Mertuaku Selalu Dihi na

Bu Lena mengambil beberapa belanjaan yang aku yakin total belanjaannya itu juga tidak sedikit. Karena ia juga mengambil da gi ng dan ikan. Lalu, ia pergi tanpa memberikan D-P sedikitpun. Orang kaya apaan, tuh. Belanja aja ngvtang.

"Huu ... orang kaya apaan? belanja di mana-mana sering ngvtang, kok." Celetuk salah satu Ibu

"Iya," timpal Ibu yang lain, "Mang Udin hati-hati lho entar kalau nggak dib4yar. Udah ngambilnya main comot-comot aja nggak dihitung."

Mang Udin jadi nampak galau, "Kalau soal itu sih, udah saya hitung. Tapi yang bikin ragu, dib4yar apa enggaknya."

"Lho, bukannya Bu Lena itu kaya, ya? Pasti dib4yar, dong?" tanyaku penasaran.

"Begini Nak Fatimah, sebenarnya suami Bu Lena itu memang merantau kerja di pertambangan. Katanya sih, g4jinya sebulan 10 jvta. Tapi dia itu kan boros sekali. Jadi, vang berapa pun tidak akan cukup." Jelas salah seorang Ibu.

Aku hanya membulatkan b i b ir tanda mengerti. Jadi, g4ji suaminya cuma 10 jvta? Tapi lagaknya udah kaya istri presiden aja.

Setelah belanja, aku bergegas pulang untuk mengeksekusi belanjaanku. Kebetulan aku tadi baca-baca di g*gel cara memasak capcay dan ayam kecap.

Saat hampir sampai rumah, aku melihat perempuan berhijab berdiri di depan pintu rumah. Aku segera sembunyi dibalik pohon untuk memastikan siapa wanita itu. Aku curiga itu adalah Mawar. Soalnya dilihat dari postur tvbuh dan cara berpakaiannya sama.

Wanita itu mengucap salam dan mengetuk pintu. Tak lama kemudian, Mas Damar keluar. Wajahnya terlihat celingukan dan tidak nyaman.

"Mawar? Ada apa kamu ke sini?" tanya Mas Damar yang masih bisa aku dengar dengan jelas.

"Lho, kenapa, Mar? Memangnya nggak boleh ya, aku ke sini? Apa karena sekarang kamu sudah punya istri?"

"Bu-bukan begitu War, tapi ...." Mas Damar masih terlihat gugup.

"Tapi apa, Mar? Tega sekali, ya, kamu nikah tanpa kasih kabar? Bahkan saat kemarin kita ketemu pun, kamu nggak bilang apa-apa? Maksud kamu apa, Mar? Kamu udah nggak anggap aku sahabat lagi?"

Lho, kenapa Mawar jadi marah-marah? Kenapa dia berani marah-marah seperti itu sama suamiku? Emang dia punya hak apa? Jangan-jangan mereka memang punya hubungan khusus.

"Bukan begitu War, kamu dengerin penjelasan aku dulu."

"Apa lagi yang mau kamu jelaskan? Sudah jelas-jelas kamu tidak menganggap kami sahabat. Aku tanya Yanto pun dia baru tahu kemarin karena istrimu ke sana nyariin kamu pas kamu di rumahku."

Mas Damar terlihat kaget, "Jadi, Yanto ngasih tau kalau aku sedang di rumahmu? Apa Yanto juga ngasih tau alamat rumahmu?"

Mawar yang tadi menunduk, kini nampak menatap nyalang Mas Damar.

"Kenapa? Kamu khawatir kalau istri kamu melihat kita berduaan, terus dia cemburu? Bukankah, semalam di chat kamu bilang kalau kamu terpaksa menerima pernikahan ini karena kamu pengen balas budi? Tapi, kenapa sekarang kamu malah mengkhawatirkan perasaannya."

'Degh'

Ucapan mawar benar-benar membuatku patah hati. Jadi, benar dugaanku kalau selama ini Mas Damar sama sekali tidak mencintaiku. Dia hanya ingin balas budi.

