(1)“Cuma gara-gara chatmu nggak dibalas, kamu ngam bek?” tanya Zeya sambil meletakkan tasnya.
“Ya iyalah aku ngam bek? Jadi sekarang aku yang sa lah?”
“Loh, memang sa lah siapa? Aku lagi kerja.”
“Kerja, kerja, kerja. Selalu itu alasanmu.”
Baru lima menit sampai di rumah, kepala Zeya sudah berde nyut. Seharian ia belum sempat minum karena rapat, telepon klien, dan revisi laporan. Saat membuka ponsel, ada dua puluh tiga pesan dari Arven.
“Ven, aku nggak lagi nongkrong. Aku kerja.”
“Kalau peduli, harusnya sempat balas.”
Zeya mengusap wa jah. Ia tak mengerti kenapa chat yang terlambat dibalas berubah jadi perteng ka ran.
“Apa fungsi HP kalau bukan buat komunikasi!” bentak Arven.
“Aku ini kerja buat siapa, Ven?”
“Kalau memang aku penting, kamu pasti sempat balas.”
“Jadi ukuran cinta sekarang chat?”
“Aku cuma pengen dihar gai.”
“Dan aku nggak menghar gaimu?”
Arven diam. Diamnya terasa seperti tu du han.
“Aku bangun paling pagi, pulang paling malam, bantu ba yar ci ci lan, tetap masak meski capek. Lalu apa yang kurang?”
Masih diam.
“Aku ini istrimu. Aku nggak pernah se ling kuh, bo hong, atau ning galin kamu. Tapi kenapa aku selalu diperlakukan seperti orang yang bersa lah?”
“Aku cuma minta perhatian.”
“Aku udah kasih.”
“Belum. Perhatian penuh.”
“Harus dua puluh empat jam?”
“Aku suamimu. Harusnya aku prioritas.”
“Aku selalu menjadikanmu prioritas.”
“Bo hong.”
Satu kata itu terasa seperti tam pa ran. Namun yang memenuhi da da Zeya bukan ma rah, melainkan kese dihan.
“Apa kamu pernah berpikir aku juga capek?”
Arven tetap diam.
Saat itulah Zeya sadar ada yang aneh. Bukan soal chat atau sikap bapernya, tetapi sesuatu yang lebih besar.
Kenapa Arven selalu mencari alasan untuk ma rah? Kenapa ia selalu ingin menjadi pihak yang disa ki ti? Kenapa Zeya selalu dipaksa meminta maaf?
Lanjut?
. . .
Eksklusif hanya di KBM App ⬇️
“Suami Baperan”
Penulis: mommy_JF
Pengalaman saya mengetahui konflik yang timbul akibat ketidakseimbangan dalam komunikasi digital bisa sangat menguras emosi. Seperti yang dialami Zeya, banyak pasangan yang merasa hubungan mereka diuji hanya karena masalah sederhana seperti balas chat. Dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi pasangan yang sama-sama sibuk, terkadang pesan yang terlambat dibalas bukan karena tidak peduli, melainkan karena tuntutan pekerjaan yang menyita perhatian. Namun, hal penting yang perlu diingat adalah kebutuhan akan perhatian dalam hubungan. Bukan sekadar balasan chat, melainkan kehadiran emosional dan rasa dihargai yang membuat hubungan tetap hangat. Saya sendiri pernah mengalami situasi dimana pasanganku merasa diabaikan hanya karena keterlambatan membalas pesan. Solusinya adalah komunikasi terbuka, menjelaskan kesibukan masing-masing dan menetapkan waktu khusus untuk berkomunikasi tanpa gangguan pekerjaan. Selain itu, saya belajar pentingnya memahami sisi pasangan, seperti Zeya yang juga tengah lelah setelah aktivitas kerja seharian. Konflik seringkali muncul karena kurangnya empati dan saling menuntut penuh perhatian sepanjang waktu. Dari pengalaman pribadi, memberi jeda dan saling pengertian jauh lebih efektif daripada saling menyalahkan. Menurut saya, dalam konteks "suami baperan" yang mudah tersinggung seperti Arven, pasangan perlu mengelola ekspektasi dan belajar menyalurkan perasaan dengan cara yang konstruktif, bukan dengan marah atau diam yang menyakitkan. Menetapkan batasan wajar dan terus membina kepercayaan adalah kunci agar komunikasi tetap lancar dan konflik tidak membesar. Kesimpulannya, cerita Zeya dan Arven ini menggambarkan realitas yang sangat umum terjadi di banyak rumah tangga modern. Perhatian dan pengertian lebih berarti daripada sekadar balasan chat cepat. Pengalaman saya mengajarkan bahwa kesabaran dan komunikasi jujur menjadi pondasi penting menjaga keharmonisan meski di tengah kesibukan dan tekanan hidup.

