Part 6
Bukan Istri, Tapi Pemb antu
Jam baru menunjukkan pukul setengah empat pagi ketika Wulan sudah berdiri di dapur. Ba dannya masih terasa pe gal dari aktivitas kemarin. Tang annya yang mele puh karena set rika masih pe rih. Tapi alarm di ponselnya tidak kenal ampun.
Bangun. Masak. Siapkan sarapan. Itu tugasmu.
Wulan menyala kan kom por. Api biru kecil menyala. Ia meleta kkan wajan, menua ngkan minyak, lalu mulai menumis bawang untuk nasi goreng. Menu sarapan favorit Bu Tuti. Kata mertuanya itu, "Nasi goreng buatanmu lumayan enak. Jangan sampai berubah rasanya."
Puji an sekaligus perin tah.
Sambil menunggu nasi ma ta ng, Wulan menye duh teh manis. Dua gelas untuk Bu Tuti dan Dewi. Satu gelas untuk Arga. Tidak ada untuk dirinya sendiri. Pemba ntu tidak perlu minum teh.
Jam setengah enam, semua hidangan siap. Wulan menghe la nap as lega. Hari ini ia lebih cepat dari kemarin. Semoga tidak ada ome lan.
Pukul enam tepat, Bu Tuti turun. Rambutnya sudah ter sisir rapi. Ga mis batiknya melambai-lam bai saat ia berjalan menuju meja makan.
"Nasi goreng lagi?" tanya Bu Tuti sambil duduk.
"Iya, Bu. Menu kesukaan Ibu."
"Ya sudah. Cepat am bilkan."
Wulan segera menya jikan nasi goreng ke piring Bu Tuti. Tidak lupa taburan bawang goreng di atasnya. Bu Tuti suka bawang goreng yang renyah.
Dewi turun lima menit kemudian. Mata nya masih sayu. Gadis itu duduk di kursi tanpa bilang selamat pagi. Langsung menga mbil sendok dan makan.
Wulan berdiri di sa mping meja. Ta ngannya terkep al di depan pe rut. Seperti pra musaji di restor an. Bukan seperti menantu di rum ah mertua.
Arga turun terakhir. Waja hnya di ngin. Ia tidak menatap Wulan. Tidak mengucapkan terima kasih. Ia hanya duduk, makan, lalu berdiri.
"Aku pergi dulu," kata Arga sambil mengambil kunci mobil.
"Belum sarapan, Nak?" tanya Bu Tuti.
"Sudah, Bu. Nasi gorengnya... biasa saja." Arga me lirik Wulan sekilas. Bukan liri kan suami ke istri. Tapi liri kan majikan ke pemb antu yang masakannya kurang memuaskan.
Mobil Arga me la ju keluar halaman. Wulan hanya bisa mena tap dari jendela dapur.
Dia suamiku. Tapi dia tidak pernah bertanya apakah aku sudah makan. Dia tidak pernah bertanya apakah aku cukup ti dur. Dia tidak pernah bertanya apa-apa tentang aku.
Karena baginya, aku bukan siapa-siapa.
Setelah Bu Tuti dan Dewi selesai makan, Wulan mulai membersihkan meja. Piring-piring kotor ia angkat ke da pur. Si sa nasi goreng ia simpan di kulkas. Mungkin nanti bisa untuk mak an siangku.
"Ibu, saya mau ke dulu," kata Wulan.
"Ya sudah. Tapi jangan lama-lama. Nanti kamu setrika baju Dewi. Ada delapan blouse. Semuanya harus rapi."
"Baik, Ibu."
Wulan masuk ke kam ar pemb antunya. Ka mar 2x3 meter dengan ranj ang besi ti pis. Tidak ada lemari. Ba junya hanya diga ntung di paku di din ding.
Ia du duk di ran jang. M atanya terpej am sejenak.
Delapan blouse. Setrika. Lagi-lagi setrika.
Tangannya masih sa kit karena mele puh. Tapi tidak ada yang peduli. Jika ia bilang sa kit, Bu Tuti pasti men jawab, "Kamu cari perh atian, ya?"
Wulan membuka mata. Ia melihat kartu nama Bu Mira yang masih ter selip di saku sera gamnya. Belum sempat ia hub ungi. Belum berani.
Nanti. Nanti kalau ada waktu.
Ia keluar ka mar dan naik ke lantai dua. Di ka mar Dewi, delapan blouse berwarna-warni sudah menunggu di atas ran jang.
Wulan meng ambil setrika yang sudah dipa naskan. Ia mulai menye trika satu per satu. Perlahan. Hati-hati. Jan gan sampai gosong. Jangan sampai ku sut.
Blouse pertama. Kedua. Ketiga.
Tanga nnya terasa pan as. Mele puhnya ber tamba h. Tapi ia teruskan.
Baca selengkapnya di KBM App
Judul : Dulu Pembantu, Kini Jadi Ratu
Penulis : Theresia Anastasia
Menghadapi kehidupan sebagai menantu yang diperlakukan layaknya pembantu memang bukan hal yang mudah, terutama ketika berada di lingkungan keluarga yang tak menunjukkan empati seperti Wulan. Dari pengalamanku sendiri sebagai seorang yang pernah bekerja di keluarga dengan dinamika serupa, penting untuk mengenali batas antara kewajiban dan perlakuan yang merendahkan martabat. Wulan menghadapi rutinitas yang melelahkan: bangun sebelum subuh, menyiapkan sarapan, melayani keluarga suami tanpa pernah mendapatkan apresiasi, bahkan tidak boleh menikmati teh seperti anggota keluarga lainnya. Pengalaman tersebut sangat melelahkan secara fisik dan mental, apalagi ketika tangannya yang melepuh dari setrika tidak mendapatkan simpati sama sekali. Lebih buruk lagi, Wulan diperlakukan bukan seperti seorang menantu yang dihormati, melainkan seperti seorang pembantu yang keberadaannya dianggap bukan siapa-siapa. Suaminya, Arga, bersikap dingin hingga tidak bertanya apakah ia sudah makan atau tidur dengan cukup—tindakan yang menggores hati setiap wanita yang berharap diterima sebagai keluarga. Dalam kondisi tersebut, memiliki jaringan dukungan seperti teman atau profesional sangatlah penting. Misalnya, kartu nama Bu Mira yang diselipkan di saku seragam Wulan bisa menjadi jembatan menuju perubahan. Kadang, memulai langkah kecil seperti menghubungi seseorang yang bisa memberi nasihat atau bantuan akan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Kisah ini mencerminkan perjuangan perempuan yang berjuang mempertahankan harga dirinya dan mencari tempat yang benar-benar bisa memandangnya setara. Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami situasi yang serupa, jangan ragu untuk mencari dukungan psikologis dan sosial. Ingat bahwa setiap orang berhak mendapatkan penghargaan dan perlakuan yang layak, tidak peduli latar belakang atau statusnya. Melalui cerita Wulan ini, mari kita buka mata dan hati bahwa perlakuan tak adil dalam rumah tangga bisa meninggalkan luka mendalam. Dukungan emosional dan komunikasi yang jujur adalah kunci agar semua pihak bisa hidup harmonis dan saling menghargai. Aku sendiri pernah belajar bahwa dengan keberanian untuk bicara dan mencari bantuan, perubahan positif akan mulai terjadi.

