Bab 3
"Duh, Mbak Nanda, kalau lihat Saqueena itu ya, pinternya minta ampun. Kemarin dia dapet bintang empat di sekolah," ujar Risa sambil menyodorkan po to ngan apel padaku. Matanya berbinar, tapi ada nada pamer yang kental di sana. "Mas Jefri itu s a y a n g banget sama Saqueena. Tiap minggu pasti dibeliin mainan. Kemarin aja dibeliin r u m a h boneka yang gede banget."
"Iya, Mas Jefri memang suka a n a k kecil, Ris."
"Makanya, Mbak ..." Risa menghela n a p a s panjang, pura-pura prihatin. "Mas Jefri itu kan cucu laki-laki satu-satunya dari keluarga Widianto, juga a n a k laki-laki kesayangan Ibu. Garis keturunan Widianto itu ada di dia. Kalau cuma ngandelin Saqueena, kan marganya nanti putus, Saqueena bakal ikut marga Mas Afif. Makanya Ibu tuh ngebet banget pengen cucu laki-laki dari Mas Jefri."
Dia berhenti sejenak, menatapku dengan tatapan yang seolah-olah mengasihani. "Mbak Nanda jangan masukin hati ya, tapi Mas Jefri itu sering curhat ke aku. Dia bilang r u m a h ini rasanya sepi. Nggak ada suara tangis b a y i, nggak ada mainan berantakan. Dia itu hampa, Mbak."
Hampa atau gatal? batinku geram.
"Iya, Ris. Aku paham kok," jawabku pendek. Aku ingin lihat sejauh mana dia akan berakting.
Risa melirik jam dinding. "Aduh, udah jam sebelas. Aku harus jemput Saqueena dulu ya, Mbak."
Dia membereskan tasnya, m e n c i u m tanganku, sebuah gestur yang dulu kuanggap hormat, tapi sekarang terasa seperti ejekan, lalu melenggang pergi dengan motor Scoopy-nya.
Begitu deru motornya menjauh, aku segera mengambil ponsel. Laporan tentang Afif sudah masuk lagi.
"Target (Afif) baru saja meminjam u a n g ke pinjaman online sebesar 5 juta rupiah untuk tambahan membayar cicilan mobil yang menunggak dua bulan. Dia tampak sangat stres."
Aku tersenyum. Sempurna.
Aku menelepon Maya. "Maya, tugasmu bakal semakin dekat harinya, kamu yakin siap? Atau kamu mau tahu detail h a r g a yang aku tawarkan? Seratus juta kurang gak?"
"Seratus juta, Bu. Nggak kurang, itu banyak banget, sebenarnya tugas saya apa? Cuma ngegodain atau lebih, Bu?"
"Yah, ini agak riskan sih. Kamu punya pacar nggak? Bahaya kalo kamu ada cowok atau gebetan."
"Nggak ada, Bu. Boro-boro pacaran, saya sibuk nyari u a n g untuk pengobatan ibu dan sekolah adek saya si Faisal."
"Oh, oke. Kamu perlu menggoda Afif, lalu kalo berhasil menikah sama dia, aku tambahin lima puluh juta lagi, dan juga aku akan menanggung seluruh biaya berobat ibumu dan juga biaya sekolah adikmu."
"YaAllah, Bu. Itu lebih dari cukup, saya pastikan tugas dari ibu pasti terlaksana dengan baik."
"Bagus, aku percaya kamu. Waktunya tunggu instruksi aja, gak bakalan batal. Aku cuma minta kamu mempersiapkan diri dan mental."
"Siap, Bu."
Sore harinya, Jefri pulang. Dia tampak segar, jauh dari kata "pusing kantor" yang tadi pagi dia keluhkan. Di belakangnya, menyusul Risa yang menggandeng Saqueena.
"Papa Jefri!" teriak Saqueena sambil berlari memeluk Jefri.
Jefri tertawa lebar, menggendong keponakannya itu tinggi-tinggi. "Halo, a n a k cantik! Wah, dapet bintang berapa hari ini?"
Pemandangan itu seharusnya manis, tapi bagiku itu adalah t a m p a r a n. Mereka bertiga,Jefri, Risa, dan Saqueena, terlihat seperti keluarga utuh, sementara aku hanya penonton.
"Liat tuh, Mbak. Mas Jefri pantes banget kan kalau udah gendong a n a k?" celetuk Risa sambil melirikku.
Aku bangkit berdiri, m e n a h a n rasa nye ri yang masih sedikit terasa di pe rutku. "Iya, pantes banget. Oh ya Mas, tadi aku denger dari Risa kalau kamu sering curhat merasa hampa di r u m a h ini?"
Wajah Jefri langsung berubah kaku. Dia melirik Risa dengan tatapan menyalahkan, sementara Risa pura-pura sibuk membetulkan kuncir rambut anaknya.
"Eh, itu ... bukan gitu maksudnya, Nan. Mas cuma ..."
"Nggak apa-apa, Mas," aku memotong kalimatnya.
Kamu pikir aku bakal diam?? Mu lutku memang diam, tapi kamu akan menikmati kejutan.
📚 Judul: Madu Untuk Ipar
✍️ Penulis: Ita Wachid20
Selengkapnya di KBM.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita menemui konflik yang kompleks dalam suatu keluarga, seperti yang tergambarkan dalam cerita "Madu Untuk Ipar". Rasa sayang dan perhatian yang berlebihan bisa menjadi bumerang ketika disertai dengan kepentingan pribadi dan tekanan dari keluarga besar. Pengalaman pribadi saya pernah merasakan bagaimana sulitnya menjaga hubungan baik dengan keluarga, terutama ketika ada perasaan iri atau harapan yang tidak terpenuhi. Kisah ini sangat dekat dengan realita banyak orang, di mana status anak laki-laki dalam keluarga terkadang dijadikan sebagai simbol keberlanjutan garis keturunan, sehingga menimbulkan beban tersendiri bagi yang bersangkutan. Ketegangan yang terjadi antara karakter Mas Jefri, Risa, dan Saqueena memperlihatkan bagaimana tekanan sosial dan ekspektasi keluarga bisa menyebabkan konflik yang merusak keharmonisan. Selain itu, cerita juga menyentuh masalah percobaan pinjaman online yang dialami Afif, menunjukkan bagaimana tekanan finansial dapat mempengaruhi psikologis seseorang. Ini mengingatkan saya akan pentingnya manajemen keuangan dan komunikasi terbuka dalam keluarga agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berujung pada stres. Dari sisi karakter Maya, yang harus menjalankan misi berisiko demi membantu keluarganya, kita bisa belajar tentang pengorbanan dan keteguhan hati dalam menghadapi cobaan hidup. Namun, kita juga harus berhati-hati agar niat baik tidak disalahgunakan untuk kepentingan yang merugikan. Ketegangan dan intrik dalam cerita ini berhasil mengaduk emosi dan membuat pembaca dapat merasakan betapa kompleksnya perasaan dan hubungan antar anggota keluarga. Pengalaman-pengalaman seperti ini membuka wawasan kita bahwa menjaga rasa saling pengertian dan empati sangat penting untuk menjaga keharmonisan keluarga.

