanita lain saat aku berjuang di r u m a h sakit.

Dan Risa ... adik ipar yang tadi menyelimutiku, ternyata menjadi bagian dari pengkhianatan ini.

Air mataku tidak keluar. Kesedihan berubah menjadi amarah. Mereka tidak tahu, u a n g tambahan untuk memenuhi kebutuhan r u m a h ini berasal dariku.

Mereka pikir aku hanya penulis r u m a h tangga? Mereka lupa, orang tuaku meninggalkan emas yang nilainya bisa membeli h a r g a diri Jefri dan Risa berkali-kali lipat.

"Kalian mau main?" bisikku. "Oke, mari kita main sampai salah satu dari kalian memohon untuk m a t i."

Aku kembali ke k a m a r, lalu membuka ponsel.

"Halo, Mas Wildan. T o l o n g carikan saya data lengkap tentang suami Alfarisa Widianto. Semuanya. Termasuk u t a n g-utangnya."

Kalau Jefri bisa punya Dita, maka suami Risa juga harus punya wanita lain. Aku akan memastikan Risa merasakan nikmatnya "berbagi" yang selalu dia agung-agungkan itu.

📚 Judul: Madu Untuk Ipar

✍️ Penulis: Ita Wachid20

Jangan lupa download KBM APP dari Aplikasi bawaan HP masing-masing dan cari judul di atas ya!

#fyp #kbmapp #kbmappforyou #MaduUntukIpar #ItaWachid20

7/4 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman seperti kisah yang dialami Nanda memang sangat menyakitkan dan membuka mata tentang betapa kompleks dan sulitnya dinamika rumah tangga yang penuh pengkhianatan. Situasi di mana seorang istri yang sudah melewati cobaan keguguran berulang kali, masih harus menanggung pengkhianatan suami dan keluarga dekatnya, tentu membuat hati hancur dan rasa percaya remuk. Bagi saya, kisah ini juga mengingatkan pentingnya dukungan emosional yang tulus dalam hubungan pernikahan, terutama saat menghadapi masalah kesehatan atau kehilangan yang berat. Jefri, dengan perannya yang berpura-pura peduli, menunjukkan bagaimana tampilan luarnya bisa sangat menipu dan menyakiti orang terdekatnya. Hal ini juga menggambarkan bagaimana perilaku manipulatif bisa memanipulasi rasa iba hingga mempertahankan fasad kebahagiaan di depan umum. Selain itu, pengkhianatan yang melibatkan orang terdekat seperti adik ipar memperlihatkan bagaimana konflik dan persaingan dalam keluarga besar bisa berkembang menjadi luka yang dalam. Ini menjadi pelajaran penting untuk selalu waspada dan menjaga komunikasi serta batasan yang sehat agar hubungan antar keluarga tetap harmonis. Dari sisi finansial, cerita ini juga menyinggung masalah beban biaya rumah sakit dan pengobatan yang bisa menjadi tekanan tersendiri dalam rumah tangga. Ketika sang istri menyadari bahwa selama ini dirinya yang menanggung beban ekonomi, meski tidak sepenuhnya dihargai, memberi wawasan bahwa keadilan dalam berbagi tanggung jawab sangat krusial. Kisah ini menginspirasi saya untuk tidak pernah menyerah bahkan saat menghadapi pengkhianatan dan kesulitan sekalipun. Rencana Nanda untuk mengumpulkan data tentang suami Alfarisa menunjukkan langkah bergerak ke arah mendapatkan kembali kontrol dan membalas perlakuan tidak adil. Tentu, membalas dendam bukanlah jalan keluar terbaik, tapi mengambil kendali atas hidup dan memperkuat diri untuk masa depan yang lebih baik adalah pesan kuat yang bisa diambil. Bagi pembaca lain yang mungkin sedang berjuang dengan pengkhianatan atau trauma dalam rumah tangga, penting untuk mencari dukungan dari keluarga yang dipercaya, teman, atau konselor profesional. Kejujuran dan komunikasi terbuka tetap menjadi fondasi utama membangun kembali kepercayaan serta kebahagiaan. Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk menghargai pasangan dan keluarga, serta selalu menjaga integritas dan komitmen dalam hubungan.