Ya Allah ... firasatku memang berkata kalau Mas Damar belum menerimaku sebagai istrinya. Tapi kenapa rasanya s a k it sekali saat tau kenyataannya dari mulut orang lain? Apalagi orang itu adalah Mawar.

"Aaaa .... "

Aku menjerit histeris saat tiba-tiba ada seekor kalajengking di pohon pisang tempatku sembunyi. Tentu saja hal itu membuat Mas Damar dan Mawar menoleh ke arahku.

Aku mendengar gumaman Mas Damar menyebut namaku, "Fatimah?"

***

Ada yang mau tau PoV Damar? Simak di bab 11 yang hanya bisa dibaca di kbm.

Baca selengkapnya di kbm app

Judul Mertuaku Selalu Dihin4

Penulis Lisa Kanaya LTF

7/19 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman Fatimah dalam menghadapi mertua yang selalu menghina dan suami yang tampak belum merasakan cinta sejati tentu menjadi gambaran nyata banyak pasangan yang menikah dijodohkan. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit pasangan yang harus menghadapi tekanan dari keluarga besar, terutama mertua, yang terkadang membuat suasana rumah menjadi tidak harmonis. Sikap Bu Lena yang sering berhutang pada pedagang dan tak pernah membayar kontan menunjukkan bagaimana status sosial dan loyalitas moral bisa berbeda. Fenomena ini sering saya temui dalam lingkungan sekitar saya, di mana terkadang orang kaya pun bisa memiliki kebiasaan buruk dalam mengelola keuangan dan etika pembayaran, sehingga pedagang lokal harus bersabar menahan beban tersebut. Lebih menyakitkan lagi adalah konflik batin yang dialami Fatimah akibat kehadiran Mawar, mantan pacar suami yang masih menunjukkan ketidakjelasan hubungan. Saya pernah bertemu dengan seorang teman yang menghadapi situasi serupa, di mana suami tidak sepenuhnya menerima istrinya karena pernikahan yang lebih karena permintaan keluarga. Ini mengajarkan saya bahwa kejujuran dan komunikasi terbuka antara pasangan sangat penting untuk membangun fondasi cinta yang tulus, bukan hanya sekedar balas budi atau kewajiban keluarga. Melihat cemburu dan kemarahan Mawar yang menuduh suami Fatimah mengabaikan persahabatan mereka, saya merasa betapa rumitnya sebuah hubungan yang terjalin sebelum dua hati benar-benar siap. Sangat wajar jika seorang istri merasa sakit hati dan curiga, apalagi ketika semua informasi datang dari mulut orang lain, bukan suami sendiri. Saya menyarankan bagi pembaca yang mengalami situasi serupa untuk selalu membangun komunikasi yang jujur dan mencari mediasi dari pihak ketiga jika perlu, agar setiap pihak bisa terdengar dan dimengerti. Selain itu, kejadian dimana Fatimah histeris karena seekor kalajengking menunjukkan bagaimana tekanan psikologis terkadang memicu reaksi berlebihan yang juga menjadi sinyal perlunya dukungan emosional dari pasangan dan keluarga. Dalam keluarga saya sendiri, saat menghadapi stres berat, kami selalu mencoba untuk saling mendukung dan mencari solusi bersama agar rasa takut dan kecemasan tidak memperparah keadaan. Bagi pembaca yang tertarik dengan kisah ini, saya sarankan untuk melanjutkan membaca bab selanjutnya di kbm app, yang menawarkan sudut pandang lain dari Mas Damar. Dengan begitu, kita bisa memahami lebih dalam perjuangan kedua belah pihak dan belajar bahwa setiap hubungan memiliki banyak sisi yang perlu dilihat sebelum mengambil kesimpulan. Semoga cerita ini menjadi pengingat bahwa cinta, pengertian, dan komunikasi adalah kunci utama dalam membangun rumah tangga yang bahagia.