BAB 8: Undangan dari Kota
"Kalau begitu, Dokter Adinda harus rajin belajar dari sekarang."
"Iya, Mbak. Dokter nggak boleh malas."
"Nanti pasiennya ma r ah."
"Nggak mungkin. Dokter Adinda rajin."
Aku tertawa melihat semangat adik bungsuku. Dalam hati, aku berharap mimpi kecilnya benar-benar menjadi kenyataan.
Keesokan paginya, ponsel Ibu berdering.
"Halo, Rina?"
Aku langsung menoleh.
"Wah, serius?"
"Ya Allah... Alhamdulillah."
Bapak masuk dari teras.
"Ada apa, Bu?"
Ibu tersenyum lebar.
"Rina mau tunangan."
"Apa?" seru Anita.
"Beneran, Bu?" tanyaku.
"Iya. Minggu depan acaranya di kota tempat dia kerja."
"Alhamdulillah," ucap Bapak sambil tersenyum.
"Katanya kita semua harus datang."
Adinda langsung bersorak.
"Nanti ada makanan enak, kan?"
Kami semua tertawa.
"Pikiran kamu makanan terus," goda Anita.
"Kalau tunangan pasti ada es krim."
"Yeay!"
Sudah lama sekali rumah kami tidak membicarakan Mbak Rina dengan suasana sehangat ini.
Hari-hari berikutnya kami sibuk mempersiapkan keberangkatan.
"Pak, kancing batiknya masih lengkap."
"Syukurlah."
"Gamis Ibu dijemur dulu, ya."
"Iya."
"Mbak, aku pakai gamis ini?" tanya Anita.
"Cocok."
"Mbak, kerah bajuku kusut," kata Rayhan.
"Sini, Mbak setrika."
Tiba-tiba Adinda berputar memakai gaun merah mudanya.
"Dinda cantik nggak?"
"Cantik."
"Sangat cantik?"
"Sangat cantik."
"Dinda memang cantik."
Kami kembali tertawa bersama.
Malam sebelum berangkat, aku duduk menemani Bapak di teras.
"Bapak senang ya?"
"Iya, Wid."
"Karena Mbak Rina tunangan?"
"Iya."
Beliau memandang jalan yang mulai sepi.
"Bapak cuma ingin hubungan keluarga kita membaik."
Aku mengangguk.
"Mbak Rina mungkin sibuk bekerja."
"Iya, Pak."
"Tapi keluarga tetap harus saling menjaga."
Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepalaku.
Dua hari sebelum berangkat, aku menghitung ta bu ng anku.
"Ong k os..."
"Makan..."
"Amp lo p..."
Ua n g nya kembali berkurang.
Ibu menatapku pelan.
"Kalau berat, nggak usah semua ikut."
Aku langsung menggeleng.
"Nggak bisa, Bu."
"Ta bu ng an mu habis."
"Nggak apa-apa."
"Yakin?"
"Ini acara Mbak Rina. Kita harus datang."
Aku memasukkan u a n g ke dalam amp l op kecil.
Aku ingin kami hadir sebagai keluarga yang utuh.
Hari keberangkatan akhirnya tiba.
"Sudah siap semua?" tanya Ibu.
"Sudah."
"Kita naik apa?" tanya Adinda.
"Bus."
"Jauh?"
"Cukup jauh."
"Seru!"
Sepanjang perjalanan, Adinda tak berhenti menunjuk ke luar jendela.
"Mbak, lihat sawah!"
"Mbak, ada gunung!"
"Mbak, kereta!"
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.
Bapak lebih banyak diam, tetapi sesekali aku melihat beliau tersenyum kecil.
Aku ikut berharap...
Mungkin perjalanan ini akan memperbaiki semuanya.
Beberapa jam kemudian bus berhenti.
Kami berdiri di depan gedung acara.
"Mbak..." bisik Adinda.
"Besar sekali."
Aku mengangguk.
Gedung itu begitu megah.
Lampu-lampu menghiasi halaman.
Mobil-mobil mewah terparkir rapi.
Saat kami hendak masuk, Mbak Rina berlari menghampiri.
"Mbak Rina!"
Aku tersenyum lebar.
Namun wajahnya justru tampak gelisah.
Ia berkali-kali melihat ke arah pintu depan.
Lalu berkata pelan,
"Kalian masuk lewat pintu belakang saja."
Aku membeku.
"Apa?"
"Tolong... masuk lewat belakang."
"Kenapa, Mbak?"
Ia menundukkan kepala.
"Tolong ikuti saja."
Aku menatap wajah kakakku tanpa mengerti.
Bukankah kami datang jauh-jauh untuk merayakan kebahagiaannya?
Bukankah kami adalah keluarganya?
Lalu...
Kenapa kami harus bersembunyi dan masuk lewat pintu belakang?
Saat itu juga, semua harapan yang kubawa dari rumah kecil kami...
Perlahan berubah menjadi firasat bahwa sesuatu yang sangat menyakitkan akan segera terjadi.
BERSAMBUNG
Judul: AKU A N A K KEDUA, AKU TULANG PUNGGUNG KELUARGA
Penulis:
Fitoralo_Theoneandonly
Tayang di KBM App
Menjadi anak kedua dalam keluarga sering kali membawa tanggung jawab besar yang tidak terlihat oleh orang lain. Dari pengalamanku sendiri, peran sebagai sandaran keluarga bukan hanya soal memberikan dukungan, tetapi juga menjaga keutuhan keluarga saat menghadapi dinamika yang kompleks. Dalam cerita ini, semangat Adinda yang rajin belajar menjadi simbol harapan sebuah keluarga. Aku juga merasa relate dengan kisah kehangatan persiapan keluarga menghadiri acara penting seperti tunangan. Momen itulah yang biasanya menguji kerjasama dan kasih sayang antara anggota keluarga. Namun, ada kalanya kebahagiaan itu diselingi dengan rasa cemas, terlebih ketika seseorang yang kita sayangi meminta untuk bersembunyi, seperti Mbak Rina yang meminta keluarga masuk lewat pintu belakang. Ini mengingatkanku pada pengalaman menghadapi situasi tak terduga dalam keluarga yang menuntut pengertian dan kesiapan mental. Selain itu, aku juga merasakan bahwa anak kedua sering kali menutupi perasaannya dengan senyum dan kata "baik-baik saja," padahal mereka juga membutuhkan dukungan emosional. Seperti dalam kalimat OCR, "Anak kedua yang selalu menjadi tempat bersandar, tetapi tidak pernah memiliki tempat untuk bersandar," hal ini sangat menyentuh dan mengajak kita untuk lebih peka terhadap beban yang mungkin dipikul oleh anggota keluarga kita. Kesimpulannya, kisah ini bukan hanya tentang sebuah acara tunangan, tetapi lebih dalam lagi tentang ikatan keluarga, pengorbanan, dan harapan. Untuk yang sedang menjalani peran serupa, jangan lupa jaga kesehatan mental dan berikan waktu untuk diri sendiri, karena menjadi tulang punggung keluarga membutuhkan energi yang besar dan ketulusan hati.

