“Abi tidak mau Ummi, Abi masih sangat mencintai Ummi, maafkan Abi Ummi, Abi janji akan berlaku adil! Abi janji Ummi! Percaya sama Abi!” jawab Ardian.
Kalisa melengos. Fakta, bahwa ia mengetahui rahasia keluarga Ardian sudah cukup meyakinkan bahwa ada kemungkinan, kejadian seperti ini akan terjadi lagi.
“Ummi ...” Ardian memohon, ia berusaha me-me-luk pak-sa istrinya.
“Lepaskan! Lepaskan Ummi, Abi!” Kalisa mem-be-ron-tak, tetapi Ardian tidak mendengarkan.
“Abi tidak akan melepaskan Ummi, sampai Ummi mau memaafkan Abi!” seru Ardian semakin me-nge-rat-kan pe-lu-kan-nya.
Kalisa merasa tertekan, pe-lu-kan suaminya yang biasanya sangat ia nanti dan nik-ma-ti. Pe-lu-kan yang selalu bisa meng-ha-ngat-kan hatinya, sekarang terasa bagaikan sik-sa-an. Tu-buh-nya menolak dengan keras setiap sen-tuh-an Ardian.
“Lepas Abi!” pekik Kalisa. “Terserah Abi!Terserah Abi mau gimana! Ummi tidak peduli!” teriaknya nyaring.
Ardian melonggarkan pe-luk-an-nya, Kalisa menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri dan menjauh dari Ardian.
“Ummi sudah tidak peduli! Kalau Abi, tidak mau mengakhiri hubungan Abi, terserah! Tapi, jangan pernah bawa wanita itu ke rumah ini! Jangan pernah!” an-cam Kalisa, wajahnya me-me-rah menahan amarah.
“Tentu saja Ummi! Percaya sama Abi!” jawab Ardian dengan penuh keyakinan.
***
Begitulah akhirnya, hari demi hari berganti, tanpa terasa sudah memasuki minggu di mana Kalisa akan me-la-hir-kan.
“Tidak bisakah Abi menunggu setelah Ummi me-la-hir-kan, baru mengunjungi wanita itu lagi,” ucap Kalisa.
Sabtu malam adalah waktu di mana Ardian mengunjungi Aisyah, sepulang kerja ia akan segera bersiap untuk berangkat lalu sore harinya akan kembali pulang.
“Tidak bisa Ummi, Abi harus adil,” jawab Ardian sembari menyemprotkan parfum di sekujur tubuhnya.
Kalisa menutup hidung, wangi parfum Ardian menu-suk hidung hingga hatinya. “Masalahnya, Ummi sudah mendekati waktu mela-hirkan, bagaimana kalau saat Abi di sana, Ummi tiba-tiba mela-hirkan?”
“Kasihan Aisyah Ummi, ia hanya sehari semalam bersama Abi. Lagian, menurut perkiraan dokter masih ada beberapa hari lagi, kan?” Ardian berbalik, penampilannya sudah seperti a-nak muda yang hendak berken-can.
Kalisa tersenyum tipis, ia sudah tahu jawabannya, tapi bersikeras ingin bertanya. Hati kecilnya masih berharap Ardian akan mengerti perasaannya.
Sepertinya kenangan sepuluh tahun mereka bersama sudah terganti dengan momen kebersamaan Ardian dan istri barunya. Kalisa sadar, posisinya sudah tergeser.
“Apa wanita itu sangat cantik?” Suara Kalisa terdengar getir.
“Ummi lebih cantik,” jawab Ardian. Ia mengecup kening Kalisa. “Percayalah, Abi lebih mencintai Ummi dari pada dia,” imbuhnya lagi.
Ketika Ardian berbalik, Kalisa segera menghapus bekas bi-bir Ardian di keningnya. Sudah tidak ada rasa lagi buat ayah dari an-ak-an-aknya itu.
“Abi, pergi dulu Ummi,” pamit Ardian.
Kalisa hanya bisa memandangi Ardian dari tempatnya duduk. Mungkin, Ardian tidak sadar, wajahnya yang selalu sumringah, bi-birnya yang tak henti mengulas senyum, selayaknya a-nak muda yang hendak berkencan di malam minggu, a-nak muda yang sedang kasmaran. Kalisa teringat masa ia masih berpa-caran dengan Ardian, persis seperti itu.
"Apanya yang lebih mencintai aku, cih!" sungut Kalisa.
Kalisa menghempaskan tu-buh-nya di kasur, dia sudah mulai terbiasa tidur sendiri di kamar sebesar ini, semua nampak biasa saja, hanya terasa lebih dingin dari biasanya.
Sebenarnya, ia sangat penasaran dengan wajah istri kedua suaminya. Berulang kali, ia menjelajah sosmed suaminya, namun tidak menemukan petunjuk apapun. Ia juga pernah diam-diam mencoba mengecek ponsel Ardian, tidak ada gambar, foto maupun pesan mes-ra layaknya pasangan yang sedang jatuh cinta.
Lalu, apa yang membuat suaminya begitu bahagia, saat akan mengunjungi wanita itu?
Apakah ia begitu cantik?
Apakah pelayanannya begitu memu-askan?
Apa?
*bersambung*
Baca selengkapnya hanya di aplikasi KBM.
Judul : Tiga Istri Satu Suami
Penulis : hayati_rakatanur

























